Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM rangka memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional 2025, roadshow Teras Perwira digelar di tiga kota besar, yakni Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Kegiatan ini menghadirkan lokakarya bahasa isyarat sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat budaya teman-teman Tuli, mulai dari cara berkomunikasi hingga identitas yang melekat pada komunitas tersebut.
Acara ini dihadiri oleh Rivana Mezaya, Director of Digital and Sustainability Grab Indonesia, dan berkolaborasi dengan GERKATIN (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia), PUSBISINDO (Pusat Bahasa Isyarat Indonesia), serta Konekin (Koneksi Indonesia Inklusif).
Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk menumbuhkan semangat menjadi teman komunikasi, teman empati, dan teman kolaborasi dalam membangun ekosistem yang lebih inklusif.
Salah satu pengajar PUSBISINDO, Laura Lesmana, membagikan sejumlah wawasan mengenai Deaf Culture (Budaya Tuli) yang diterjemahkan oleh juru bahasa isyarat. Berikut poin-poin utama yang disampaikan:
Bahasa isyarat merupakan hak dasar teman-teman Tuli dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas mereka. Bahasa ini berbeda dengan bahasa lisan karena menggunakan modalitas visual-gestural: menerima informasi lewat penglihatan, lalu mengekspresikannya dengan gerakan tangan, ekspresi wajah, dan tubuh.
Meski berbeda dari bahasa lisan yang berbasis audio-vokal, keduanya sama-sama memiliki struktur, tata bahasa, serta kedudukan yang setara.
Dalam budaya Tuli, setiap individu biasanya memiliki nama panggilan atau identitas visual khusus yang diberikan oleh komunitas. Nama ini digunakan untuk merujuk seseorang tanpa perlu memanggil secara vokal.
Misalnya, seseorang bernama Laura dipanggil dengan gerakan tertentu yang menjadi identitas uniknya. Identitas ini menjadi simbol kedekatan sekaligus cara unik untuk memanggil seseorang.
Karena komunikasi vokal tidak bisa dilakukan, cara memanggil teman Tuli dilakukan melalui isyarat visual. Komunikasi dilakukan melalui isyarat visual, misalnya menepuk bahu, melambaikan tangan, atau mendekati orang yang dituju. Hal ini memastikan pesan tersampaikan tanpa mengandalkan suara.
Kontak mata sangat penting dalam komunikasi karena bahasa isyarat membutuhkan keterhubungan visual yang langsung. Tanpa kontak mata, interaksi akan sulit dilakukan.
Berbeda dengan orang dengar tanpa kontak mata dapat berkomunikasi, teman Tuli membutuhkan fokus tatapan langsung agar percakapan bisa berjalan efektif.
Saat berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, jarak juga berperan penting. Jarak yang terlalu dekat bisa membuat gerakan tidak nyaman atau terhalang, sementara jarak yang terlalu jauh membuat visual sulit terbaca.
Umumnya, ada jarak “nyaman” yang memungkinkan percakapan lancar sekitar 40 cm. Namun, dalam situasi khusus jarak bisa sangat berdekatan seperti hubungan personal (pasangan, keluarga dekat) atau kondisi berdesakan.
Teman Tuli tidak selalu menyadari suara yang ditimbulkan dalam aktivitas sehari-hari, seperti menutup pintu keras atau saat makan. Hal ini wajar karena keterbatasan pendengaran, dan penting dihargai oleh orang dengar sekaligus saling menyesuaikan dalam suatu ruang komunikasi.
Perkembangan teknologi kini memperkecil hambatan komunikasi. Fitur video call dalam media sosial, memudahkan interaksi antara teman Tuli dan orang lain. Teknologi ini dapat membantu siapa pun untuk berinteraksi dengan teman Tuli.
Budaya Tuli juga tercermin dalam karya seni. Salah satu tokoh penting adalah Betty G. Miller dari Amerika Serikat yang dikenal sebagai pelopor Deaf Art. Di Indonesia, hal ini tercermin dalam komik-komik media sosial seperti Si Unyu Comics.
Laura menegaskan bahwa sebutan “Tuli” bukanlah kata yang kasar, melainkan identitas dan simbol kebanggaan.
"Kata tuli ini bukan kata yang kasar. Tuli ini merupakan identitas kami," ucap Laura Lesmana yang diterjemahkan oleh juru bahasa isyarat.
Indonesia berhasil meraih medali perunggu pada nomor beregu beranggotakan tiga orang dalam SEA Deaf Games ke-2.
Kontingen Tuli Indonesia (KTI) siap mewakili Merah Putih pada ajang 2nd Southeast Asia (SEA) Deaf Games 2025 yang akan berlangsung pada 20–26 Agustus 2025 di Jakarta.
Kecintaan Farah Mubbina terhadap dunia desain bermula sejak kecil. Hobi menggambar dan mengedit foto membawanya mengenal berbagai software desain grafis.
Penelitian terbaru menunjukkan terapi gen mampu mengembalikan pendengaran pada penderita tuli bawaan akibat mutasi gen OTOF.
Bagja Prawira, aktivis tuli ini rajin menyuarakan pemenuhan hak masyarakat tuli sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai budaya tuli.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved