Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Keamanan Emosional, Kunci Tersembunyi di Balik Keberhasilan Belajar Anak

Basuki Eka Purnama
28/1/2026 09:03
Keamanan Emosional, Kunci Tersembunyi di Balik Keberhasilan Belajar Anak
Ilustrasi(Freepik)

DI tengah tekanan akademik yang kian meningkat, perhatian sekolah dan orangtua kerap tersita oleh angka di atas kertas. Nilai, peringkat, dan target capaian belajar seolah menjadi tolok ukur tunggal keberhasilan. Namun, di balik pengejaran prestasi tersebut, terdapat satu aspek mendasar yang sering terabaikan: keamanan dan kenyamanan emosional anak.

Psikolog anak, Anastasia Satriyo, menegaskan bahwa kondisi emosional adalah faktor penentu utama kemampuan anak dalam menyerap pelajaran. 

Menurutnya, otak anak tidak akan bekerja optimal ketika mereka berada dalam situasi tertekan atau merasa terancam secara emosional. 

Hal itu menjelaskan mengapa banyak anak yang secara intelektual mampu, namun terlihat sulit fokus, mudah cemas, hingga kehilangan motivasi.

"Rasa aman muncul ketika anak merasa diterima, tidak dihakimi, dan tidak hidup dalam ketakutan. Dalam kondisi tersebut, otak berada pada fase siap belajar, sehingga fungsi berpikir, memahami, dan memecahkan masalah dapat berjalan dengan baik. Anak pun lebih rileks, berani mencoba hal baru, dan tidak takut melakukan kesalahan sebagai bagian dari proses belajar," jelas Anastasia.

Mode Bertahan Hidup

Sebaliknya, tekanan psikologis, seperti rasa takut dimarahi, takut salah, atau perasaan dibanding-bandingkan, memicu otak untuk beralih ke "mode bertahan hidup". 

Dalam fase ini, perilaku yang kerap dianggap sebagai bentuk kemalasan atau pembangkangan sebenarnya adalah mekanisme perlindungan diri.

Anastasia menekankan bahwa belajar bukan sekadar transfer materi, melainkan proses yang bersifat relasional. Anak akan selalu bertanya-tanya apakah lingkungan mereka cukup aman untuk tempat mereka tumbuh. Masalah muncul ketika sistem pendidikan terlalu menitikberatkan pada hasil akhir tanpa memedulikan kesehatan mental siswa.

"Akibatnya, anak lebih fokus mengejar hasil akhir dibanding memahami proses belajar itu sendiri," tuturnya.

Dampak Jangka Panjang

Jika kondisi ini dibiarkan, dampaknya bisa bersifat permanen. Anak yang terus-menerus merasa gagal di bawah tekanan berisiko melabeli dirinya sebagai sosok yang "bermasalah". 

Padahal, bisa jadi hambatan tersebut muncul karena gaya belajar mereka tidak sejalan dengan sistem yang kaku. Kelelahan mental dan hilangnya rasa ingin tahu adalah ancaman nyata yang dapat mematikan potensi diri anak di masa depan.

Sebagai solusi, Anastasia menawarkan pendekatan pembelajaran reflektif. Melalui metode ini, anak diajak memahami bahwa identitas mereka jauh lebih berharga daripada sekadar angka di rapor. 

Refleksi membantu anak mengenali kekuatan, menerima keterbatasan, dan menyadari bahwa kegagalan adalah bagian alami dari perkembangan.

Pada akhirnya, pendidikan yang berkelanjutan dan manusiawi adalah yang mampu menanamkan pola pikir bahwa seorang anak adalah proses yang terus berkembang, bukan sekadar hasil akhir yang statis. (Z-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya