Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

CytoDiffusion: AI Generatif yang Mampu Deteksi Leukemia Lebih Akurat dari Dokter

Thalatie K Yani
14/1/2026 12:32
CytoDiffusion: AI Generatif yang Mampu Deteksi Leukemia Lebih Akurat dari Dokter
Ilustrasi(freepik)

SEBUAH terobosan besar dalam dunia medis muncul melalui pengembangan sistem kecerdasan buatan (AI) generatif yang mampu menganalisis sel darah dengan tingkat akurasi dan keyakinan luar biasa. Teknologi ini diklaim mampu mendeteksi tanda-tanda halus penyakit mematikan seperti leukemia, melampaui kemampuan deteksi para pakar manusia.

Sistem yang dinamakan CytoDiffusion ini dikembangkan tim peneliti dari Universitas Cambridge, University College London (UCL), dan Queen Mary University of London. Berbeda dengan AI konvensional, sistem ini menggunakan teknologi serupa dengan generator gambar DALL-E untuk mempelajari variasi struktur sel di bawah mikroskop secara mendalam.

Melampaui Pengenalan Pola Biasa

Dalam mendiagnosa gangguan darah, mengidentifikasi perbedaan kecil pada ukuran dan bentuk sel adalah kunci utama. Namun, proses ini biasanya membutuhkan pengalaman bertahun-tahun, dan bahkan dokter ahli pun sering kali memiliki perbedaan pendapat dalam kasus yang kompleks.

"Kita semua memiliki banyak jenis sel darah yang berbeda dengan peran masing-masing. Mengetahui seperti apa bentuk sel darah yang tidak biasa atau berpenyakit di bawah mikroskop adalah bagian penting dari diagnosa," ujar Simon Deltadahl dari Departemen Matematika Terapan dan Fisika Teoretis Cambridge.

Satu apusan darah dapat berisi ribuan sel, jumlah yang mustahil diperiksa satu per satu oleh manusia secara manual. CytoDiffusion hadir untuk mengotomatisasi proses tersebut, menyortir kasus rutin, dan menyoroti sel-sel yang tidak biasa untuk ditinjau lebih lanjut oleh dokter.

Melatih AI dengan Dataset Terbesar di Dunia

Untuk membangun CytoDiffusion, para peneliti melatih sistem ini menggunakan lebih dari setengah juta gambar apusan darah dari Rumah Sakit Addenbrooke di Cambridge. Ini merupakan koleksi data terbesar di jenisnya, mencakup tipe sel darah umum hingga kasus-kasus langka yang sering membingungkan sistem otomatis lainnya.

Dalam uji coba, sistem ini menunjukkan sensitivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan model AI yang ada saat ini. Salah satu keunggulan utamanya adalah kemampuan "metakognitif", yaitu mengetahui batas pengetahuannya sendiri.

"Saat kami menguji akurasinya, sistem ini sedikit lebih baik daripada manusia. Namun, keunggulan utamanya adalah ia tahu kapan ia merasa tidak yakin," kata Deltadahl. "Model kami tidak akan pernah mengatakan ia yakin lalu ternyata salah, sesuatu yang terkadang dilakukan oleh manusia."

Mendukung, Bukan Menggantikan Dokter

Meskipun mampu menghasilkan citra sel darah sintetis yang bahkan tidak bisa dibedakan 10 ahli hematologi berpengalaman melalui 'Uji Turing', para peneliti menegaskan  AI ini tidak dirancang menggantikan peran dokter.

Profesor Parashkev Nachev dari UCL menekankan bahwa nilai sebenarnya dari AI kesehatan adalah memberikan kekuatan diagnostik yang lebih besar daripada yang bisa dicapai oleh pakar atau model statistik sederhana sendirian. Kesadaran AI akan ketidakpastiannya sendiri menjadi faktor krusial dalam pengambilan keputusan klinis.

Saat ini, tim peneliti tengah berupaya meningkatkan kecepatan sistem dan memvalidasi performanya pada populasi pasien yang lebih beragam guna memastikan akurasi dan keadilan diagnosa di masa depan. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya