Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH laporan terbaru dari Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat (NIH) mengungkapkan tren yang mengkhawatirkan: semakin banyak orangtua yang menolak pemberian suntik vitamin K untuk bayi mereka yang baru lahir. Meskipun prosedur ini telah direkomendasikan sejak 1960-an untuk mencegah pendarahan fatal, angka penolakan melonjak hingga 77% dalam delapan tahun terakhir.
Berdasarkan data dari 5 juta bayi di 403 rumah sakit di seluruh Amerika Serikat, persentase orangtua yang memilih keluar (opt out) dari prosedur ini meningkat dari 2,92% pada 2017 menjadi 5,18% pada 2024.
Dr. Charles Hannum, dokter spesialis anak di Tufts Medical Center, menyebutkan misinformasi daring menjadi salah satu pemicu utama. Banyak orangtua tidak memahami manfaat vitamin K atau memiliki kekhawatiran berlebih mengenai efek samping yang tidak terbukti.
Senada dengan hal tersebut, Dr. Candice Foy dari Stony Brook Children's Hospital melihat adanya ketidakpercayaan yang meluas terhadap dunia medis.
“Saya khawatir sebagian besar hal ini berkaitan dengan meningkatnya ketidakpercayaan terhadap medis dan misinformasi yang disebarkan di media sosial,” ujar Dr. Foy. “Banyak orang di media sosial tampil dengan sangat percaya diri sehingga orang awam mungkin tidak menyadari bahwa mereka tidak memiliki kredibilitas dan pengalaman yang memadai.”
Bayi lahir dengan kadar vitamin K yang sangat rendah dalam tubuh mereka. Padahal, nutrisi ini sangat krusial untuk membantu pembekuan darah. Tanpa vitamin K yang cukup, bayi berisiko mengalami pendarahan internal yang spontan.
Sayangnya, vitamin K tidak bisa didapatkan secara maksimal hanya melalui ASI, susu formula, maupun suplemen tetes. Dr. Hannum menjelaskan usus bayi masih terlalu muda untuk memproduksi vitamin K sendiri dalam jumlah yang cukup.
Risiko dari kekurangan vitamin K ini bisa sangat fatal. Menurut Dr. Foy, dampaknya bisa berkisar dari memar ringan hingga pendarahan hebat di otak dan usus. Kondisi ini dapat menyebabkan kematian, cerebral palsy, hingga gangguan perkembangan otak yang menetap.
Beberapa orang tua ragu karena mengaitkan suntikan ini dengan studi tahun 1990-an yang menyebutkan adanya potensi risiko kanker pada anak. Namun, Dr. Foy menegaskan studi tersebut berskala sangat kecil. Berbagai penelitian lanjutan yang jauh lebih besar telah dilakukan dan tidak ada satu pun yang menemukan keterkaitan tersebut.
Penting bagi orangtua untuk memahami vitamin K bukanlah vaksin. Vitamin ini ialah asupan vitamin esensial yang diberikan sekali untuk perlindungan selama berbulan-bulan.
Dr. Foy mendesak para calon orang tua untuk mendiskusikan hal ini dengan dokter jauh sebelum hari persalinan tiba. Menunggu hingga gejala muncul adalah tindakan yang sangat berisiko.
“Saat pendarahan akibat defisiensi vitamin K dikenali dan bayi dibawa ke rumah sakit, sering kali sudah terlambat untuk melakukan apa pun guna memperbaiki kerusakan yang terjadi,” tutup Dr. Foy. (Parents/Z-2)
Peneliti Jepang menemukan turunan vitamin K yang tiga kali lebih kuat dari bentuk alaminya dalam menumbuhkan neuron otak.
Bukan hanya bermanfaat bagi kesehatan tulang saja, ternyata Vitamin K juga sangat memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan tubuh lainnya.
Vitamin K adalah nutrisi esensial yang berperan dalam pembekuan darah, menjaga kepadatan tulang, serta melindungi kesehatan jantung.
Segala sesuatu diatur oleh waktu, begitupun dengan meminum sebuah vitamin. Dengan meminumnya secara teratur sesuai waktu tubuh akan mendapatkan hasil yang optimal.
Manfaatnya seperti untuk pembekuan darah yang optimal dan pencegahan pendarahan yang berlebihan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved