Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Pola Hidup Bersih dan Sehat bisa Cegah Penularan Virus Nipah

Agus Utantoro
06/2/2026 22:45
Pola Hidup Bersih dan Sehat bisa Cegah Penularan Virus Nipah
Pengelola Bandara Bali bersama dengan instansi terkait melakukan pengawasan secara ketat dan menyeluruh terhadap penumpang yang tiba di Bali dengan memasang sejumlah alat thermal scanner di area kedatangan internasional dan domestik guna mencegah penularan(ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

VIRUS Nipah dilaporkan meluas menjangkiti warga India. Penularan virus yang cukup mematikan ini memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan banyak negara termasuk Indonesia. Guna menghadang agar virus ini tidak masuk Indonesia, Pemerintah memperkuat pengawasan dan pencegahan penularan virus Nipah dengan memperketat pemantauan pelaku perjalanan luar negeri, selain pengawasan pada alat angkut dan barang dari luar negeri di pelabuhan.

Virus Nipah merupakan virus yang ditularkan melalui kelelawar buah. Infeksi virus Nipah umumnya ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui hewan perantara yang terinfeksi, seperti babi dan kuda.

Penyakit ini juga dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat dengan penderita. Penyakit ini dianggap berbahaya karena dapat menyebabkan penyakit berat pada manusia, mulai dari radang otak hingga gangguan pernapasan serius.

Terkait dengan zoonosis penyakit Nipah, dosen mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, drh. M. Th. Khrisdiana Putri, M.P., Ph.D., menjelaskan penyebaran virus ini pada hewan seperti babi dan kuda kerap menunjukkan gejala pernapasan hingga gangguan saraf, bahkan dapat berujung fatal.

“Kalau pada manusia, dampaknya memang lebih fatal karena biasanya kematian terjadi akibat ensefalitis atau radang otak,” ujarnya, Jumat (6/2).

Dikatakan virus Nipah bersifat musiman (seasonal). Karenanya, kondisi ini juga dipengaruhi oleh faktor stres atau kelaparan pada kelelawar. Ia mencontohkan ketika sumber pakan alami, seperti nira di habitat hutan, berkurang, maka risiko penularan dapat meningkat karena virus menjadi lebih aktif.

Ia menegaskan pemerintah telah melakukan langkah pengamanan melalui regulasi, salah satunya dengan melarang peternakan babi berada dekat dengan perkebunan nira. Menurutnya, kebijakan ini menjadi langkah awal dalam pencegahan. “Dengan adanya peraturan tersebut, penataan peternakan diharapkan dapat lebih mendukung pencegahan penularan dari kelelawar ke babi,” ujarnya.

Hati-hati Mengoksumsi Nira Segar

Ia kemudian juga menyoroti kebiasaan konsumsi nira segar yang diminum langsung tanpa proses pengolahan. Menurutnya, nira sebaiknya melalui perlakuan terlebih dahulu, seperti pasteurisasi atau pemanasan, dan tidak dikonsumsi secara langsung.

“Di sektor peternakan, kesadaran menjaga jarak kandang dari kebun nira serta penerapan desinfeksi kandang menjadi hal penting,” ujarnya.

Khrisdiana menyebutkan bahwa virus Nipah tergolong lemah atau mudah rusak di lingkungan. Virus ini, katanya tidak mampu bertahan lama di luar inang sehingga penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi langkah pencegahan yang efektif.

“Menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan, mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar, dan menjaga keseimbangan dengan alam adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Pada akhirnya, dampaknya akan kembali kepada manusia sendiri,” tutupnya.

Meski virus ini berkembang dan menular antar sesama hewan, virus ini juga berpotensi menyebar ke manusia, Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH UGM, drh. Heru Susetya, M.P., Ph.D., menambahkan secara epidemiologis, kelelawar diketahui sebagai reservoir virus Nipah. Oleh karena itu, perhatian terhadap wabah ini sebagai penyakit zoonosis menjadi sangat penting dan perlu dicermati secara serius.

“Kekhawatiran kami dari sisi penyakit adalah kemungkinan terjadinya penularan antarmanusia, dan itu sudah terjadi, sudah ada buktinya,” ungkapnya.

dikatakan, sejarah kemunculan virus Nipah yang pertama kali terdeteksi di wilayah Nipah, Malaysia. Pola penularan awalnya terjadi dari kelelawar ke babi, kemudian dari babi ke manusia, yang disebut sebagai pola klasik.

Namun, pada kasus di Bangladesh dan India, penularan dilaporkan terjadi langsung dari kelelawar ke manusia. Menurut Heru, hal ini dipengaruhi faktor lain, seperti konsumsi nira yang tidak ditangani dengan baik.

“Selain itu, ada juga penularan dari manusia ke manusia. Itulah yang menjadi kekhawatiran kami dari segi penyakit,” jelasnya.

Di Indonesia sendiri, kata Heru seharusnya sudah tersedia sistem peringatan dini (early warning system) terhadap berbagai penyakit zoonosis, termasuk Nipah. Sistem ini penting agar setiap temuan gejala dapat segera dilaporkan dan ditindaklanjuti.

“Itulah mengapa Nipah menjadi perhatian pemerintah. Harapannya, siapa pun yang mengetahui gejalanya dapat segera melaporkan. Peringatan dini menjadi kunci utama,” tegasnya.

Dikatakan solusi bukan dengan menyalahkan atau memusnahkan kelelawar, melainkan menghindari kontak dan meningkatkan kewaspadaan sejak dini. Misalnya, dengan segera melaporkan jika terdapat babi yang menunjukkan gejala klinis tidak biasa.

“Upaya ini diharapkan mampu mencegah penularan lebih lanjut, meskipun tetap bergantung pada pola penyebaran virus,” katanya. (AU)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya