Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA puluhan tahun, ilmuwan meyakini ketika ada bagian tubuh yang diamputasi, peta tubuh di otak akan mengalami perubahan besar-besaran. Namun, studi terbaru yang dipublikasikan dalam Nature Neuroscience justru mengungkapkan hal yang berbeda, peta tubuh di otak tetap stabil, bahkan setelah bertahun-tahun amputasi.
Studi dilakukan melibatkan tiga pasien dewasa yang akan menjalani amputasi lengan. Ilmuwan melakukan pemindaian otak dengan magnetic resonance imaging (MRI) sebelum dan beberapa kali setelah operasi. Beberapa pemindaian bahkan dilakukan sampai 5 tahun pasca operasi.
Selama pemindaian berlangsung, pasien diminta menggerakkan berbagai bagian tubuh. Hal ini untuk memetakan aktivitas otak dan menyusun peta tubuh otak.
Setelah operasi amputasi, pasien kembali menjalani pemindaian otak. Kali ini pasien diminta untuk mencoba menggerakkan jari pada anggota tubuh yang sudah diangkat, ini disebut dengan gerakan phantom.
"Gerakan phantom bukanlah khayalan. Sebagian besar amputan tetap merasakan sensasi yang sangat nyata pada anggota tubuh mereka yang sudah tidak ada secara fisik. Ini memberi kami kesempatan langka untuk membandingkan peta tangan di otak sebelum dan sesudah amputasi pada orang yang sama," kata peneliti dari University of Pittsburgh, Malgorzata Szymanska, dikutip dari Science Alert.
Peneliti menemukan pada ketiga pasien, peta tangan di otak tetap hampir tidak berubah dan tidak diambil alih oleh bagian tubuh lain. Stabilitas saraf ini membantu menjelaskan mengapa begitu banyak pasien amputasi yang masih merasakan anggota tubuh mereka yang sudah hilang.
Bagi sebagian pasien amputasi, sensasi phantom ini bukanlah hal yang netral. Seringkali ini justru menyakitkan dan dirasakan seperti rasa terbakar, tertusuk, atau gatal. Selama bertahun-tahun, efek tersebut dianggap sebagai reorganisasi otak terhadap peta tubuh.
Menurut ahli, hasil temuan ini penting untuk pengembangan anggota tubuh prostetik dan komputer otak berupa brain-computer interface (BCI).
"Hasil kami menunjukkan otak manusia memiliki model tubuh yang tangguh, yang tetap mempertahankan representasi tubuh meski input sensorik hilang. Bagi amputan, ini berarti anggota tubuh yang hilang tetap 'hidup' di otak," tandas Malgorzata. (H-2)
Santri Ponpes Al Khoziny, Syehlendra Haical (13), terpaksa menjalani amputasi kaki kiri setelah mengalami dead limb akibat musala ambruk di Sidoarjo.
Saat kehilangan rasa pada kaki, seseorang mungkin tidak merasakan kerikil di dalam kaus kaki atau lepuh pada kaki. Itu dapat menyebabkan luka dan bisul yang dapat terinfeksi.
Kerusakan saraf yang terjadi di kaki, yang dikenal sebagai neuropati diabetik, seringkali membuat penderita tidak menyadari adanya luka atau cedera. Hal ini meningkatkan peluang luka
Sekitar 20 persen orang yang mengidap luka diabetes memerlukan amputasi kaki.
Kebutaan pada diabetesi bisa dicegah dengan mengendalikan kadar gula darah, kolesterol, dan tekanan darah secara bersamaan serta melakukan skrining kesehatan retina sejak dini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved