Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH penelitian terbaru memunculkan hipotesis medis yang tak terduga. Apakah kondisi buta warna dapat menurunkan peluang seseorang untuk bertahan hidup dari kanker kandung kemih? Studi yang diterbitkan pada 15 Januari di jurnal Nature Health menunjukkan adanya korelasi antara gangguan penglihatan warna dengan keterlambatan diagnosis kanker yang mematikan.
Para peneliti menganalisis data dari 135 pasien yang menderita kanker kandung kemih sekaligus buta warna, kemudian membandingkannya dengan 135 pasien yang hanya mengidap kanker kandung kemih. Data ini diambil dari TriNetX, sebuah registri catatan kesehatan elektronik internasional yang mencakup lebih dari 275 juta pasien.
Hasil penelitian menunjukkan pasien dengan kombinasi buta warna dan kanker kandung kemih memiliki masa bertahan hidup yang lebih pendek. Secara keseluruhan, mereka yang memiliki gangguan penglihatan warna memiliki risiko kematian 52% lebih tinggi dalam kurun waktu 20 tahun setelah didiagnosis, dibandingkan dengan kelompok pasien bervisi normal.
Alasan di balik fenomena ini diduga berkaitan dengan deteksi gejala. Buta warna, khususnya kesulitan membedakan warna merah dan kuning, membuat penderita sulit menyadari adanya darah dalam urine (hematuria). Salah satu tanda awal paling kritis dari kanker kandung kemih.
"Kanker kandung kemih adalah penyakit yang buruk. Jika Anda menunda diagnosis, hal itu akan berdampak pada prognosis (peluang kesembuhan) Anda," ujar Dr. Veeru Kasivisvanathan, ahli onkologi urologi dari University College London yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.
Darah dalam urine merupakan gejala awal yang paling umum, selain sering buang air kecil, nyeri saat berkemih, hingga rasa ingin buang air kecil terus-menerus. Dr. Kasivisvanathan menekankan pentingnya segera menemui dokter jika melihat perubahan warna pada urine. Namun, bagi penderita buta warna, peringatan dini ini sering kali terlewatkan secara kasatmata.
Meski demikian, para ahli meminta masyarakat untuk menyikapi hasil studi ini dengan hati-hati. Mengingat jumlah sampel yang kecil, penelitian ini masih bersifat hipotesis dan belum bisa membuktikan hubungan sebab-akibat secara absolut.
"Penulis membingkai ini sebagai karya penghasil hipotesis," kata Shang-ming Zhou, Profesor E-Health di University of Plymouth. "Bukti saat ini belum cukup untuk merekomendasikan skrining kanker rutin bagi pasien buta warna, dan peningkatan risiko absolutnya masih belum jelas."
Ke depannya, para ahli menyarankan agar pasien yang memiliki faktor risiko tinggi kanker kandung kemih, seperti pria di atas 50 tahun, perokok, atau pengguna pengencer darah, yang juga menderita buta warna, diberikan edukasi tambahan. Salah satu solusinya adalah dengan menggunakan alat bantu lain seperti strip tes urine untuk mendeteksi darah secara kimiawi, bukan sekadar mengandalkan penglihatan mata telanjang. (Live Science/Z-2)
Uji klinis tahap 2 menunjukkan implan TAR-200 mampu menghilangkan tumor pada 82% pasien kanker kandung kemih berisiko tinggi.
DOKTER Spesialis Penyakit dalam sekaligus Konsultan Hematologi-Onkologi Medik mengatakan deteksi dini kanker kandung kemih sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved