Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
JANGAN anggap remeh indra penciuman manusia. Berdasarkan penelitian terbaru, indra penciuman lebih peka dalam menangkap urutan bau daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Charles Darwin adalah salah satu orang yang mengkritik indera penciuman manusia, dengan menyatakan bahwa indera ini "hanya memberikan sedikit manfaat" bagi manusia. Selama ini, para ilmuwan juga berpikir bahwa kemampuan penciuman manusia relatif lemah.
"Secara intuitif, setiap hirupan terasa seperti mengambil gambar lingkungan kimiawi yang ada di sekitar kita selama waktu yang cukup lama," kata Dr. Wen Zhou, salah satu penulis studi dari Chinese Academy of Sciences. Ia menambahkan bahwa ketika kita mencium bau, biasanya kita merasakannya sebagai satu aroma yang utuh, bukan campuran bau yang datang pada waktu yang berbeda. "Penciuman juga terpisah dalam waktu, terjadi beberapa detik dari satu aroma ke aroma lainnya," jelasnya.
Namun kini, para peneliti telah menemukan indera penciuman manusia bekerja lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Mereka menunjukkan manusia sama sensitifnya terhadap perubahan bau yang cepat sebagaimana kita sensitif terhadap perubahan warna yang cepat.
Zhou menjelaskan bahwa tantangan utama dalam mempelajari indera penciuman adalah kesulitan menciptakan kondisi di mana berbagai aroma bisa disajikan dalam urutan yang tepat dalam satu hirupan. Namun, dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Human Behaviour, Zhou dan timnya berhasil menciptakan alat yang memungkinkan hal tersebut.
Alat tersebut menghubungkan dua botol berisi aroma berbeda ke sebuah nosepiece (alat pencium) melalui tabung dengan panjang berbeda. Tabung ini dilengkapi dengan katup mini yang terbuka saat diendus.
Dengan alat ini, dua aroma dapat mencapai hidung dengan selisih waktu yang sangat kecil, tepatnya sekitar 18 milidetik (ms).
Tim peneliti kemudian melakukan serangkaian eksperimen melibatkan 229 peserta. Dalam satu percobaan, partisipan diberikan aroma apel dan bunga, yang melalui tabung dengan panjang berbeda sehingga satu aroma mencapai hidung sekitar 120-180 ms lebih cepat dari yang lain. Para peserta diminta mengendus alat tersebut dua kali dan melaporkan apakah urutan bau tersebut sama atau terbalik.
Hasilnya, peserta dapat membedakan urutan bau dengan benar dalam 597 dari 952 percobaan (63% dari waktu). Ketika eksperimen diulangi dengan 70 peserta lainnya menggunakan aroma lemon dan bawang, hasilnya tetap konsisten.
Penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa beberapa peserta mampu membedakan urutan bau dengan jarak waktu antara 40-80 ms, yang 10 kali lebih singkat dari perkiraan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa manusia dapat membedakan antara dua bau yang diberikan dalam urutan yang berbeda.
Meskipun demikian, peserta kesulitan menentukan bau mana yang muncul lebih dulu ketika urutan bau ditukar. Mereka hanya lebih baik dari peluang acak dalam tugas ini ketika menggunakan aroma seperti lemon dan bawang, dengan perbedaan waktu sekitar 167 ms.
Dalam kasus ini, peserta lebih cenderung melaporkan bau keseluruhan yang mereka cium lebih mirip dengan bau pertama dari dua aroma yang diberikan, menunjukkan bahwa urutan bau mempengaruhi persepsi kita.
"Secara keseluruhan, diskriminasi antara dua campuran aroma tidak bergantung pada kemampuan mengenali urutan aroma secara tepat," kata Zhou. "Sebaliknya, hal ini tampaknya didorong oleh mekanisme yang bekerja pada skala waktu yang jauh lebih cepat daripada yang terlibat dalam pengenalan komponen secara berurutan." (The Guardian/Z-3)
Penelitian ini menawarkan rekomendasi yang dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi tantangan keamanan regional.
Para ilmuan menemukan bahwa bagian otak yang awalnya dianggap hanya memproses penglihatan ternyata dapat memicu gema sensasi sentuhan.
Resiliensi petani merupakan syarat penting jika pengelolaan usaha kelapa di provinsi tersebut ingin berkelanjutan.
Hasil penelitian menemukan persoalan kental manis bukan hanya perihal ekonomi, tetapi juga regulasi yang terlalu longgar.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menilai Kitab Fikih Zakat karya Dr. Nawawi Yahya Abdul Razak Majene sangat relevan bagi pengelolaan zakat di era modern.
Efikasi masyarakat dan norma kelompok terbukti lebih berpengaruh terhadap partisipasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dibandingkan pendekatan berbasis rasa takut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved