Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBAKARAN hutan memang berkurang, tetapi jumlah manusia yang terdampak justru melonjak drastis. Studi terbaru mengungkap 440 juta orang kini tinggal di zona rawan kebakaran.
Meskipun total area terbakar menurun 26% dari 2002 hingga 2021, paparan manusia justru meningkat hampir 40%.
Penelitian ini dipublikasikan pada 21 Agustus di jurnal Science oleh peneliti dari Universitas California, Irvine, dan lembaga lainnya. Data populasi yang dianalisis mencakup lebih dari 18,6 juta catatan kebakaran
Studi ini menyoroti Afrika sebagai pusat paparan manusia terhadap kebakaran hutan. Kebakaran di AS, Kanada, dan Australia sering ramai diberitakan, tetapi 85% paparan manusia ada di Afrika.
Setengah paparan global berasal dari lima negara di Afrika Tengah, yakni Kongo, Sudan Selatan, Mozambik, Zambia, dan Angola. Sebaliknya, Amerika Serikat, Eropa, dan Australia menyumbang kurang dari 2,5%.
Para peneliti memperkirakan sekitar 440 juta orang terpapar kebakaran yang mengancam tempat tinggal mereka. Jumlah ini setara dengan populasi seluruh Uni Eropa, dengan kenaikan rata-rata 382.700 orang setiap tahun akibat pertumbuhan penduduk dan perpindahan ke zona rawan.
“Paradoks global antara berkurangnya area kebakaran dan meningkatnya dampak manusia yang kami temukan … sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya tumpang tindih antara pemukiman manusia dan lanskap rawan kebakaran," kata rekan penulis Amir AghaKouchak, Profesor Teknik Sipil dan Lingkungan di Rektor UC Irvine.
Penelitian mencatat intensitas kebakaran semakin tinggi di Amerika Utara dan Selatan. Faktor pemicu utama adalah perubahan iklim yang memperparah "cuaca kebakaran" ekstrem.
Kondisi cuaca, seperti suhu panas, kelembaban rendah, dan angin kencang meningkat 50% dalam empat dekade terakhir. Frekuensi kebakaran ekstrem bahkan meningkat empat kali lipat dari 1990 hingga 2022.
Berbeda dengan Amerika, paparan kebakaran di Eropa dan Oseania justru menurun. Perpindahan penduduk dari desa ke kota dianggap menjadi faktor utama penurunan risiko di wilayah tersebut.
Akibatnya, makin sedikit orang tinggal di dekat hutan. Hal ini menegaskan bahwa faktor sosial dan lingkungan berperan penting dalam membentuk risiko kebakaran.
Amir AghaKouchak menegaskan pentingnya mitigasi proaktif seperti pengelolaan vegetasi melalui kebakaran terkendali, edukasi publik, dan rekayasa untuk mengurangi risko kebakaran akibat aktivitas manusia.
"Seiring perubahan iklim memperparah cuaca kebakaran dan populasi global terus meluas ke zona rawan kebakaran, mitigasi proaktif akan semakin penting untuk mengurangi risiko bencana kebakaran hutan di masa mendatang," ujar AghaKouchak.
Pencegahan sejak awal, edukasi masyarakat, dan tata kelola hutan yang baik dinilai penting untuk melindungi jutaan nyawa dari ancaman kebakaran hutan. (Science Daily/Z-2)
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kasus DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Itu merupakan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim,
KERUSAKAN ekosistem global dan perubahan iklim tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga memicu perubahan serius dalam hubungan antara manusia dan nyamuk.
Peneliti ciptakan alat 'Stomata In-Sight' untuk mengamati pori-pori daun saat bernapas. Teknologi ini diharapkan mampu menciptakan tanaman yang lebih hemat air.
Studi terbaru mengungkap masa depan budidaya alpukat di India. Meski permintaan tinggi, perubahan iklim dan emisi karbon mengancam keberlanjutan panen.
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana pola hujan ekstrem mempercepat pelepasan karbon tanah ke atmosfer dan bagaimana biochar menjadi kunci ketahanan tanah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved