Headline
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis gizi klinik dari Universitas Indonesia Erwin Christianto mengatakan jeda waktu makan dan camilan yang terlalu pendek dapat menyebabkan penumpukan lemak di bawah perut atau lemak viseral.
"Sekarang makan, setengah jam lagi kita jalan, ketemu jajan, makan. Jadi, waktu makan dengan jajan yang terlalu dekat, itu akan menyebabkan penumpukan terutama penumpukan lemak viseral," kata Erwin, dikutip Rabu (27/8).
Secara umum, penumpukan lemak bisa terjadi di dua tempat yaitu di bawah kulit dan di bawah organ tubuh. Lemak yang bertumpuk di bawah kulit ditandai dengan bisa dicubit, sementara lemak di bawah organ tubuh, misalnya perut, bersifat lebih keras dan sulit dicubit.
Erwin mengingatkan bahwa lemak viseral atau yang biasa disebut obesitas sentral bersifat lebih jahat dibandingkan lemak di bawah kulit karena bisa menimbulkan penyakit tambahan, seperti resistensi insulin pada diabetes.
Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 prevalensi obesitas sentral (lingkar perut melebihi batas normal) secara nasional 36,8% pada penduduk berusia 15 tahun ke atas.
Sekjen Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI) itu mengatakan semakin banyak pilihan makanan, terutama makanan dalam kemasan dan tinggi kalori, maka risiko untuk perlemakan di bawah perut juga semakin meningkat.
Dia menyarankan untuk makan tiga kali sehari pagi, siang dan malam terdiri dari karbohidrat, protein, sayur, dan buah dalam satu piring dan tidak berlebihan.
Erwin juga menjelaskan bahwa buah dikonsumsi sebelum makanan utama adalah persepsi yang keliru. Di dalam pencernaan, makanan akan dicerna dengan cara yang sama sehingga tidak ada perbedaan mana yang dikonsumsi lebih dulu.
Dia juga menyarankan jeda antara makan utama dengan camilan sebanyak dua sampai tiga jam dan tidak mengonsumsi camilan secara berlebihan.
"Kira-kira 2-3 jam. Tapi, mungkin harus diperhatikan camilannya juga, ya. Kalau sekali makan satu bungkus, ya sama aja," kata Erwin.
Selain pola makan dan apa yang dimakan, Erwin juga mengingatkan masyarakat untuk mengelola stres, yang bisa memengaruhi hormon yang menyebabkan sulit tidur dan juga penyebab obesitas. (Ant/Z-1)
Di dalam tubuh manusia, terdapat hormon tertentu yang bertugas mengatur nafsu makan, rasa kenyang, hingga rasa lapar.
Aturan pemberian makan anak atau feeding rules tidak hanya bicara soal apa yang dimakan, tetapi mencakup tiga pilar utama: jadwal, prosedur, dan lingkungan.
Istilah "makan terakhir" biasanya merujuk pada hidangan pamungkas yang diinginkan seseorang sebelum menutup usia.
Minat makan anak sangat dipengaruhi oleh pengalaman sensorik, termasuk variasi rasa dan aroma.
Pada fase krusial saat mengonsumsi MPASI, anak perlu diperkenalkan dengan berbagai spektrum rasa agar mereka lebih terbuka terhadap variasi pangan di kemudian hari.
Susu sejatinya berfungsi sebagai bagian dari makanan lengkap atau sekadar makanan selingan, terutama saat sarapan.
Meski nampak sepele, momen makan cemilan dapat membuat anak merasa dilihat, dihargai, dan dicintai oleh orangtua.
Obesitas pada anak salah satu faktornya adalah pola makan. Selain karena overnutrisi, mengonsumsi nutrisi yang tinggi gula dan tepung juga menjadi faktornya.
Berbeda dengan lapar fisik, lapar emosi datang secara mendadak dan sering kali dipicu oleh perasaan tertentu, baik yang positif maupun negatif.
Berbuka puasa menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Jajanan sehat dapat diartikan sebagai jajanan yang segar atau bukan berasal dari makanan kemasan dan pabrikan. Salah satu contohnya adalah buah-buahan, sayuran, dan lain sebagainya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved