Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
RISIKO sakit tidak hanya bagi perokok dan perokok pasif saja. Petani tembakau menjadi kelompok berisiko terpapar dampak nikotin lebih tinggi karena setiap harinya berkaitan erat dengan tembakau, mulai dari menanam sampai dengan panen.
Berdasarkan beberapa penelitian menyatakan nikotin yang terkandung dalam tanaman tembakau mempunyai risiko lebih besar. Terutama saat tembakau dalam keadaan basah dan dinyatakan mampu menyebabkan Green Tobacco Sickness (GTS).
Lalu, apa yang dimaksud dengan GTS ?
Baca juga: Tembakau jadi Komoditas yang Berdayakan Masyarakat dan Dorong Perekonomian
GTS adalah gangguan kesehatan yang disebabkan keracunan nikotin pada saat memanen dan mengolah daun tembakau. Nikotin dari daun tembakau itu terserap langsung pada permukaan kulit mereka yang memetik dan mengolah tembakau. Bisanya daun tembakau itu bersentuhan dengan kulit bagian tangan, lengan, paha, dan punggung.
Baca juga: Tidak Hanya Asap Rokok, Puntung Juga Berbahaya dan Mematikan
Diketahui, Indonesia merupakan negara penghasil tembakau terbesar keenam setelah Tiongkok, Brasil, India, Amerika Serikat, dan Malawi. Di mana produksinya mencapai 136 ribu ton atau sekitar 1,91% dari total produksi tembakau dunia.
Di Indonesia, ada tiga provinsi penghasil tembakau terbesar. Ketiganya ialah Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Tengah. Wow, sungguh miris bukan?
Tingkat insidensi GTS mencapai 63,7% pada petani pemetik daun tembakau.
Gejala itu akan dirasakan 3-17 jam setelah kulit kontak dengan daun tembakau. Biasanya keluhan itu akan bertahan selama 1-3 hari.
Di luar gejala di atas, masih ada gejala keracunan pestisida yang mirip. Seperti pusing, mual, muntah, keluar air mata, air liur berlebih, pupil mengecil. Gejala dapat berkurang apabila pajanan daun tembakau sudah tidak ada. (Z-3)
Tim Pengkaji Kemenko PMK telah mengusulkan batasan kadar nikotin dan tar yang lebih rendah pada produk hasil tembakau.
Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menegaskan komitmen untuk menyerap seluruh aspirasi dari berbagai pemangku kepentingan.
Berbagai bentuk penolakan dan keberatan muncul dari berbagai elemen masyarakat dalam penyelenggaraan forum Uji Publik Kajian Penentuan Batas Maksimal Nikotin dan Tar.
Tjandra Yoga Aditama (PDPI) mengungkap alasan mengapa Ramadan adalah waktu terbaik berhenti merokok. Simak 7 tips medis untuk lepas dari kecanduan.
WHO menyebut lebih dari 100 juta orang kini menggunakan rokok elektrik termasuk sedikitnya 15 juta anak usia 13–15 tahun.
Meski banyak perokok sudah memiliki niat dan komitmen untuk lepas dari adiksi nikotin, gejala putus zat atau withdrawal effect seringkali menjadi penghalang terbesar.
Berdasarkan data Kemenkes, grafik kasus campak sempat melonjak tajam pada pekan pertama Januari 2026 dengan total 2.220 kasus.
Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan atau gaya hidup. Ini penyakit kronis yang risikonya besar terhadap kesehatan.
Kemenkes menyebut terdapat 3 penyakit yang banyak ditemukan pada pemudik lebaran 2026 yakni hipertensi (darah tinggi), cephalgia (nyeri kepala), dan gastritis (maag).
GURU Besar Ilmu Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi FKUI-RSCM, Prof Ari Fahrial Syam mengungkapkan terdapat beberapa penyakit yang sering muncul setelah lebaran.
DI balik suasana penuh kebahagiaan Hari Raya Idul Fitri, penderita penyakit autoimun perlu memberikan perhatian khusus terhadap kondisi kesehatannya agar terhindar dari kekambuhan
Obesitas sangat memengaruhi keseimbangan hormon, terutama pada perempuan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved