Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Kakapo, Burung Beo Langka Selandia Baru dengan Reproduksi Unik

N Apuan Iskandar
20/1/2026 11:35
Kakapo, Burung Beo Langka Selandia Baru dengan Reproduksi Unik
Kakapo, burung beo endemik Selandia Baru yang tak bisa terbang, terancam punah akibat siklus kawin langka dan keragaman genetik rendah. Ini penjelasan ilmiahnya.(Unsplash)

KAKAPO, burung beo endemik Selandia Baru, kembali menjadi sorotan ilmuwan dunia karena statusnya yang sangat terancam punah serta pola reproduksi yang tidak biasa. Berbeda dengan burung beo lain, kakapo tidak bisa terbang, aktif pada malam hari, dan memiliki siklus berkembang biak yang sangat jarang, rata-rata setiap empat tahun sekali. Kondisi ini menjadikan kakapo sebagai salah satu burung paling langka di dunia.

Kakapo hanya ditemukan di beberapa pulau konservasi terpencil di Selandia Baru. Data Departemen Konservasi Selandia Baru (Department of Conservation/DOC) menunjukkan jumlah kakapo saat ini berada di kisaran lebih dari 240 individu. Angka ini merupakan hasil dari program konservasi intensif yang telah berlangsung selama puluhan tahun, setelah populasi kakapo sempat turun hingga kurang dari 50 ekor pada pertengahan abad ke-20.

Salah satu faktor utama yang membuat kakapo sulit berkembang biak adalah ketergantungannya pada pohon rimu. Kakapo hanya akan kawin pada tahun-tahun tertentu ketika pohon rimu menghasilkan buah melimpah, sebuah fenomena yang dikenal sebagai mast seeding. 

Peristiwa ini biasanya terjadi setiap 2-4 tahun, sehingga kesempatan kakapo untuk bertelur menjadi sangat terbatas. Dalam satu musim kawin, betina umumnya hanya menghasilkan satu hingga empat telur.

Selain itu, kakapo memiliki usia dewasa seksual yang lambat. Burung jantan baru siap kawin pada usia sekitar lima tahun, sementara betina biasanya mulai bereproduksi pada usia enam tahun atau lebih. Kombinasi antara siklus kawin yang jarang, jumlah telur yang sedikit, serta tingkat keberhasilan menetas yang rendah membuat pertumbuhan populasi kakapo berjalan sangat lambat.

Ancaman terhadap kakapo tidak hanya berasal dari faktor biologis, tetapi juga dari gangguan manusia dan spesies invasif. Predator seperti tikus, kucing, dan musang yang diperkenalkan manusia ke Selandia Baru terbukti memangsa telur dan anakan kakapo. Untuk mengatasi hal ini, seluruh populasi kakapo kini dipindahkan ke pulau-pulau bebas predator dan dipantau menggunakan teknologi modern, termasuk pelacak radio dan pemantauan genetik.

Upaya ilmiah terbaru juga melibatkan analisis genom kakapo untuk mengurangi risiko perkawinan sedarah. Penelitian genetik menunjukkan kakapo memiliki keragaman genetik yang sangat rendah, sehingga rentan terhadap penyakit. Meski demikian, ilmuwan menilai program konservasi saat ini berhasil memperlambat laju kepunahan dan memberi harapan bagi kelangsungan hidup spesies unik ini. (Department of Conservation New Zealand/IUCN Red List of Threatened Species/Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS)/Journal Notornis/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya