Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Diplomasi Jembatani Perbedaan demi Masa Depan Lebih Damai

Wisnu Arto Subari
22/10/2025 20:13
Diplomasi Jembatani Perbedaan demi Masa Depan Lebih Damai
(MI/HO)

DI tengah dunia yang terus berubah, empati, dialog, dan kerja sama global menjadi kunci untuk menjaga harmoni antarbangsa. Konflik dan krisis yang terjadi di berbagai belahan dunia mengingatkan kita betapa rapuhnya persatuan, sekaligus betapa pentingnya membangun saling pengertian. Diplomasi sejati bukan sekadar proses negosiasi, melainkan upaya tulus untuk menjembatani perbedaan dan bekerja bersama demi masa depan yang lebih damai dan berkelanjutan.

"Topik ini terasa sangat relevan saat ini, di tengah dunia ketika setiap secercah harapan seolah selalu diikuti oleh tragedi yang lebih besar. Kekhawatiran saya bukan hanya bagi mereka yang hidup di masa kini, melainkan juga bagi kita semua yang akan mewarisi masa depan," ujar Abimanyu Satyo Hutomo, Sekretaris Jenderal HighScope Model United Nations (HSMUN) 2025, dalam keterangan tertulis, Rabu (22/10). 

"Kita calon pemimpin dunia masa depan. Karena itu, tanggung jawab untuk memperbaiki dunia berada di pundak kita semua."

Sekolah HighScope Indonesia TB Simatupang (sekolah di bawah naungan Research and Development for Advancement/Redea Institute) menjadi inisiasi HSMUN 2025. Acara ini diikuti para siswa tingkat sekolah menengah atas untuk berperan sebagai pemimpin internasional serta menghadapi tantangan global melalui diskusi mendalam, kerja tim, dan pemikiran strategis.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2008 sebagai inisiatif sederhana yang lahir dari semangat para siswa untuk memberikan dampak melalui diplomasi, HSMUN kini berkembang menjadi salah satu konferensi Model United Nations tingkat SMA di Indonesia. Selama tujuh belas tahun, HSMUN terus menjadi wadah yang memberdayakan suara pemuda dalam diskursus global.

Penasihat hukum dan Koordinator Bidang Politik Hukum Internasional Kementerian Luar Negeri Aloysius Selwas Taborat menambahkan pentingnya menumbuhkan empati dan semangat gotong royong dalam dunia diplomasi. "Negara itu konsep yang abstrak. Personifikasinya datang dari presiden, pemerintah, institusi, dan sejarah. Karena itu, sangat penting bagi Anda untuk belajar mengembangkan empati." (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik