Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim penghujan akan terjadi di sejumlah wilayah pada Januari hingga Februari 2024.
Dalam menanggapi hal itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyiapkan peralatan dan logistik untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah akibat musim penghujan.
“Dari informasi BMKG itu kita melihat di daerah-daerah mana yang ada potensi ancaman bencana di sana. Hidrometeorlogi basah kan banjir, banjir bandang, tanah longsor. Kita mengecek persiapan di daerah-daerah,” kata Deputi Bidang Logistik dan Peralatan BNPB Lilik Kurniawan saat dihubungi, Sabtu (9/12).
Baca juga : Hujan Lebat Guyur 13 Daerah, Banjir Masih Rendam Pantura
Lilik bilang, pihaknya telah melakukan pengecekan ulang peralatan yang telah dimiliki oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Semua BPBD harus melaporkan apakah peralatannya masih layak pakai atau sudah rusak. Jika sudah rusak, maka BNPB akan mengirimkan peralatan ke daerah-daerah tersebut dari gudang milik BNPB di wilayah Jatiasih, Jakarta Selatan.
Baca juga : BMKG Catat Ada Aktivitas Gempa Swarm di Kabupaten Bogor
Menurut dia, dalam menghadapi musim pengujan, ada beberapa wilayah yang menjadi fokus untuk persiapan peralatan dan logistik. Wilayah itu ialah yang setiap tahun mengalami bencana hidrometeorologi basah, di antaranya Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
“Untuk Sulawesi Selatan kami dalam posisi khawatir. Kemarin kami cek bendungan Bili-Bili. Kenapa? Karena kalau ada longsor semua material masuk ke bendungan itu. Jadi yang tadinya lifetimenya Bili-Bili itu 100 tahun jadi tinggal separuhnya. Ini yang kami khawatirkan kalau ada hujan besar bisa menyebabkan tanggul jebol. Karenanya kita melakukan antisipasi,” beber dia.
Beberapa peralatan yang dipantau dan dikirimkan BNPB ke BPBD di antaranya alat berat, tenda hingga perahu evakuasi. Selain wilayah prioritas, Lilik menyatakan pihaknya akan mendirikan gudang peralatan di wilayah-wilayah 3T. Hal itu dilakukan agar penanganan bencana di wilayah tersebut dapat dilakukan dengan cepat.
“Kalau wilayah 3T kan sulit dijangkau, butuh waktu 2 sampai 3 hari, sementara untuk bencana kuncinya 72 jam pertama. Daerah tersebut kemudian kami buatkan namanya gudang tactical, yang akan ditumpuk logistik. Jadi kalau ada apa-apa ditangani dengan cepat dan tidak menimbulkan korban,” jelas Lilik.
Di samping mempersiapkan peralatan di daerah, Lilik menyatakan pihaknya juga mempersiapkan alat berat di area jalan nasional yang akan dilewati masyarakat untuk merayakan llibur Natal dan Tahun Baru 2024.
“Koordinasi telah kami lakukan dengan PUPR untuk siaga Nataru. Kami sudah rapatkan tempat-tempat jalan besar yang akan dilewati masyarakat yang akan merayakan Nataru untuk mengantisipasi longsor,” beber dia.
Untuk menyediakan peralatan dan logistik, BNPB tidak bekerja sendiri. Ia menyatakan banyak dukungan yang datang dari kementerian dan lembaga lain seperti Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan hingga PUPR.
“Jadi memang belum semua daerah melaporkan apa yang mereka miliki. Daerah yang anggarannya kecil memang sangat menggantungkan BNPB. Tapi ada dukungan dari berbagai kementerian untuk peralatan dan ada juga perusahaan-perusahaan yang mendukung untuk pengadaan alat,” pungkas dia. (Z-4)
Total korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi di tiga provinsi mencapai 1.198 orang, sementara korban hilang tercatat sebanyak 144 orang.
Kondisi ini dipicu oleh penguatan Monsun Asia dan adanya sistem tekanan rendah di selatan Nusa Tenggara Barat yang membentuk pola konvergensi atau pertemuan angin.
Bahkan banjir merendam sejumlah daerah tersebut, juga mengakibatkan kerusakan sejumlah infrastruktur seperti tanggul jebol, jalan l, jembatan hingga sejumlah perkantoran dan sekolah rusak
Kementerian Pertanian mulai bergerak memulihkan ribuan hektar lahan pertanian yang rusak akibat bencana hidrometeorologi di Sumatra Barat (Sumbar).
Di Indonesia, bencana jenis ini menyumbang lebih dari 90% dari total kejadian bencana setiap tahunnya.
Selain itu, perhatikan tanda alam seperti awan Cumulonimbus yang berbentuk seperti bunga kol berwarna gelap, yang seringkali menjadi penanda akan terjadinya hujan lebat disertai petir.
Melihat kondisi cuaca yang masih hujan hingga saat ini, ia juga meminta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk ikut serta melakukan modifikasi cuaca.
BANJIR dan tanah longsor yang terjadi di Desa Tempur, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, telah memutus akses jalan masyatakat dan merusak rumah warga.
Bahkan banjir merendam sejumlah daerah tersebut, juga mengakibatkan kerusakan sejumlah infrastruktur seperti tanggul jebol, jalan l, jembatan hingga sejumlah perkantoran dan sekolah rusak
KEPALA Badan Penanggulangan Bencana Nasional Letjen TNI Suharyanto menegaskan, pemerintah tidak membeda-bedakan satu daerah dengan daerah yang lain.
Ratusan unit huntara tersebut tersebar di Kecamatan Baktiya sebanyak 215 unit, Baktiya Barat 5 unit, Dewantara 115 unit, Sawang 241 unit, dan Kecamatan Seunuddon 135 unit.
BNPB bersama kementerian/lembaga, pemerintah daerah, unsur TNI/Polri, serta mitra swasta terus mempercepat pembangunan hunian sementara (huntara) di Aceh Tamiang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved