Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Terungkap! Kuburan Massal Pertama Pandemi Tertua di Dunia Ditemukan di Yordania

Thalatie K Yani
01/2/2026 11:44
Terungkap! Kuburan Massal Pertama Pandemi Tertua di Dunia Ditemukan di Yordania
Para peneliti mengatakan temuan mereka menawarkan wawasan langka tentang kehidupan perkotaan, mobilitas, dan kerentanan warga yang terkena dampak wabah Justinian.(Karen Hendrix/Universitas Sydney)

TIM peneliti internasional yang dipimpin pakar dari Amerika Serikat berhasil memverifikasi situs kuburan massal pertama di wilayah Mediterania yang terkait dengan pandemi tertua dalam catatan sejarah. Penemuan ini mengungkap detail kelam mengenai Plak Justinian, wabah mematikan yang menewaskan jutaan orang di Kekaisaran Bizantium antara abad ke-6 hingga ke-8.

Temuan yang diterbitkan dalam Journal of Archaeological Science edisi Februari ini memberikan jendela empiris yang langka mengenai kehidupan kota, mobilitas warga, dan kerentanan masyarakat saat menghadapi pes (sampar) di masa lalu.

Satu Peristiwa Kematian Massal

Berdasarkan analisis DNA pada sisa-sisa jenazah di situs Jerash, Yordania, para peneliti menyimpulkan lokasi tersebut merupakan "peristiwa penguburan tunggal". Berbeda dengan pemakaman tradisional yang tumbuh secara bertahap seiring waktu, situs ini adalah hasil dari krisis kesehatan mendadak yang disebabkan oleh mikroba Yersinia pestis.

"Cerita-cerita sebelumnya telah mengidentifikasi organisme plak tersebut. Situs Jerash mengubah sinyal genetik itu menjadi kisah manusia tentang siapa yang meninggal, dan bagaimana sebuah kota mengalami krisis," kata Rays Jiang, penulis utama studi dan profesor di University of South Florida.

Menurut Jiang, pandemi bukan sekadar peristiwa biologis, melainkan peristiwa sosial. Dengan menghubungkan bukti biologis dari tubuh korban ke latar arkeologi, peneliti dapat melihat bagaimana penyakit memengaruhi manusia dalam konteks sosial dan lingkungan mereka.

Populasi yang Terjebak Krisis

Jerash, yang dikenal sebagai "Pompeii dari Timur Tengah", dulunya merupakan pusat perdagangan regional sekaligus episentrum pandemi yang mengamuk dari tahun 541 hingga 750 Masehi. Penggalian di area hippodrome (gelanggang pacuan) Jerash mengungkap lebih dari 200 kerangka yang terdiri dari pria, wanita, lansia, hingga remaja.

Data genetik menunjukkan keragaman demografis yang tinggi. Jiang menjelaskan populasi yang sangat mobile, akhirnya terjebak di tempat yang sama akibat penyakit tersebut. Sebuah pola yang mirip dengan penutupan perjalanan saat pandemi Covid-19.

"Orang-orang bergerak. Mereka berpindah-pindah, rentan, dan biasanya mereka terpencar. Di sini, mereka dipersatukan oleh krisis," tambah Jiang.

Menjawab Para Penyangkal Pandemi

Penelitian ini juga menjadi bukti kuat bagi kelompok yang menyangkal keberadaan pandemi pertama ini. Beberapa kalangan berpendapat bahwa Plak Justinian tidak pernah terjadi karena data sensus dan ekonomi saat itu tidak menunjukkan keruntuhan total layaknya wabah Black Death.

Namun, penemuan kuburan massal ini menjadi bukti fisik yang tak terbantahkan. Jiang menegaskan bahwa sebuah penyakit bisa mengamuk hebat tanpa harus menyebabkan revolusi atau pergantian rezim untuk membuktikan keberadaannya.

"Kita memiliki Yersinia pestis sebagai mikrobanya; kita memiliki kuburan massal, dan tubuh-tubuh, bukti kuat bahwa itu benar-benar terjadi," pungkasnya. (The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya