Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
NEGARA-NEGARA maju seperti Uni Eropa, Amerika Serikat (AS), Australia, Tiongkok, Selandia Baru, dan Jepang telah lama membangun dan menerapkan sistem ketertelusuran (traceability) preborder sebagai suatu mekanisme perlindungan negara dari dampak negatif perdagangan.
Berbagai persyaratan teknis dan administrasi harus dipenuhi sebelum barang tiba, termasuk tahapan-tahapan audit, baik on desk review maupun onsite audit dilaksanakan untuk memastikan bahwa komoditas sudah memenuhi seluruh standar yang dipersyaratkan.
Penerapan ketertelusuran preborder memang terlihat rumit dan berlapis-lapis, tetapi inilah upaya negara maju dalam melindungi negaranya.
Masuknya penyakit hewan lintas batas (transboundary animal diseases) merupakan ancaman yang akan mengganggu stabilitas ekonomi, ekosistem dan sektor peternakan nasional.
MI/HONegara-negara maju tersebut mewajibkan seluruh komoditas yang akan dilalulintaskan memiliki informasi lengkap mulai dari hulu ke hilir.
Prinsip “Traceability is mandatory, not optional”, meminimalkan risiko negatif dari aktifitas perdagangan, jika ada informasi yang tidak bisa dilacak bisa menyebabkan penolakan.
Benchmark Penerapan Ketertelusuran di Negara Maju: Pilar Transparansi, Keamanan, dan Kepercayaan Konsumen Global
Negara-negara maju telah menjadikan sistem ketertelusuran sebagai standar yang melekat pada setiap tahapan produksi mulai dari lahan dan peternakan, asal bahan baku, pabrik pengolahan, transportasi, retail, hingga konsumen/end user.
Mereka menggunakan pendekatan “Farm to Fork”, jejak pangan/pakan harus bisa ditelusuri sejak awal hingga ke konsumen. Ketertelusuran adalah fondasi yang tak tergantikan dalam sistem keamanan pangan modern.
Dengan teknologi yang berkembang pesat, pengembangan sistem informasi dan penggunaan artificial intelligence merupakan hal yang mutlak harus dikembangkan.
Contoh-contoh implementasi sistem ketertelusuran preborder diantaranya adalah Trade Control and Expert System-New Technology (TRACES NT) di Uni Eropa, Biosecurity Import Conditions System (BICON) oleh Australia, dan China Import Food Enterprises Registration (CIFER) oleh Tiongkok.
Urgensi Implementasi Ketertelusuran Pre-Border bagi Indonesia: Pre-Border Aman, Swasembada Tercapai, Indonesia Tangguh
Badan Karantina Indonesia (Barantin) menghadapi tantangan besar yang harus diatasi dalam layanan karantina saat ini.
Dalam sebuah kajian disebutkan bahwa waktu layanan Karantina Hewan masih mencapai 10,73 jam di tempat pemasukan (border) per Januari hingga September 2025.
Angka ini memicu Barantin untuk segera melakukan terobosan guna menjamin kecepatan, akurasi, dan transparansi layanan. Salah satu strategi yang dilakukan adalah menggeser risiko dari border ke preborder melalui penerapan ketertelusuran preborder dengan penguatan regulasi, pengembangan sistem informasi, sarana prasarana dan peningkatan kapasitas SDM.
Pengembangan sebuah sistem inovatif “Q-PASTI”, singkatan dari Quarantine Pre-Border Accelerated System for Traceability and Information. Diharapkan dapat membantu memastikan ketertelusuran data dan informasi secara digital, sebuah lompatan besar dari proses berbasis offline menuju layanan yang sepenuhnya terdigitalisasi dan terintegrasi.
Q-PASTI memungkinkan penerapan Traceability-based Animal Quarantine Management, di mana hewan maupun produk hewan wajib memenuhi persyaratan secara ketat sejak di negara asalnya.
Dengan sistem digital ini, Barantin bisa memverifikasi data dan memitigasi risiko sebelum komoditas tiba di pelabuhan Indonesia, sehingga waktu layanan dapat dipersingkat secara drastis.
Barantin juga mempertegas bahwa tugas dan fungsi karantina sangat luas. Tugasnya tidak hanya mendeteksi penyakit, tetapi juga melakukan pengawasan mutu pangan dan keanekaragaman hayati, menjamin kualitas sumber daya, dan melindungi aset biologis negara dari ancaman penyakit trans-batas (transboundary disease risk).
Pendekatan ini merupakan upaya efektifitas dibandingkan hanya memperkuat di border saja.
Implementasi sistem dengan pendekatan ketertelusuran preborder membawa dampak positif yang sangat luas bagi Karantina maupun bagi negara Indonesia, diantaranya adalah mendukung efisiensi logistik dengan adanya penurunan dwelling time dan antrean di pelabuhan/bandara, mengurangi beban operasional dan risiko penyakit di border, menurukan temuan ketidaksesuaian (non-conformity) di border, meningkatkan akurasi profiling risiko, penguatan early warning system-early detection-early response, serta diharapkan dapat mengurangi celah praktek fraud dokumen dan importasi illegal.
Oleh karena itu untuk mewujudkan tata kelola karantina berbasis ketertelusuran yang mendukung tugas Barantin dalam melindungi negeri, Deputi Bidang Karantina Hewan Badan Karantina Indonesia telah meluncurkan sistem inovasi Q-PASTI pada 7 November 2025 yang lalu. (RO/Z-1)
Setiap gangguan infrastruktur akibat bencana, termasuk banjir, berpotensi berdampak langsung terhadap kelancaran akses menuju PLBN Entikong.
Kerja sama Sosek Malindo yang telah berjalan lebih dari 40 tahun merupakan bukti kuat komitmen kedua negara dalam membangun kawasan perbatasan.
PASUKAN Israel berencana melakukan serangan terbatas di Libanon. Libanon melaporkan Israel ke Dewan Keamanan PBB atas pembangunan tembok yang melanggar perbatasan
PRESIDEN Lebanon Joseph Aoun menginstruksikan Kementerian Luar Negeri mengajukan keluhan ke Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa atau PBB terkait pembangunan tembok oleh Israel
LIBANON akan membawa Israel ke Dewan Keamanan PBB atas pembangunan tembok beton di wilayah perbatasan yang disebut melampaui Garis Biru, tuduhan yang telah dibantah oleh pihak Israel.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved