Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
MEMASUKI tahun 2026, tantangan perubahan iklim dan pengetatan regulasi lingkungan global telah menempatkan kimia hijau (green chemistry) sebagai fondasi strategis bagi industri dan pembangunan berkelanjutan. Di Indonesia, penerapan prinsip ini menjadi kunci untuk memenuhi target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional di pasar global.
Kimia hijau adalah pendekatan dalam sains dan rekayasa kimia yang berfokus pada desain produk serta proses yang meminimalkan atau menghilangkan penggunaan dan pembentukan zat berbahaya. Berbeda dengan pendekatan tradisional yang fokus pada penanganan limbah (end-of-pipe), kimia hijau bersifat preventif dengan mencegah polusi sejak tahap perancangan molekuler.
Dua belas prinsip kimia hijau yang dirumuskan oleh Paul Anastas dan John Warner kini menjadi standar operasional industri modern tahun 2026:
| Prinsip | Penjelasan Singkat |
|---|---|
| Pencegahan Limbah | Lebih baik mencegah timbulnya limbah daripada mengolahnya setelah terbentuk. |
| Ekonomi Atom | Memaksimalkan penggabungan semua bahan baku ke dalam produk akhir. |
| Efisiensi Energi | Menggunakan proses pada suhu dan tekanan rendah untuk menghemat energi. |
| Bahan Baku Terbarukan | Memanfaatkan sumber daya alam nabati yang dapat diperbarui. |
Berikut 12 belas prinsip kimia hijau yang lebih rinci:
1. Pencegahan Limbah: Mengutamakan pencegahan daripada pengolahan limbah.
2. Ekonomi Atom: Memaksimalkan semua bahan baku menjadi produk akhir.
3. Sintesis Kimia Kurang Berbahaya: Menggunakan metode yang tidak beracun bagi manusia dan lingkungan.
4. Perancangan Produk Aman: Produk tetap efektif namun toksisitasnya rendah.
5. Pelarut dan Alat Bantu Aman: Menghindari pelarut organik berbahaya.
6. Efisiensi Energi: Melakukan reaksi pada suhu dan tekanan ruang jika memungkinkan.
7. Bahan Baku Terbarukan: Menggunakan bahan dari alam/pertanian, bukan fosil.
8. Mengurangi Derivatif: Menghindari tahapan modifikasi yang tidak perlu.
9. Katalisis: Menggunakan katalis untuk mempercepat reaksi dan mengurangi energi.
10. Desain untuk Degradasi: Produk harus mudah terurai setelah digunakan.
11. Analisis Real-time: Pemantauan langsung selama proses untuk mencegah terbentuknya zat berbahaya.
12. Mencegah Kecelakaan: Memilih bahan yang meminimalkan risiko ledakan atau kebakaran.
Baca juga: Mengenal apa itu Kimia Hijau, 12 Prinsip dan Contoh Penerapan
Penerapan kimia hijau berkontribusi langsung pada pencapaian beberapa target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), di antaranya:
Baca juga: Rangkuman Kimia Kelas 12 dari Larutan dan Koloid hingga Polimer
Di tahun 2026, Pemerintah Indonesia telah memperketat implementasi nilai ekonomi karbon. Industri yang menerapkan kimia hijau mendapatkan keuntungan berupa efisiensi pembayaran pajak karbon karena mampu menekan emisi secara signifikan sejak dari proses produksi.
Meskipun potensi pengembangan kimia hijau sangat besar mengingat kekayaan biodiversitas Indonesia, tantangan utama tetap ada pada ketersediaan teknologi lokal dan investasi awal. Namun, dengan tumbuhnya Kawasan Industri Hijau di berbagai wilayah, peluang untuk menjadi pelopor ekonomi hijau di Asia Tenggara semakin terbuka lebar.
Tahun ini, Indonesia semakin serius mengintegrasikan Kimia Hijau melalui pengembangan Kawasan Industri Hijau dan sertifikasi industri hijau. Perusahaan yang mengadopsi prinsip ini tidak hanya membantu lingkungan, tetapi juga mendapatkan insentif pajak dan daya saing lebih tinggi di pasar internasional yang kini sangat sensitif terhadap isu ESG (Environmental, Social and Governance).
Baca juga: Rangkuman Kimia Kelas 11 dari Struktur Atom sampai Kesetimbangan
Kimia hijau bukan sekadar pilihan etis, melainkan keharusan strategis dalam pembangunan berkelanjutan. Melalui integrasi 12 prinsip kimia hijau, Indonesia dapat mewujudkan industri yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga selaras dengan kelestarian ekosistem bumi.
1. Mengapa kimia hijau disebut juga kimia berkelanjutan? Karena tujuannya adalah memastikan aktivitas kimia saat ini tidak merusak kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka, sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
2. Apa contoh penerapan kimia hijau dalam kehidupan sehari-hari? Penggunaan bioplastik yang mudah terurai, deterjen ramah lingkungan yang bebas fosfat, dan cat dengan kadar VOC (Volatile Organic Compounds) rendah.
Baca juga: Rumus Empiris dan Rumus Molekul Memahami Kimia Dasar
3. Bagaimana peran katalis dalam kimia hijau? Katalis berperan meningkatkan efisiensi reaksi, sehingga produk dapat dihasilkan lebih cepat dengan energi yang lebih sedikit dan limbah yang lebih minim.
4. Apa perbedaan kimia hijau dan kimia lingkungan? Kimia lingkungan fokus pada fenomena kimia di alam, sedangkan kimia hijau fokus pada desain proses industri agar tidak mencemari lingkungan.
5. Mengapa ekonomi atom penting? Karena semakin tinggi ekonomi atom, semakin sedikit bahan baku yang terbuang menjadi limbah.
Baca juga: Oksidasi Adalah Proses Penting dalam Reaksi Kimia
6. Apakah kimia hijau lebih mahal? Awalnya mungkin membutuhkan investasi teknologi, namun dalam jangka panjang lebih hemat karena mengurangi biaya pengolahan limbah dan konsumsi energi. (I-2)
PENAFIAN
Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved