Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
WAKIL Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen Dasmen), Fajar Riza Ul Haq, menekankan pentingnya penguatan literasi agama yang kontekstual bagi masyarakat Indonesia. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri acara Haflah XI Khatmil Qur'an, Rajabiyyah, dan Haul Para Sesepuh di Pondok Pesantren Kauman Lasem, Jawa Tengah, Minggu (4/1).
Dalam sambutannya, Wamen Fajar menyoroti pentingnya menempatkan ilmu sebagai landasan utama dalam beramal.
Merujuk pada Surah Fatir ayat 29, ia menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut, aktivitas tilawah (membaca/mempelajari) ditempatkan di urutan pertama, mendahului perintah salat dan infak.
“Didahulukannya kata tilawah menunjukkan bahwa ilmu adalah fondasi dari segala hal-hal yang sifatnya baik,” ujar Fajar di hadapan para santri dan tokoh agama yang hadir.
Meski tingkat religiositas masyarakat Indonesia tergolong tinggi, Fajar memaparkan data krusial dari riset Kementerian Agama yang menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan membaca kitab suci dengan implementasi nilai-nilainya.
Riset tersebut mencatat sebanyak 57% masyarakat rutin membaca kitab suci, namun hanya 37% yang memahami maknanya. Lebih memprihatinkan, kurang dari 25% yang mampu mengaitkan bacaan tersebut dengan praktik amaliah sehari-hari.
“Di satu sisi, ini menunjukkan bahwa orang Indonesia adalah orang yang beragama atau religius. Namun di sisi lain, survei tersebut juga menunjukkan tren bahwa apa yang kita baca, apa yang kita pahami, belum tentu berkorelasi dengan amaliah kita dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Fajar menilai kondisi ini sebagai tantangan besar bagi dunia pendidikan, termasuk pesantren. Ia menekankan bahwa kesalehan individual seharusnya berbanding lurus dengan kesalehan sosial.
“Menurut hemat saya, ini satu kritik yang menjadi tantangan buat kita semua khususnya di kalangan dunia pendidikan dan dunia pesantren untuk bisa menunjukkan bahwa apa yang kita yakini, apa yang kita katakan, apa yang kita pahami, itulah yang kita lakukan dalam tindakan sehari-hari,” tuturnya.
Lebih lanjut, Wamen Dasmen menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen memperkuat posisi pesantren sebagai pilar pembangunan bangsa.
Berdasarkan mandat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2023, pemerintah tidak lagi membedakan antara lembaga pendidikan milik negara dan masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa semangat ini sebenarnya sudah ada sejak awal kemerdekaan, di mana UU Sisdiknas tahun 1950 pun telah mengamanatkan negara untuk membantu lembaga pendidikan yang dikelola masyarakat.
“Oleh karena itu, kami sangat mendukung dan siap berkolaborasi dengan lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat termasuk pondok pesantren dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,” pungkas Fajar.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), Pengasuh Pondok Kauman Lasem KH. Muhammad Zaim Ahmad Ma'shum (Gus Zaim), Pengasuh Ponpes API Tegalrejo Gus Yusuf Chudhori, serta KH. Zulfa Mustofa. (RO/Z-1)
Dia memuji satu demi satu para Wamenlu sesuai dengan bidang pekerjaannya masing-masing. Seperti dalam tanggung jawab dalam kerja sama dengan negara-negara Islam.
Hal itu menunggu perubahan keempat UU BUMN disahkan DPR. Jadwal rapat paripurna DPR pengesahan revisi UU BUMN juga belum disampaikan.
Sebaiknya Presiden Prabowo Subianto menjalankan putusan MK dan tidak lagi mempersilakan wamen untuk rangkap jabatan.
Praktik rangkap jabatan tidak hanya melanggar ketentuan perundang-undangan tetapi juga mencederai prinsip antikorupsi dari pejabat publik.
Larangan rangkap jabatan ini juga bertujuan untuk memperkuat profesionalitas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved