Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH penelitian terbaru mengindikasikan ketidakcocokan genetik antara manusia modern dan Neanderthal, mungkin berperan dalam mempercepat kepunahan spesies manusia purba tersebut.
Tim ilmuwan dari Institute of Evolutionary Medicine di Zurich menemukan perbedaan pada gen PIEZO1, yang memengaruhi fungsi sel darah merah. Perbedaan itu bisa menyebabkan keguguran pada perempuan hibrida keturunan Neanderthal dan manusia modern.
Penelitian ini dipublikasikan pada 29 September di basis data pra-cetak bioRxiv, meski belum melalui proses tinjauan sejawat (peer-review).
Ketika manusia modern (Homo sapiens) dan Neanderthal bertemu sekitar 45.000 tahun lalu di wilayah Eurasia, keduanya saling bertukar gen. Namun, menurut peneliti utama Patrick Eppenberger, pertukaran ini juga dapat membawa risiko tersembunyi terhadap kemampuan reproduksi kedua kelompok.
Gen PIEZO1 pada Neanderthal berbeda dari manusia modern. Varian Neanderthal, yang mirip dengan yang dimiliki kera besar lainnya, membuat hemoglobin lebih kuat mengikat oksigen. Sebaliknya, varian pada manusia modern memungkinkan oksigen ditransfer lebih efisien ke jaringan tubuh.
Neanderthal diyakini mempertahankan varian lama itu karena membantu mereka bertahan di lingkungan dingin ekstrem dan masa kelaparan. Namun, efeknya bisa berbahaya saat kehamilan. Ketika darah ibu mengandung terlalu banyak oksigen yang terikat pada hemoglobin, janin menerima lebih sedikit oksigen melalui plasenta, sehingga berisiko mengalami hipoksia, pertumbuhan terhambat, atau keguguran.
Karena pola pewarisan gen PIEZO1 tertentu, ketidakcocokan ini hanya muncul ketika ibu hibrida Neanderthal-manusia kawin dengan ayah manusia modern atau hibrida.
“Banyak keturunan mereka mungkin tidak bertahan hidup,” tulis para peneliti dalam laporan tersebut.
Akibatnya, perempuan Neanderthal mungkin mewariskan lebih sedikit DNA mitokondria, yang hanya diturunkan melalui garis ibu, ke generasi berikutnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengurangi kemampuan reproduksi Neanderthal dan mempercepat hilangnya populasi mereka.
“Ketidakcocokan gen PIEZO1 mungkin mempercepat kepunahan Neanderthal dengan perlahan mengikis kemampuan reproduksi mereka setiap kali terjadi interaksi antarspesies,” tulis tim peneliti.
April Nowell, arkeolog Paleolitik dari University of Victoria yang tidak terlibat dalam penelitian, menyebut temuan ini “menarik,” karena menunjukkan bahwa gen yang dulu membantu Neanderthal bertahan hidup justru menjadi penyebab kejatuhan mereka.
John Hawks, antropolog biologi dari University of Wisconsin, menambahkan bahwa temuan ini serupa dengan ketidakcocokan faktor Rh pada manusia modern. Namun, ia menekankan tidak ada satu gen tunggal yang bisa menjelaskan kepunahan Neanderthal, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara kelompok manusia purba.
Eppenberger dan timnya menyimpulkan dampak persilangan genetik ini kemungkinan terjadi secara perlahan dan halus, bukan akibat satu peristiwa besar. Mereka menilai, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi gen lain yang mungkin menimbulkan ketidakcocokan serupa. (Live Science/Z-2)
Fosil manusia berusia 770 ribu tahun ditemukan di Maroko. Temuan ini memperkuat teori asal Homo sapiens dari Afrika dan mengguncang peta evolusi.
Penemuan ini merupakan buah dari penantian panjang. Pada tahun 2009, para ilmuwan menemukan fosil kaki berusia 3,4 juta tahun dengan struktur jari yang dirancang untuk memanjat pohon.
Sebuah studi genetika mengubah pemahaman ilmuwan tentang bagaimana manusia modern awal menyebar di Asia Timur
Para peneliti telah mengidentifikasi spesies manusia purba baru, yang mereka beri nama Homo juluensis, yang berarti kepala besar.
Studi yang diunggah pada 2019 tersebut menyebut sekitar 200.000 tahun lalu, kawasan yang disebut Makgadikgadi Okavango wetland adalah oase hijau yang subur
Riset terbaru mengungkap manusia purba sejak awal mengandalkan tanaman yang diproses, seperti umbi, biji, dan kacang, jauh sebelum pertanian muncul.
Ilmuwan EMBL kembangkan SDR-Seq, alat canggih yang menganalisis DNA dan RNA dalam satu sel, membuka jalan baru untuk pahami penyakit genetik kompleks.
Mutasi: Pelajari perubahan genetik yang menarik, mengungkap evolusi dan variasi kehidupan. Temukan rahasia di balik kode genetik!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved