Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
GUNUNG Semeru kembali menunjukkan aktivitas tinggi. Pada Rabu (19/11), gunung tertinggi di Pulau Jawa itu memuntahkan awan panas guguran sejauh 13 kilometer ke arah tenggara dan selatan. Kolom abu menjulang hingga 2.000 meter di atas puncak, membuat status dinaikkan ke Level IV (Awas) dan memaksa ratusan warga serta pendaki dievakuasi.
Fenomena ini menambah panjang deret kejadian serupa yang hampir selalu berulang pada periode musim hujan, khususnya Desember, seperti tragedi besar Desember 2021, erupsi Desember 2022, aktivitas tinggi Desember 2023, dan peningkatan pada Desember 2024.
Pakar Vulkanologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Asep Saepuloh menilai curah hujan tinggi menjadi salah satu faktor penting dalam pola berulang tersebut.
“Air yang meresap ke tubuh gunung dapat memicu erupsi freatik, yaitu letusan uap air akibat pemanasan mendadak oleh material panas di dekat permukaan," kata Asep saat dihubungi, Kamis (20/11).
Menurut Asep, erupsi jenis ini berbeda dengan erupsi magmatik yang melibatkan keluarnya magma, serta freatomagmatik yang merupakan campuran keduanya. Ia menegaskan erupsi freatik memang umumnya berskala kecil dan berdampak lokal di sekitar kawah, tetapi tetap berpotensi menimbulkan bahaya.
“Namun, jangan anggap remeh karena erupsi freatik bisa menjadi pemicu erupsi magmatik jika guncangan mendadak membuka jalur magma (vent clearing). Inilah skenario berbahaya yang sulit diprediksi," jelas dia.
Asep juga menjelaskan bahwa pemicu erupsi freatik bisa terjadi melalui mekanisme yang lebih kompleks. Selain kontak langsung antara air meteorik (air hujan) dengan sumber panas dangkal, erupsi freatik juga dapat dipicu oleh proses kompleks ketika sumber panas berasal dari kedalaman.
Dalam kondisi ini, air meteorik tidak hanya menjadi pemicu langsung, tetapi berperan sebagai faktor pengatur (modulating factor), mengubah gradien termal dan tekanan hidrostatik. Ia memaparkan bahwa dinamika tekanan dalam sistem hidrotermal turut membentuk instabilitas di tubuh gunung.
“Hydrothermal loading terjadi saat gas dan fluida magmatik terakumulasi dalam sistem tertutup, menciptakan tekanan berlebih (overpressure) dan ketidakstabilan termal," jelasnya.
Interaksi antara fluida meteorik dan magmatik, lanjutnya, dapat memicu presipitasi mineral yang mengurangi permeabilitas batuan, menjebak fluida bertekanan tinggi. Ketika tekanan melampaui ambang batas, pelepasan mendadak dapat memicu erupsi freatik. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa overpressure dalam sistem hidrotermal tertutup adalah pemicu dominan, sementara air meteorik mempercepat proses dengan mengubah kondisi fisik dan kimia di sekitar kawah.
Menurut Asep, dengan pola aktivitas Semeru yang hampir selalu melonjak bersamaan dengan intensitas hujan tinggi, kewaspadaan perlu ditingkatkan memasuki musim hujan tahun ini. Kombinasi faktor meteorologis, geologi, dan dinamika fluida di kedalaman membuat Semeru menjadi salah satu gunung yang paling aktif dan sulit diprediksi di Indonesia.
Asep menekankan bahwa karakter Semeru yang sensitif terhadap perubahan lingkungan mengharuskan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk selalu berada dalam kesiapsiagaan tinggi.
Ia mengingatkan bahwa mitigasi harus melibatkan pemantauan curah hujan dan analisis hidrogeologi. Gunung api tropis seperti Semeru tidak hanya dipengaruhi oleh tekanan magma, tetapi juga oleh air yang meresap melalui rekahan. Air sebagai sumber kehidupan, bisa berubah menjadi pemicu bencana jika tidak dipahami dan dikelola dengan baik.
"Erupsi Semeru mengajarkan bahwa bencana bukan hanya soal magma, tetapi juga interaksi kompleks antara air, panas, dan struktur gunung api. Teknologi pemantauan harus melangkah lebih jauh, menggabungkan data vulkanik dengan hidrogeologi, agar masyarakat di lereng gunung dapat hidup lebih aman, karena di negara tropis, air bisa menjadi sahabat sekaligus ancaman," pungkas Asep.(M-2)
ERUPSI Semeru mengakibatkan tiga orang luka berat. Menurut data BNPB, mereka dirawat di RSUD Dr.Haryoto Lumajang. Turut dilaporkan 204 hektare lahan rusak akibat erupsi semeru
Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali memperlihatkan aktivitas vulkanik dengan menyemburkan asap setinggi sekitar 1.000 meter dari puncak.
Asap letusan sekunder terlihat di Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jawa Timur.
Kondisi perkampungan yang terdampak erupsi Gunung Semeru di Desa Supiturang, Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur.
KEPALA Badan Geologi Muhammad Wafid mengingatkan adanya potensi bahaya besar akibat erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur.
Badan Geologi Kementerian ESDM mengingatkan potensi bahaya erupsi magmatik serta guguran awan panas Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara.
GUNUNG Marapi di Sumatera Barat (Sumbar) saat ini telah mengalami perubahan tipe erupsi dari freatik menjadi magmatik. Berbahayakah?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved