Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
SATUAN Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orangtua bahwa anak sudah bisa diimunisasi campak sejak usia 9 bulan, sesuai dengan anjuran Kementerian Kesehatan.
"Imunisasi campak dan rubela MR diberikan pada usia 9 bulan, kemudian diulang dosis kedua pada usia 18 bulan," kata Ketua Satgas Imunisasi IDAI Prof Hartono Gunardi, dikutip Minggu (31/8).
Sesuai dengan anjuran Kemenkes, seorang anak perlu mendapatkan tiga dosis vaksin campak. Dosis ketiga akan diberikan saat anak usia 7 tahun dan biasanya dilakukan di sekolah saat bulan imunisasi nasional.
Vaksin campak perlu diulang untuk membentuk antibodi terhadap penyakit. Ia menjelaskan ketika diberikan vaksin, antibodi tubuh meningkat dan seiring waktu berjalan, ia juga akan menurun.
Ketika diberikan dosis vaksin campak kedua, pembentukan antibodi menjadi jauh lebih cepat sehingga kadar antibodi tubuh akan jauh lebih tinggi dibandingkan saat diberikan dosis pertama.
"Menetapnya antibodi akan jauh lebih panjang dibandingkan satu dosis saja," ujarnya.
Ketika anak diberikan satu dosis vaksin campak pada usia yang dianjurkan, perlindungan terhadap penyakit mencapai 85%. Kemudian,
pada dosis kedua, perlindungan meningkat menjadi 95% hingga 97%.
"Jadi, luar biasa sekali perlindungannya, jauh lebih tinggi dari perlindungan yang diberikan vaksin covid-19," kata dia.
IDAI mengajak orangtua untuk selalu mengecek kelengkapan vaksinasi anak dan memberikan vaksinasi sesuai dengan anjuran Kemenkes. Jika ada vaksinasi yang terlewat, anak bisa diberikan vaksinasi dosis berikutnya dan tidak perlu mengulang dari awal.
Menurut Hartono, "Tidak ada vaksin yang hangus."
Pilek, demam ringan, alergi makanan dan diare bukan halangan yang menyebabkan anak tidak boleh diimunisasi.
Dia menjelaskan anak yang tidak boleh diimunisasi adalah anak yang mendapatkan pengobatan kortikosteroid tinggi, misalnya penyakit ginjal bocor dan asma berat; mendapat pengobatan imunosurpresan seperti pada penyakit lupus; demam tinggi; gagal jantung; anemia berat; dan penyakit berat seperti leuekmia.
"Kita obati dulu penyakitnya, baru dilakukan imunisasi," kata Profesor Hartono. (Ant/Z-1)
Dengan mendapatkan imunisasi, anak dapat terhindar dari berbagai komplikasi berat berupa diare yang berkepanjangan, gangguan pernapasan serius sampai dengan terkena radang otak.
Dinkes Jakarta Barat menindaklanjuti temuan 38 kasus campak yang masuk kategori kejadian luar biasa atau KLB dengan penelusuran dan imunisasi
DINAS Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang terus mengintensifkan upaya pencegahan penyakit menular, salah satunya melalui program imunisasi campak gratis bagi masyarakat.
Kenali gejala campak pada anak sejak dini. Waspadai komplikasi campak dan cegah dengan imunisasi rutin.
DINAS Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKPP-KB) telah melakukan imunisasi terhadap 11.190 anak atau 15,1% dari total 73.969 sasaran untuk menekan kasus campak.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Kelengkapan imunisasi sesuai usia merupakan benteng terkuat bagi anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved