Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
BENCANA banjir yang terus berulang di berbagai wilayah Sumatra menjadi alarm keras atas krisis lingkungan yang kian nyata di Indonesia. Merespons kondisi tersebut, gerakan berbasis komunitas mulai bergerak nyata, salah satunya melalui inisiatif wakaf produktif dan aksi lingkungan yang diusung oleh Kampoong Ecopreneur.
Langkah konkret ini ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Eco Wakaf di kawasan Kampoong Ecopreneur, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor, Minggu (21/12). Momentum ini tidak hanya menjadi simbol pembangunan fisik, tetapi juga dibarengi dengan pembagian dan penanaman 1.000 bibit pohon kepada masyarakat sebagai upaya menjaga kelestarian alam.
Acara ini dipimpin oleh inspirator nasional sekaligus pendiri Kampoong Ecopreneur, Jamil Azzaini, serta dihadiri para tokoh pendiri lainnya seperti Sofie Beatrix, Teguh Arif, Atok R Aryanto, Burhan Sholihin, Deka Kurniawan, Aris Ahmad Jaya, Nurdin Razak, dan Muhammad Subhan.
Masjid Eco Wakaf dibangun di atas tanah seluas 1,5 hektare. Jamil Azzaini menjelaskan bahwa masjid ini dirancang menjadi pusat ekosistem terpadu yang menggabungkan aspek spiritual, kewirausahaan (ecopreneurship), dan pemberdayaan masyarakat.
“Kehadiran Kampoong Ecopreneur adalah respons atas berbagai krisis yang saling berkaitan, mulai dari kerusakan lingkungan, lemahnya pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga memburuknya kesehatan mental,” ujar Jamil dalam sambutannya.
Terkait bencana banjir di Sumatra, Jamil menekankan pentingnya memperbaiki relasi manusia dengan alam.
“Banjir di Sumatra adalah alarm keras. Ini bukan sekadar bencana alam, tapi akibat dari cara kita memperlakukan alam. Kalau relasi manusia dengan alam terus rusak, bencana hanya soal waktu,” tegasnya.
Selain fokus pada pemulihan ekologis melalui penanaman pohon, Kampoong Ecopreneur juga meluncurkan program pemberdayaan ekonomi. Sebanyak 100 sarang lebah madu klanceng akan dibagikan kepada warga Leuwisadeng dengan pendampingan berkelanjutan agar menjadi sumber penghasilan mandiri.
Tidak berhenti di situ, kawasan ini juga akan dilengkapi dengan pusat *ecotherapy* bernama Kampoong Hening. Fasilitas ini ditujukan sebagai ruang pemulihan kesehatan mental berbasis alam, terutama bagi kelompok usia produktif yang rentan mengalami tekanan psikologis.
Seluruh kegiatan Kampoong Ecopreneur dikelola melalui dana umat seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf produktif. Saat ini, beberapa unit usaha telah dipercayakan pengelolaannya kepada yayasan, termasuk 10 cabang STIFIn senilai Rp5 miliar dari Yayasan STIFIn Institute dan usaha kuliner Hara Chicken.
Menariknya, unit bisnis ini juga diproyeksikan sebagai lapangan kerja bagi penyandang disabilitas dan laboratorium bisnis bagi para santri.
Dengan model ekosistem ini, Kampoong Ecopreneur diharapkan dapat menjadi prototipe pembangunan berkelanjutan yang dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia. (Z-1)
Target penanaman satu juta pohon bukan sekadar angka, melainkan gerakan besar untuk membangkitkan kepedulian warga terhadap pelestarian Merapi.
Kegiatan penanaman pohon selama dua hari ini diikuti oleh masyarakat lokal, pelajar, kelompok tani (Gapoktan), relawan, hingga pemerintah daerah.
Peremajaan pohon dilakukan sebagai bagian dari upaya Pemprov DKI menjaga keselamatan warga di tengah intensitas hujan yang semakin meningkat.
Proses evakuasi berlangsung sekitar satu jam karena petugas harus memotong batang pohon terlebuh dahulu.
Penopingan dilakukan sebagai tindak lanjut dari aduan masyarakat, terutama untuk mencegah pohon tumbang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved