Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
GURU Besar Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University Daniel Murdiyarso mengatakan, kondisi panas yang terjadi di dunia saat ini merupakan akibat dari gabungan perubahan iklim dan El Nino.
"Panasnya cuaca saat ini adalah gejala yang timbul akibat gabungan perubahan iklim dan anomali positif SST (suhu muka laut) atau El Nino," ungkapnya kepada Media Indonesia, Sabtu (10/6).
Daniel menjelaskan, fenomena perubahan iklim termasuk pemanasan global terjadi secara gradual atau perlahan tapi pasti dan dipicu oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca.
Baca juga : BMKG: Kondisi Panas Disebabkan Fenomena El Nino dan IOD
Sementara El Nino adalah cuaca ekstem yang ditimbulkan oleh anomali suhu muka laut di Lautan Pasifik.
Dia menambahkan, El Nino terjadi secara periodik atau episodik dengan ciri panas dan kering di dalam kurun waktu sepuluh tahunan atau decadal karena pada episode yang lain terjadi fenomena yang sebaliknya atau disebut La Nina.
Baca juga : Pemanfaatan Bendungan akan Terus Dioptimalkan untuk Menghadapi El Nino
"Saat ini El Nino memang semakin menguat dengan gejala yang ditandai oleh cuaca kering dan suhu tinggi karena anomali suhu muka laut mencapai 1 derajat Celcius. Masih ingat El Nino kuat 2015? Itu dipicu oleh anomali suhu muka laut 3 derajat celcius," ujar Daniel.
Pria yang juga Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) tersebut menambahkan, berbeda dengan El Nino, perubahan iklim merupakan fenomena global yang berjalan terus dengan tren meningkat.
"Ada atau tidak ada El Nino atau anomali suhu muka laut sekalipun jika emisi gas rumah kaca global tidak diturunkan, perubahan iklim akan terus meningkat," tegasnya.
Daniel menekankan meskipun misalnya tahun depan terjadi anomali negatif suhu muka laut atau La Nina, perubahan iklim yang ditandai peningkatan suhu akan terus berlangsung jika emisi gas rumah kaca tidak diturunkan. (Z-5)
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Meski perubahan iklim mengancam es laut, beruang kutub di Svalbard justru ditemukan lebih sehat dan gemuk. Apa rahasianya?
Di tengah krisis iklim yang kian nyata, arah kebijakan negara disebut belum beranjak dari pendekatan lama yang justru memperparah kerusakan lingkungan.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, mengingatkan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian, untuk berhati-hati dalam menyusun tata kelola pangan 2026.
Di Indonesia, bencana jenis ini menyumbang lebih dari 90% dari total kejadian bencana setiap tahunnya.
Studi terbaru mengungkap fenomena sinkronisasi krisis air global akibat siklus El Niño-La Niña. Bagaimana dampaknya terhadap ketersediaan pangan dunia?
BMKG mengungkap secara spesifik, La Nina lemah masih akan bertahan di Indonesia pada periode Januari-Februari-Maret.
Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan fenomena La Nina diprediksi akan terus terjadi hingga Maret 2026.
Pantau Gambut mengatakan kondisi 2025 masih menunjukkan pola rawan karhutla, terutama di tengah puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved