Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Kalimantan jadi Pusat Penghasil Intan Terbesar di Indonesia, Dampaknya Beragam

Abi Rama
11/11/2025 10:54
Kalimantan jadi Pusat Penghasil Intan Terbesar di Indonesia, Dampaknya Beragam
Ilustrasi(freepik)

INDONESIA dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan sumber daya alam melimpah. Salah satunya adalah intan, sebuah batu berharga yang terbentuk dari kristal karbon dengan tingkat kekerasan tertinggi di dunia. 

Di antara seluruh wilayah Nusantara, Kalimantan menjadi pusat utama penghasil intan terbesar yang telah dikenal sejak masa kolonial.

Intan dan Proses Penambangannya

Intan merupakan mineral langka yang menjadi bahan dasar berlian. Nilai jualnya tinggi karena kejernihan dan kekerasannya yang luar biasa. Sebelum menjadi perhiasan bernilai tinggi, intan mentah harus melewati serangkaian proses, mulai dari penggalian, pemilahan, penggosokan, hingga pemotongan agar siap dipasarkan.

Mengutip dari laman Bima Shabartum Grup, proses penambangan ini banyak dilakukan di daerah-daerah penghasil utama seperti Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Banjarbaru (Kalimantan Selatan), dan Barito (Kalimantan Tengah). Penambangan di wilayah ini dilakukan baik secara tradisional oleh masyarakat lokal maupun menggunakan mesin penyedot modern yang mempercepat pemisahan material.

Meningkatkan Pendapatan, Tapi Tak Merata

Penambangan intan memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah. Banyak warga menggantungkan hidup dari sektor ini, mulai dari menjadi penambang, penggosok batu, hingga pedagang intan. Di daerah seperti Cempaka, Banjarbaru, aktivitas penambangan telah menjadi mata pencaharian turun-temurun yang menopang ekonomi keluarga.

Namun, di balik itu, penghasilan penambang tradisional sering kali tidak stabil dan sangat bergantung pada "keberuntungan" menemukan batu berharga. Menurut laporan Channel News Asia, pendapatan penambang di kawasan tersebut tergolong rendah dan fluktuatif, sementara risiko keselamatan kerja tinggi akibat tambang manual yang rawan longsor.

Meski secara makro industri tambang berkontribusi besar pada nilai ekspor dan investasi nasional, tidak semua keuntungan ekonomi ini dirasakan langsung oleh masyarakat lokal. Sebagian besar keuntungan justru mengalir pada investor besar, sementara masyarakat sekitar masih hidup dalam ekonomi yang rentan.

Dampak Sosial

Penambangan intan di Kalimantan tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga sosial dan budaya. Di beberapa wilayah seperti Banjarbaru dan Barito, menambang intan telah menjadi identitas komunitas lokal. Aktivitas ini bahkan menarik wisatawan untuk melihat langsung proses pencarian batu mulia secara tradisional.

Namun, di sisi lain, industri ini juga menimbulkan tantangan sosial seperti persaingan antarpenambang, konflik lahan dengan perusahaan besar, dan masalah keselamatan kerja. Menurut studi MDPI (2024), kurangnya regulasi yang ketat membuat penambangan tradisional sering berlangsung tanpa standar keselamatan memadai, meningkatkan risiko kecelakaan dan ketegangan sosial di area tambang.

Erosi, Pencemaran, dan Degradasi Ekosistem

Di balik kilau berlian, aktivitas penambangan intan membawa konsekuensi serius bagi lingkungan Kalimantan. Banyak area penambangan di Kalimantan menunjukkan penurunan kualitas lingkungan yang signifikan akibat deforestasi, erosi tanah, dan sedimentasi sungai.

Penambangan intan yang menggunakan alat penyedot tanah dan pencucian material dengan air bertekanan tinggi menyebabkan perubahan struktur tanah dan mengganggu ekosistem perairan. Vegetasi di tepi sungai hilang, menyebabkan erosi dan memperburuk kualitas air. Limbah tambang yang mengandung endapan pasir dan lumpur juga menurunkan kualitas habitat ikan serta mencemari sumber air yang digunakan warga sekitar.

Selain itu, penggunaan mesin berat menambah jejak karbon dan polusi udara, sementara lubang-lubang bekas tambang yang tidak direklamasi menjadi ancaman jangka panjang bagi keselamatan dan kesuburan lahan. (Bima Shabartum Group/CNA/MDPI/EUDL/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya