Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Pengaruh Algoritma dan AI terhadap Komunikasi Merek

Wisnu Arto Subari
15/12/2025 14:03
Pengaruh Algoritma dan AI terhadap Komunikasi Merek
(MI/HO)

DI era algoritma dan artificial intelligence (AI), sering kali komunikasi merek lebih mengejar validasi mesin algoritma dan mengabaikan objektif jangka panjang kampanye. Konten diproduksi cepat, tetapi identitas brand (merek) terkikis perlahan. Yang viral menang dan yang relevan terlupakan.

Apakah itu sinyal bahwa brand didikte algoritma yang menuntut kecepatan dan kuantitas unggahan video, sehingga video taktikal yang mendominasi? Apakah ini sinyal bahwa sudah saatnya mereka mengendalikan algoritma dengan memproduksi video-video yang lebih kreatif dan berkualitas untuk tujuan lebih strategis memperkuat positioning dan mengokohkan brand equity?

Client President WPP Media, Desniar Budi, menegaskan bahwa algoritma dan AI kini menjadi tulang punggung pemasaran modern, karena kedua teknologi tersebut memungkinkan personalisasi kampanye dalam skala yang belum pernah terjadi. Namun demikian, fungsi AI bukan menggantikan. 

"Hanya dapat memperkuat. Kreativitas, empati, dan visi strategis Anda tetap menjadi pembeda sejati merek Anda," tegas client director dari agensi multinasional itu dalam ajang tahunan Indonesia Marcomm Outlook 2026 pada Kamis, 11 Desember 2025, di Jakarta.

Presdir Prompt Research, Ardi Wirdamulia, menekankan pentingnya integrasi strategis untuk mengatasi fragmentasi kanal komunikasi seperti yang terjadi saat ini. "Penting menyelaraskan pesan, media, dan pengukuran ke dalam satu sistem, ide kreatif yang terpadu, serta kerangka KPI yang terintegrasi," ujar doktor marketing dari Universitas Indonesia ini. 

Dengan beralih dari eksekusi yang terfragmentasi menuju komunikasi yang digerakkan oleh strategi, lanjutnya, merek dapat memulihkan konsistensi, efektivitas, dan akuntabilitas dalam lanskap media yang semakin kompleks. 

Chief of Product Ivosights, Kristyanto, memaparkan temuan-temuan baru tentang perjalanan transformasi digital dan revolusi media behaviour di Indonesia. "Konsumen bergerak fleksibel antarkanal dari media sosial, website, hingga offline. Brand perlu hadir seamlessly di semua touchpoint," tutur Kristyanto. 

Sedangkan Indonesia Country Head Illuminate Asia Haris Fajar Rahmanto memaparkan proyeksi kepercayaan diri konsumen. "Pola defensive consumption terlihat semakin menguat dibandingkan 2024. Data kami menunjukkan konsumen Indonesia kini jauh lebih agresif dalam memangkas pengeluaran gaya hidup, seperti makan di luar dan hiburan, demi memprioritaskan kebutuhan pokok di tengah kondisi ekonomi saat ini," ujar Haris. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya