Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Fosil Telur Buaya Tertua di Australia Diduga Milik 'Drop Crocs' Pemangsa dari Pohon

Thalatie K Yani
12/11/2025 12:17
Fosil Telur Buaya Tertua di Australia Diduga Milik 'Drop Crocs' Pemangsa dari Pohon
Ilustrasi(Unsplash)

PARA ilmuwan berhasil menemukan kulit telur buaya tertua di Australia, berusia sekitar 55 juta tahun, yang diduga milik spesies buaya purba bernama mekosuchine. Spesies ini dikenal unik karena kemungkinan besar berburu dari atas pohon, perilaku yang membuat mereka dijuluki “drop crocs”.

Penemuan fosil ini dilakukan di halaman belakang peternak domba di Queensland. Hasil penelitian telah dipublikasikan dalam Journal of Vertebrate Paleontology.

Buaya Purba Pemanjat Pohon

Menurut Prof. Michael Archer, ahli paleontologi dari University of New South Wales sekaligus salah satu penulis studi, perilaku “drop crocs” mungkin terdengar aneh. Tetapi ada bukti kuat sebagian dari mereka memang berburu layaknya macan tutul.

“’Drop crocs’ memang terdengar sebagai ide yang aneh, tetapi beberapa di antaranya kemungkinan berburu seperti macan tutul, menjatuhkan diri dari pohon untuk memangsa hewan yang lewat di bawahnya,” ujar Prof. Archer.

Ia menjelaskan, mekosuchine hidup di perairan pedalaman Australia sekitar 55 juta tahun lalu, jauh sebelum buaya air asin dan air tawar modern tiba di benua itu sekitar 3,8 juta tahun silam. Spesies purba ini dapat tumbuh hingga panjang lima meter, dan hidup ketika Australia masih terhubung dengan Antartika dan Amerika Selatan.

Jejak Kehidupan dari Zaman Kuno

Kulit telur tersebut sebenarnya ditemukan beberapa dekade lalu, namun baru dianalisis secara menyeluruh baru-baru ini dengan bantuan tim ilmuwan dari Spanyol. Penemuan ini memperkuat hasil studi sebelumnya yang menemukan fosil mekosuchine berusia 25 juta tahun di wilayah Queensland lainnya.

Sejak awal 1980-an, Prof. Archer dan timnya telah menggali situs fosil di Murgon, sekitar 270 km barat laut Brisbane. Lokasi ini dikenal sebagai salah satu situs fosil tertua di Australia, yang dahulu merupakan hutan tropis lebat.

“Hutan ini juga menjadi rumah bagi burung penyanyi tertua di dunia, katak dan ular paling awal di Australia, berbagai mamalia kecil yang berkerabat dengan fauna Amerika Selatan, serta salah satu kelelawar tertua di dunia,” jelas Dr. Michael Stein, rekan penulis studi.

Awal dari Penemuan Besar

Prof. Archer mengenang awal penemuan di tahun 1983. “Kami berkendara ke Murgon, mengetuk pintu rumah peternak, dan meminta izin menggali halaman belakang mereka. Setelah kami jelaskan kemungkinan adanya harta karun prasejarah di bawah tanah mereka, mereka tertawa dan berkata ‘tentu saja!’,” kenangnya.

Sejak saat itu, tim berhasil menemukan berbagai fosil hewan purba di area tersebut. Archer yakin masih banyak kejutan yang menunggu ditemukan.

“Dari semua hewan menarik yang telah kami temukan sejak 1983, saya yakin dengan lebih banyak penggalian, akan ada lebih banyak kejutan di masa depan,” ujarnya optimistis. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya