Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Alarm Bahaya Penambangan Air Tanah: Pulau Jawa Terancam Ambles Permanen

Basuki Eka Purnama
20/1/2026 11:55
Alarm Bahaya Penambangan Air Tanah: Pulau Jawa Terancam Ambles Permanen
Ilustrasi(Freepik)

TREN penurunan permukaan tanah (land subsidence) di Pulau Jawa kini berada pada level yang mengkhawatirkan. Masifnya penggunaan sumur bor akibat lonjakan populasi dan aktivitas ekonomi telah memberikan tekanan berat pada lapisan akuifer, yang jika dibiarkan, dapat memicu kerusakan infrastruktur dan bencana lingkungan permanen.

Pakar Teknik Irigasi dan Drainase IPB University, Prof Satyanto Krido Saptomo, menegaskan bahwa pola konsumsi air di Pulau Jawa sudah melampaui batas keberlanjutan. Ia menyoroti fenomena ini bukan lagi sekadar pemanfaatan biasa.

"Pemanfaatan air tanah di Pulau Jawa sudah berada pada level eksploitasi masif. Ini bukan lagi sekadar penggunaan, tetapi sudah masuk kategori penambangan air," tegas Prof Satyanto.

Ketimpangan Alam dan Urbanisasi

Dari perspektif sumber daya lahan, terdapat ketimpangan tajam antara kebutuhan air sektor industri dan domestik dengan kemampuan alam untuk memulihkan cadangan air tanah. Kondisi ini diperparah oleh laju urbanisasi yang tidak terkendali.

MI/HO--Pakar Teknik Irigasi dan Drainase IPB University, Prof Satyanto Krido Saptomo

Permukaan lahan yang tertutup beton dan aspal di kawasan perkotaan menyebabkan air hujan tidak lagi meresap ke dalam tanah (infiltrasi), melainkan langsung mengalir ke laut. Akibatnya, air tanah terus dikuras tanpa ada kesempatan untuk pengisian ulang secara alami.

"Kebutuhan air terus meningkat, sementara laju pengisian alami akuifer justru semakin melemah. Ketimpangan inilah yang mendorong penurunan muka air tanah secara ekstrem sekaligus degradasi kualitas air secara sistemik," ujarnya.

Mekanisme Kerusakan Permanen

Secara ilmiah, penurunan permukaan tanah terjadi saat tekanan air di dalam tanah menurun drastis akibat penyedotan berlebihan. Hal ini membuat beban tanah menjadi lebih berat dan lapisan tanah mengalami pemadatan.

Prof Satyanto menjelaskan bahwa kondisi ini menyebabkan lapisan tanah mengalami konsolidasi. 

"Tanah turun dan tidak bisa kembali ke kondisi semula," jelasnya. 

Lapisan yang paling rentan adalah lempung lunak dan tanah organik tebal yang banyak tersebar di wilayah pesisir utara Jawa. Jenis tanah ini mudah kolaps ketika air di dalamnya dikeluarkan secara paksa.

Langkah Penyelamatan

Dampak dari pembiaran fenomena ini sangat fatal, mulai dari kerusakan fondasi bangunan, intrusi air laut, hingga salinisasi tanah yang merusak daya dukung lahan.

Sebagai solusi, Prof Satyanto menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Langkah konkret yang harus segera diambil meliputi:

  • Pengetatan perizinan pengambilan air tanah.
  • Penyediaan infrastruktur air permukaan sebagai alternatif utama.
  • Penerapan rainwater harvesting (pemanenan air hujan) dan pembuatan lubang biopori.
  • Pengurangan perkerasan lahan untuk meningkatkan daya resap.

"Ini merupakan keharusan jika kita ingin menghentikan laju kerusakan ini," pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya