Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Ilmuwan Basel Ciptakan Tes Deteksi Bakteri "Tahan Mati" Akibat Antibiotik

Thalatie K Yani
13/1/2026 13:05
Ilmuwan Basel Ciptakan Tes Deteksi Bakteri
Ilustrasi(freepik)

SELAMA ini, efektivitas antibiotik sering kali dinilai berdasarkan seberapa baik obat tersebut memperlambat atau menghentikan pertumbuhan bakteri di laboratorium. Namun, masalah besar muncul ketika infeksi kembali kambuh setelah pengobatan selesai. Hal ini terjadi karena beberapa antibiotik hanya membuat bakteri "pingsan" atau berhenti tumbuh tanpa benar-benar mematikannya.

Menjawab tantangan tersebut, para ilmuwan di Universitas Basel telah menciptakan metode pengujian baru yang mampu melacak bakteri secara individu. Terobosan ini bertujuan untuk memastikan obat mana yang benar-benar melenyapkan bakteri dari dalam tubuh manusia, bukan sekadar menekan pertumbuhannya.

Ancaman Bakteri Dorman dan Infeksi Berulang

Pembedaan antara "menghambat" dan "membunuh" menjadi krusial di tengah ancaman resistensi antibiotik global yang kian meluas. Bakteri yang tidak resisten sekalipun memiliki strategi bertahan hidup dengan memasuki fase dorman (tidur). Dalam kondisi ini, mereka berhenti berkembang biak namun tetap hidup, sehingga antibiotik sering kali gagal membasmi mereka. Begitu pengobatan dihentikan, bakteri ini bisa kembali aktif dan memicu infeksi ulang.

Masalah ini sangat serius pada penyakit seperti tuberkulosis (TB) dan infeksi paru-paru kompleks lainnya yang membutuhkan terapi selama berbulan-bulan. Memilih obat yang dapat melenyapkan bakteri secara total menjadi kunci kesembuhan permanen bagi pasien.

Memantau Bakteri Satu per Satu

Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Lucas Boeck dari Departemen Biomedis Universitas Basel mengembangkan metode yang disebut "antimicrobial single-cell testing". Hasil temuan mereka ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature Microbiology.

Alih-alih melihat populasi bakteri secara umum, metode ini menggunakan mikroskopi canggih untuk mengamati jutaan bakteri individu di bawah ribuan kondisi pengujian yang berbeda selama beberapa hari.

"Kami menggunakannya untuk merekam setiap individu bakteri selama beberapa hari dan mengamati apakah serta seberapa cepat suatu obat benar-benar membunuhnya," jelas Lucas Boeck.

Melalui teknik ini, peneliti dapat menentukan dengan tepat berapa banyak bakteri yang musnah dan seberapa efisien proses pelenyapan tersebut terjadi pada seluruh populasi bakteri yang menginfeksi pasien.

Menuju Pengobatan yang Presisi

Dalam pengujiannya, tim menggunakan 65 kombinasi obat berbeda terhadap Mycobacterium tuberculosis dan sampel dari 400 pasien dengan infeksi paru-paru berat lainnya. Hasilnya menunjukkan perbedaan besar pada tingkat toleransi bakteri antar pasien.

"Semakin baik bakteri menoleransi antibiotik, semakin rendah peluang keberhasilan terapi bagi pasien," kata Boeck. Ia menambahkan bahwa metode ini memungkinkan dokter di masa depan untuk memilih terapi yang paling sesuai dengan galur bakteri spesifik yang menyerang pasien tertentu.

"Metode pengujian kami memungkinkan kami untuk menyesuaikan terapi antibiotik secara khusus dengan galur bakteri pada masing-masing pasien," tambahnya.

Selain membantu dokter di rumah sakit, data dari metode ini juga diharapkan dapat membantu industri farmasi dalam mengembangkan antibiotik baru yang lebih efektif serta memahami strategi bertahan hidup patogen secara lebih mendalam. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya