Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI banyak pejuang buah hati, menjalani program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF) adalah perjalanan emosional yang tak terlupakan. Salah satu momen yang paling ditakuti bukanlah prosedurnya, melainkan rutinitas suntikan hormon harian yang harus dilakukan secara mandiri. Bayangan jarum panjang yang harus menembus perut atau bokong setiap hari sering kali menjadi beban mental tersendiri.
Namun, masa depan IVF mungkin tidak lagi identik dengan jarum suntik. Para peneliti di McGill University baru saja merilis laporan mengenai metode pengiriman obat melalui plester tanpa rasa sakit. Inovasi ini menjanjikan proses yang jauh lebih tenang karena sistemnya yang sepenuhnya otomatis.
Teknologi ini menggunakan plester yang dilengkapi dengan jarum mikroskopis (microneedles). Penulis utama studi pembuktian konsep ini, Vivienne Tam, PhD, menjelaskan bahwa jarum-jarum ini sangat pendek sehingga tidak akan mencapai reseptor rasa sakit di tubuh.
"Pengiriman obat tersebut nantinya tidak akan menimbulkan rasa sakit," ujar Dr. Tam.
Keunggulan lain dari teknologi ini adalah sistem otomatisasinya. Plester ini diaktifkan oleh cahaya; hormon IVF akan dilepaskan saat plester terpapar cahaya inframerah dekat (near-infrared). Para peneliti membayangkan sebuah lampu LED kecil akan ditempelkan di atas plester dan menyala pada interval waktu yang telah ditentukan untuk menyuntikkan obat secara presisi.
Otomatisasi ini bertujuan meminimalisir kesalahan manusia (human error) yang sering terjadi saat pasien harus menjadi "perawat" bagi diri mereka sendiri di rumah. Selain itu, masalah memar akibat suntikan harian yang kerap dikeluhkan pasien bisa teratasi.
Dr. Hadi Ramadan, spesialis endokrinologi reproduksi di Boston IVF, menambahkan kenyamanan adalah manfaat utama. "Pasien tidak perlu lagi bepergian membawa obat suntik atau membawanya saat sedang keluar rumah," jelasnya.
Dari sisi psikologis, kemudahan ini sangat krusial. Dr. Rachel Mandelbaum, spesialis fertilitas dari HRC Fertility, menyebutkan bahwa beban emosional sering kali menjadi alasan utama pasien menghentikan perawatan. Fokus pada kenyamanan pasien diyakini dapat meningkatkan peluang keberhasilan program secara keseluruhan.
Meski menjanjikan, teknologi revolusioner ini diperkirakan baru bisa digunakan secara luas dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Saat ini, penelitian masih dalam tahap pra-klinis pada tikus, dan uji coba pada manusia serta regulasi medis membutuhkan waktu yang cukup lama.
Ada beberapa tantangan teknis yang harus diselesaikan, seperti memastikan dosis obat yang terserap melalui jarum pendek ini cukup stabil bagi berbagai jenis kulit dan komposisi tubuh. Selain itu, teknologi plester ini saat ini hanya dirancang untuk fase stimulasi ovarium, bukan untuk fase pasca-transfer embrio yang membutuhkan injeksi hormon ke dalam otot.
Meskipun masih dalam tahap awal, inovasi ini memberikan harapan besar bagi para calon orang tua di masa depan untuk menjalani program bayi tabung dengan lebih nyaman, minim stres, dan bebas dari rasa takut akan jarum suntik. (Parents/Z-2)
Peneliti ciptakan replika lapisan rahim untuk pelajari proses implantasi embrio. Terobosan ini diharapkan mampu menekan angka keguguran dan meningkatkan sukses IVF.
TIDAK ada perjalanan yang sama bagi setiap pasangan dalam meraih kehamilan. Ada yang berjalan mulus, tetapi banyak pula yang harus menghadapi proses panjang, penuh harapan dan air mata.
Studi terbaru ungkap lebih dari 17 juta bayi lahir dari fertilisasi in vitro (IVF) sejak 1978.
Gaya hidup sehat dari calon ayah penting demi menjaga kualitas sperma yang menjadi faktor utama dalam keberhasilan pembuahan.
Sejak berdiri pada September 2023, Benih IVF Center telah melayani lebih dari 2.000 pasien dengan tingkat keberhasilan kehamilan di atas rata-rata nasional.
Thaddeus Daniel Pierce lahir dari embrio beku sejak 1994, menjadikannya bayi tertua dari embrio yang berhasil dilahirkan. Inilah kisah di baliknya.
Ilmuwan berhasil mengembangkan detektor gamma berbasis perovskite yang menghasilkan pemindaian medis lebih tajam, cepat, aman, dan murah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved