Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Pakar Jantung Kritik Pedoman Diet Baru AS, Mempromosikan Lemak Jenuh Melawan Sains

Thalatie K Yani
21/1/2026 08:18
Pakar Jantung Kritik Pedoman Diet Baru AS, Mempromosikan Lemak Jenuh Melawan Sains
Ilustrasi(freepik)

DUNIA medis Amerika Serikat tengah diguncang oleh rilis Pedoman Diet 2025-2030 yang baru saja diterbitkan. Pedoman ini secara radikal mengubah "piramida makanan" tradisional dengan menempatkan daging merah dan lemak jenuh di posisi puncak yang setara dengan buah dan sayuran. Langkah ini pun memicu kritik tajam dari para ahli kardiologi terkemuka.

Penyakit jantung telah menjadi pembunuh nomor satu di Amerika Serikat selama lebih dari satu abad, menyumbang satu dari tiga kematian di seluruh dunia. Selama puluhan tahun, konsensus medis menyatakan bahwa diet tinggi lemak jenuh dari daging merah dan produk susu berlemak adalah penyebab utama penyumbatan arteri.

Piramida yang Terbalik

Meski pedoman baru ini membatasi gula tambahan dan makanan ultra-proses (UPF), penempatan daging merah sebagai "bintang utama" dianggap sebagai kemunduran besar.

"Mempromosikan lemak jenuh dan meningkatkan jumlah protein bertentangan dengan semua ilmu nutrisi dan kardiologi," tegas Dr. Kim Williams, Ketua Departemen Kedokteran di Universitas Louisville.

Ia menambahkan penelitian selama puluhan tahun telah membuktikan hubungan erat antara lemak jenuh seperti lemak sapi (beef tallow) dengan peningkatan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular. "Ini tidak sejalan dengan perintah eksekutif Presiden Trump yang mengamanatkan penggunaan bukti ilmiah terbaik yang tersedia," lanjutnya.

Tantangan Batas Lemak Jenuh

Gerakan Make America Healthy Again (MAHA) yang diusung pemerintahan Trump menekankan konsumsi protein yang lebih tinggi. Namun, para ahli menilai target ini mustahil tercapai tanpa melanggar batas aman lemak jenuh.

Analisis dari Harvard T.H. Chan School of Public Health menunjukkan betapa sulitnya menjaga batas lemak jenuh di bawah 10% jika mengikuti pedoman baru ini. Sebagai contoh, mengonsumsi tiga porsi produk susu tinggi lemak saja sudah menghabiskan hampir seluruh kuota lemak jenuh harian seseorang. Jika ditambah dengan mentega atau satu porsi burger, kadar lemak berbahaya dalam tubuh akan melonjak drastis.

Komisioner FDA, Dr. Marty Makary, membela perubahan ini dengan menyebut pedoman lama telah "mengabaikan titik buta besar" seperti karbohidrat olahan dan gula. Ia mengklaim peningkatan protein hingga 100% diperlukan agar anak-anak Amerika dapat berkembang pesat.

Risiko Jangka Panjang

Para ahli kardiologi tetap bersikukuh bahwa lemak trans alami yang ditemukan dalam daging sapi dan domba bersifat pro-inflamasi yang menyebabkan pengerasan pembuluh darah.

"Defisiensi protein hampir tidak ada di Amerika Serikat. Sebaliknya, kelebihan protein justru membebani ginjal dan terkait dengan kanker tertentu," ujar Dr. Andrew Freeman, Direktur Pencegahan Kardiovaskular di National Jewish Health.

Kini, para ahli medis khawatir masyarakat akan salah menangkap pesan dari piramida baru ini dan mulai mengonsumsi daging merah secara berlebihan. Di tengah populernya tren "lemak sapi kembali sehat" di media sosial, para dokter mengingatkan bahwa sains tetap menunjukkan diet ala Mediterani tetap menjadi standar emas untuk kesehatan jantung dan umur panjang. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya