Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK orang memulai hari dengan secangkir kopi atau teh untuk meningkatkan fokus. Namun, penelitian terbaru menunjukkan kebiasaan ini memberikan manfaat jauh lebih besar daripada sekadar pengusir kantuk. Konsumsi kopi atau teh berkafein dalam jumlah sedang terbukti dapat mendukung kesehatan otak seiring bertambahnya usia.
Penelitian kolaboratif yang dipimpin para peneliti dari Mass General Brigham, Harvard T.H. Chan School of Public Health, dan Broad Institute ini menemukan adanya hubungan kuat antara konsumsi kafein rutin dengan penurunan risiko demensia, perlambatan hilangnya ingatan, serta kemampuan berpikir yang lebih baik.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA ini bukan penelitian singkat. Tim peneliti menggunakan data dari dua studi jangka panjang di Amerika Serikat, Nurses’ Health Study (sejak 1976) dan Health Professionals Follow Up Study (sejak 1986).
Dengan melibatkan total 131.821 orang dewasa selama kurun waktu hingga 43 tahun, para ilmuwan dapat mengamati secara mendalam bagaimana gaya hidup memengaruhi kesehatan otak dalam jangka panjang.
Selain kafein, kopi dan teh mengandung senyawa tanaman yang disebut polifenol. Senyawa ini berperan dalam mengurangi peradangan dan melindungi sel-sel otak dari kerusakan. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang hasilnya sering tumpang tindih, studi kali ini berhasil memisahkan dampak antara minuman berkafein dan non-kafein (decaf).
Hasilnya menunjukkan kopi tanpa kafein (decaf) tidak memberikan efek pelindungan yang sama. Hal ini mempertegas kafein memegang peranan kunci dalam melindungi fungsi otak.
Dari total peserta, sebanyak 11.033 orang mengembangkan demensia selama masa studi. Namun, ditemukan pola yang jelas pada mereka yang rutin mengonsumsi kafein:
Dr. Daniel Wang, penulis senior studi dari Harvard Medical School, menyatakan kemudahan akses masyarakat terhadap kopi menjadikannya alat intervensi diet yang menjanjikan.
"Meskipun hasil kami membesarkan hati, penting untuk diingat bahwa ukuran efeknya kecil dan ada banyak cara penting lainnya untuk melindungi fungsi kognitif seiring bertambahnya usia. Studi kami menunjukkan bahwa konsumsi kopi atau teh berkafein dapat menjadi salah satu bagian dari teka-teki tersebut," ujar Dr. Wang.
Studi ini juga menemukan manfaat pelindungan dari kopi dan teh tetap berlaku terlepas dari tingkat risiko genetik seseorang terhadap demensia.
"Kami juga membandingkan orang-orang dengan predisposisi genetik yang berbeda untuk mengembangkan demensia dan melihat hasil yang sama, artinya kopi atau kafein kemungkinan besar bermanfaat bagi orang-orang dengan risiko genetik demensia yang tinggi maupun rendah," tambah Yu Zhang, penulis utama studi tersebut.
Meski demikian, para peneliti menegaskan kopi dan teh bukanlah "obat ajaib" tunggal untuk mencegah demensia. Kesehatan otak tetap bergantung pada kombinasi gaya hidup sehat, termasuk pola makan seimbang, aktivitas fisik, tidur yang cukup, dan kehidupan sosial yang aktif. (Earth/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved