Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
UNIVERSITAS Terbuka (UT) resmi meluluskan mahasiswa doktor pertamanya di usia kampus ke-39. Doktor pertama dari UT itu adalah Wali Kota Madiun Maidi yang berhasil lulus dengan predikat sangat memuaskan setelah menjalani Ujian Sidang Terbuka Tugas Akhir Program Doktor Administrasi Publik (TAPD) di Kampus UT, Tangerang Selatan, Selasa (21/11).
Rektor Universitas Terbuka Prof. Ojat Darojat M.Bus. Ph.D. menilai momen ini merupakan sebuah kebanggaan bagi perguruan tinggi negeri ke-45 di Indonesia ini.
"Ini adalah sebuah kebanggaan ketika UT dipercaya oleh pemerintah membuka program doktor. Ini merupakan program yang baru karena dalam 39 tahun kebanyakan program diploma dan sarjana," ungkap Prof. Ojat dalam konferensi pers selepas sidang.
Baca juga: Universitas Terbuka Wisuda 1.831 Orang, Salah Satunya Mantan Wakil Ketua BPK
"Dalam perkembangan berikutnya kita juga diberi kesempatan membuka program jenjang S2 (magister). Alhamdulillah di tahun-tahun terakhir di awal kepemimpinan saya sebagai rektor, baru UT diberikan kepercayaan oleh pemerintah untuk membuka program jenjang doktor," tambahnya.
Ia berharap lahirnya doktor baru akan semakin menambah kemanfaatan dan keberkahan UT dalam berkontribusi meningkatkan kualitas sumber daya di Tanah Air. Pada 23 November besok, UT juga akan melakukan sidang tertutup untuk calon doktor baru lainnya dari Program Studi Manajemen.
Baca juga: FST Universitas Terbuka Gelar The 3rd International Seminar of Science and Technology
Prof. Ojat menyampaikan saat ini sudah banyak juga mahasiswa S3 yang sedang aktif mengikuti studi di dua prodi doktor UT. Jumlahnya sekitar 70 mahasiswa doktor.
"Ke depan insya Allah kita juga akan membuka program studi jenjang doktor yang baru, khususnya untuk ilmu-ilmu keguruan dan FST (Fakultas Sains dan Teknologi). Biar setiap fakultas itu ada representasinya. Kan sekarang baru ada dari FHISIP (Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik) dan FEB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis). Sementara dari FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) dan FST belum ada," paparnya.
Rencananya, program doktor untuk FKIP dan FST bisa segera dibuka pada semester 2 tahun depan. "Supaya ada kesempatan juga bagi mereka yang bekerja sebagai profesional di bidang-bidang yang terkait dengan masalah sains dan teknologi," ujar Prof. Ojat.
Baca juga: Universitas Terbuka Dinamis Manfaatkan Artificial Intelligence
Wali Kota Madiun Maidi sendiri lulus sebagai doktor dari Program Studi Doktor Administrasi Publik (Prodi DAP). Pada sidang hari ini, Dr. Maidi mempresentasikan Tugas Akhir Program Doktor Administrasi Publik (TAPD) berjudul “Model Evaluasi Kebijakan Smart City: Studi Kasus Kota Madiun”.
Sidang Terbuka TAPD dipimpin oleh Ketua Sidang sekaligus Rektor UT Prof. Ojat Darojat, Sekretaris Dr. Susanti, Promotor Dr. Sofyan Arifin (UT), Co Promotor I Prof. Dr. Bambang Supriyono (Universitas Brawijaya), Co Promotor II Dr. Akadun (LLDikti Wilayah IV).
Lalu ada penguji eksternal I Prof. Dr. Yulianto (Universitas Lampung), penguji eksternal II Prof. Dr. Daryono (UT), dan penguji eksternal III Dr. H. Bambang Soesatyo (Ketua MPR).
Dr. Maidi mengungkapkan kegembiraannya usai meraih gelar doktor. Ia berharap dapat memberikan contoh bagi pemimpin lain atau calon pemimpin untuk menyempurnakan jenjang akademik.
"Untuk pemimpin, dia bisa ikuti perubahan dan ikut berubah itu (dari) ilmu yang dimilki. Semakin ilmunya banyak kepemimpinannya akan sempurna," katanya kepada awak media selepas sidang.
"Saya sebagai wali kota memberikan contoh bahwa ke depan saya harus menciptakan pemimpin yang lebih baik dari saya tetapi saya hari ini harus yang terbaik dulu. Ini yang kita lakukan di Kota Madiun," imbuhnya.
Ia pun menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Universitas Terbuka yang memungkinkan setiap orang bisa menempuh pendidikan dari mana saja.
"UT ada di mana-mana. UT bisa memberikan ilmu tidak pandang kita ada di mana tapi UT bisa melayani kita semua. Kesempatan inilah yang harus digunakan," pungkasnya. (Ifa/S-4)
Doktor Alim Setiawan Slamet resmi menggantikan Rektor IPB sebelumnya Profesor Arif Satria.
Selain memberangkatkan tim survei yang terdiri dari tiga orang ahli di bidang penanggulangan kedaruratan kebencanaan, maka di kampus juga disiapkan tim gabungan medis, IT, psikolog.
Rektor UICI Prof Asep Saefuddin menegaskan bahwa para cendekiawan memiliki tanggung jawab besar dalam membangun ekonomi berbasis inovasi dan teknologi.
Prof. Farida Patittingi, yang merupakan Wakil Rektor Bidang SDM, Alumni, dan Sistem Informasi Unhas yang ditunjuk oleh Mendikti Ristek untuk mengisi posisi Plh Rektor.
Sebagai Guru Besar sekaligus Rektor UPJ, Prof. Elisabeth Rukmini berkomitmen memperkuat tridharma perguruan tinggi.
Pelantikan di lakukan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Prof. Ir. Togar Mangihut Simatupang, M.Tech., Ph.D., IPU.
Fokus utama kajian dari Anisha adalah penegasan posisi BUMN sebagai entitas hukum terpisah (separate legal entity) yang tetap mengemban mandat konstitusional demi kemakmuran rakyat.
Laely meraih IPK sempurna 4,0, menyelesaikan studi hanya dalam 2 tahun 2 bulan menjadikannya salah satu lulusan doktor tercepat, dan terbaik dalam sejarah Program Doktor Fikom Unpad.
Menurut Khofifah, penguatan sumber daya manusia (SDM) tersebut akan menjadi penguatan NU di Jawa Timur untuk menjemput Indonesia Emas Tahun 2045.
Penulisan gelar doktor, baik di Indonesia maupun secara internasional, memiliki aturan khusus yang harus diikuti. Ini aturannya.
Meskipun sering terdengar mirip, gelar "doktor" dan "dokter" memiliki perbedaan signifikan. Catat ini perbedaannya.
Masa studi Bahlil sesuai dengan Peraturan Rektor UI Nomor 16 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Program Doktor di UI.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved