Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi kejadian kebakaran hutan dan lahan pada 2024 tidak akan separah 2023. Hal itu disebabkan telah melemahnya el nino menuju netral pada periode Mei, Juni, Juli 2024 dan akan beralih menjadi la nina lemah pada Juli, Agustus, September 2024.
“Memang tahun ini tidak akan sekering 2023. Tapi musim kemarau akan hadir dan kita harus mewaspadai potensi adanya karhutla,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara virtual, Jumat (15/3).
Sebagai informasi, berdasarkan data yang diakses di laman sipongi.menlhk.go.id, luas karhutla pada 2023 tercatat seluas 1,1 juta hektare. Adapun, wilayah dengan luas kebakaran paling besar di antaranya Kalimantan Selatan 190.394 hektare, kalimantan Tengah 165.896 hektare, Papua Selatan 150.813 hektare, Sumatra Selatan 132.082 hektare dan Kalimantan Barat 111.848 hektare.
Baca juga : Riau Tetapkan Status Siaga Darurat Karhutla
Ardhasena melanjutkan, , pada periode Juli, Agustus dan September 2024, ada sejumlah daerah yang perlu wasapda akan potensi terjadinya karhutla, terutama di daerah-daerah yang memiliki lahan gambut. Misalnya pada bulan Juli 2024, memasuki puncak musim kemarau monsunal di beberapa wilayah, masih terdapat pola yang sama seperti bulan sebelumnya, namun dengan peningkatan intensitas dan luasan yang jauh lebih signifikan.
Beberapa wilayah dengan potensi karhutla risiko menengah dan risiko tinggi yang paling rawan di antaranya Provinsi Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Lampung, Sumatra Utara dan Nusa Tenggara Timur.
“Lalu pada periode Agustus hingga September 2024, saat puncak musim kemarau monsunal di beberapa wilayah, terdapat perluasan sekaligus perpindahan wilayah dengan potensi karhutla, baik kategori risiko menengah maupun risiko tinggi,” ucap Ardhasena.
Baca juga : Karhutla Masih Berpotensi Terjadi di Tiga Provinsi
Lalu terdapat peningkatan yang signifikan untuk wilayah rawan di pulau Sumatra pada bulan Agustus dan perluasan potensi karhutla ke wilayah pulau Kalimantan bagian selatan, Sumatra Selatan dan Jambi. Wilayah tersebut menjadi wilayah dengan kelas risiko paling luas pada periode terkait.
“Lalu wilayah Nusa Tenggara, Pulau Jawa bagian timur dan Papua bagian selatan menjadi wilayah-wulayah dengan kelas risiko tiggi paling signifikan pada September,” pungkas dia.
Berkaitan dengan karhutla, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan, pihaknya berperan di bidang pencegahan karhutla. Salah satu wilayah yang menjadi fokus utama pencegahan ialah Riau. Upaya pencegahan yang dilakukan ialah dengan teknologi modifikasi cuaca (TMC),
“BMKG bekerja sama dengan pemilik lahan dan pemerintah daerah. Kami juga telah menerima peraturan presiden bahwa perlu dibentuk kedeputian khusus di BMKG yang tugasnya mengoordinasikan penerapan TMC untuk pencegahan. Saat ini kami proses untuk mengisi SDM, kalau organisasi dan wadahnya sudah ada, lalu SDM-nya kita formalkan dan kami bekerja sama dengan BRIN untuk hal ini,” jelas Dwikorita. (Ata/Z-7)
Dari 11 daerah tersebut, total luasan Karhutla sebanyak 1.041,74 Hektare (Ha).
PTPN IV PalmCo memperkuat mitigasi Karhutla 2026 melalui kolaborasi dengan TNI-Polri dan pemantauan digital berbasis AI ARFINA.
UPAYA pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau terus dilakukan secara intensif.
Dari sebanyak 8 lokasi Karhutla di Riau, wilayah Kabupaten Pelalawan merupakan daerah yang cukup luas terdampak.
PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Riau resmi menetapkan status siaga darurat Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) per Jumat (13/2) yang berlaku hingga 30 November 2026 mendatang.
KEBAKARAN hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda Provinsi Riau terus meluas dan bahkan telah menembus hingga 745,5 hektare (ha).
Awal 2026 yang seharusnya berada dalam periode musim hujan justru ditandai dengan lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terutama di ekosistem gambut.
BMKG Stasiun Pekanbaru mendeteksi lonjakan signifikan titik panas di Provinsi Riau. Hingga Kamis pukul 07.00 WIB, jumlah hotspot tercatat mencapai 160 titik
Patroli pencegahan telah mulai digencarkan, khususnya di Provinsi Riau, untuk mengantisipasi peningkatan kerawanan karhutla.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Gelombang panas ekstrem melanda tenggara Australia. Enam kebakaran besar berkobar di Victoria, suhu tembus 48,9 derajat Celcius.
Cile dilanda krisis kebakaran hutan hebat. 20 orang tewas dan kota-kota di wilayah selatan hangus. Warga sebut tragedi ini lebih buruk dari tsunami.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved