Headline

Istana minta Polri jaga situasi kondusif.

Riset Ungkap Pentingnya Papua sebagai Habitat Kunci Hiu Paus Muda

Atalya Puspa    
29/8/2025 07:55
Riset Ungkap Pentingnya Papua sebagai Habitat Kunci Hiu Paus Muda
Ilustrasi(Dok Ist)

SEBUAH riset terbaru yang diterbitkan di Frontiers in Marine Science mengungkap dinamika populasi hiu paus (Rhincodon typus) di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) atau Bird Head Seascape, Papua. Penelitian ini menjadi studi pertama yang secara komprehensif menyoroti populasi, pola residensi, dan ancaman terhadap spesies terancam punah ini di empat wilayah utama: Teluk Cenderawasih, Kaimana, Raja Ampat, dan Fakfak.

Riset berlangsung selama 13 tahun, sejak September 2010 hingga Oktober 2023, dipimpin oleh Edy Setyawan dari Elasmobranch Institute Indonesia. Tim melibatkan peneliti Indonesia dari BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Kaimana dan Konservasi Indonesia, serta mitra internasional dari Conservation International, University of Western Australia, University of Adelaide, dan Shark Research Foundation.

Edy menjelaskan, penelitian menggunakan metode identifikasi fotografis (Foto ID) yang memanfaatkan pola totol unik pada tubuh hiu paus. Dari 1.118 pengamatan, teridentifikasi 268 individu, sebagian besar ditemukan di sekitar bagan apung. Sebanyak 159 individu tercatat di Teluk Cenderawasih dan 95 di Kaimana.

Salah satu temuan utama adalah tingginya residensi hiu paus di Teluk Cenderawasih, dengan rata-rata 77 hari. Angka ini dua kali lipat lebih lama dibandingkan Kaimana yang rata-rata 38 hari. Bahkan, ada dua individu yang masih teramati di kawasan ini lebih dari 10 tahun.

”Temuan kami menunjukkan bahwa BLKB menjadi habitat penting bagi populasi hiu paus muda yang menggunakan kawasan ini untuk makan dan tumbuh berkembang sebelum mereka bermigrasi ke laut lepas. Di seluruh perairan Indo-Pasifik, populasi hiu paus terus menurun hingga 63%. Dengan demikian, keberlangsungan populasi hiu paus di BLKB sangat penting dalam upaya pemulihan populasi ikan yang terancam punah ini,” ungkap Edy Setyawan dalam keterangan resmi, Jumat (29/8). 

Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia Iqbal Herwata menambahkan bahwa BLKB, khususnya Teluk Cenderawasih dan Kaimana, berfungsi sebagai nursery ground atau habitat pembesaran hiu paus muda. 

“Selain keterkaitannya yang erat dengan perikanan bagan, temuan ini juga menunjukkan bahwa dinamika populasi hiu paus di empat lokasi didominasi oleh jantan muda, dengan mayoritas individu berukuran 4–5 meter yang menandakan dominasi habitat pembesaran. Temuan ini menguatkan pentingnya kawasan ini sebagai habitat kunci hiu paus sebagai titik singgah dalam jangka waktu lama,” kata Iqbal.

Penelitian juga menemukan bahwa 76,9% hiu paus mengalami luka, mulai dari abrasi, sayatan, amputasi sirip, hingga bekas gigitan pemangsa. Sebagian kecil luka disebabkan baling-baling kapal (2,4%), namun proporsi luka akibat interaksi manusia tetap tinggi, terutama di Kaimana yang mencapai 83,7%.

“Penelitian ini merekomendasikan desain bagan ramah hiu paus, penerapan kode etik wisata, dan pengawasan ketat aktivitas perikanan serta pelayaran. Konservasi hiu paus adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya ilmuwan, tetapi juga masyarakat, pelaku wisata, dan pelaut. Pariwisata hiu paus dapat menjadi penggerak ekonomi lokal, namun harus dikelola dengan aturan yang jelas agar tidak menimbulkan luka pada hiu paus maupun dampak negatif pada ekosistem,” ujar Iqbal.

Iqbal juga menekankan perlunya regulasi modifikasi bagan, seperti menghilangkan bagian tajam untuk mengurangi risiko luka. Tim peneliti mendorong pengembangan sains warga dengan melibatkan wisatawan, nelayan, dan masyarakat lokal dalam pengumpulan data, serta penggunaan teknologi pelacakan satelit untuk memahami lebih jauh pola migrasi dan penggunaan habitat hiu paus. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya