Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Studi Ungkap Kenaikan Melanoma di Wilayah Pertanian Pennsylvania

Thalatie K Yani
17/11/2025 11:13
Studi Ungkap Kenaikan Melanoma di Wilayah Pertanian Pennsylvania
Ilustrasi(freepik)

PENELITI Penn State menemukan peningkatan signifikan kasus melanoma di sejumlah wilayah Pennsylvania yang didominasi lahan pertanian dan penggunaan herbisida. Temuan tersebut mengindikasikan adanya faktor lingkungan yang berkontribusi pada kenaikan risiko, meskipun paparan sinar matahari telah diperhitungkan dalam analisis.

Penelitian yang dilakukan Penn State Cancer Institute menggunakan data registri kanker dari 2017 hingga 2021. Hasilnya, orang dewasa berusia di atas 50 tahun di 15 county di South Central Pennsylvania tercatat 57% lebih mungkin didiagnosis melanoma dibandingkan wilayah lain di negara bagian tersebut. Temuan ini dipublikasikan pada 14 November dalam jurnal JCO Clinical Cancer Informatics.

Charlene Lam, profesor dermatologi di Penn State Health dan salah satu penulis studi, mengatakan peningkatan kasus ditemukan di county pedesaan maupun perkotaan. Ia menegaskan risiko lebih tinggi tidak hanya dialami mereka yang bekerja di luar ruangan.

“Melanoma sering dikaitkan dengan pantai dan berjemur, tetapi temuan kami menunjukkan lingkungan pertanian juga dapat berperan,” ujarnya. “Dan ini bukan hanya soal petani. Seluruh komunitas yang tinggal di dekat area pertanian, bahkan yang tidak pernah memasuki ladang, tetap bisa berisiko.”

Hubungan Lahan Pertanian dan Herbisida dengan Melanoma

Setelah menyesuaikan variabel paparan sinar ultraviolet dan faktor sosial ekonomi, dua pola konsisten tetap muncul: county dengan area pertanian yang lebih luas dan penggunaan herbisida lebih intens menunjukkan tingkat melanoma yang lebih tinggi.

Eugene Lengerich, profesor emeritus kesehatan masyarakat Penn State dan penulis senior studi, menjelaskan bahan kimia pertanian memang dirancang untuk mengubah sistem biologis. “Beberapa mekanisme yang sama, seperti meningkatkan fotosensitivitas atau menyebabkan stres oksidatif, secara teoritis dapat berkontribusi pada perkembangan melanoma,” katanya.

Analisis menunjukkan bahwa kenaikan 10% lahan pertanian terkait dengan peningkatan 14% kasus melanoma, sementara kenaikan 9% lahan yang diberi herbisida berkaitan dengan peningkatan 13% kasus.

Lam menambahkan paparan bahan kimia tidak hanya terjadi pada pekerja. Zat tersebut dapat terbawa angin, menempel di debu rumah, hingga masuk ke sumber air. “Temuan kami menunjukkan bahwa risiko melanoma dapat meluas ke seluruh komunitas,” ujarnya.

Belum Membuktikan Penyebab Langsung

Benjamin Marks, penulis pertama studi, menegaska meski terdapat pola kuat, penelitian ini tidak membuktikan bahan kimia pertanian secara langsung menyebabkan kanker. “Anggap ini sebagai sinyal, bukan vonis,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa faktor lain seperti genetika, perilaku, atau akses kesehatan ikut berperan dan perlu diteliti lebih lanjut.

Lam berharap penelitian berikutnya dapat memperdalam hubungan praktik pertanian dan kesehatan masyarakat, terutama karena pola serupa ditemukan di wilayah pertanian di Utah, Polandia, dan Italia.

“Pencegahan kanker tidak bisa dilakukan secara terpisah,” ujar Lengerich. “Jika herbisida dan praktik pertanian berkontribusi pada risiko melanoma, maka solusinya harus melibatkan dokter, petani, ilmuwan lingkungan, pembuat kebijakan, dan komunitas bersama-sama.” (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik