Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
RISIKO sakit tidak hanya bagi perokok dan perokok pasif saja. Petani tembakau menjadi kelompok berisiko terpapar dampak nikotin lebih tinggi karena setiap harinya berkaitan erat dengan tembakau, mulai dari menanam sampai dengan panen.
Berdasarkan beberapa penelitian menyatakan nikotin yang terkandung dalam tanaman tembakau mempunyai risiko lebih besar. Terutama saat tembakau dalam keadaan basah dan dinyatakan mampu menyebabkan Green Tobacco Sickness (GTS).
Lalu, apa yang dimaksud dengan GTS ?
Baca juga: Tembakau jadi Komoditas yang Berdayakan Masyarakat dan Dorong Perekonomian
GTS adalah gangguan kesehatan yang disebabkan keracunan nikotin pada saat memanen dan mengolah daun tembakau. Nikotin dari daun tembakau itu terserap langsung pada permukaan kulit mereka yang memetik dan mengolah tembakau. Bisanya daun tembakau itu bersentuhan dengan kulit bagian tangan, lengan, paha, dan punggung.
Baca juga: Tidak Hanya Asap Rokok, Puntung Juga Berbahaya dan Mematikan
Diketahui, Indonesia merupakan negara penghasil tembakau terbesar keenam setelah Tiongkok, Brasil, India, Amerika Serikat, dan Malawi. Di mana produksinya mencapai 136 ribu ton atau sekitar 1,91% dari total produksi tembakau dunia.
Di Indonesia, ada tiga provinsi penghasil tembakau terbesar. Ketiganya ialah Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Tengah. Wow, sungguh miris bukan?
Tingkat insidensi GTS mencapai 63,7% pada petani pemetik daun tembakau.
Gejala itu akan dirasakan 3-17 jam setelah kulit kontak dengan daun tembakau. Biasanya keluhan itu akan bertahan selama 1-3 hari.
Di luar gejala di atas, masih ada gejala keracunan pestisida yang mirip. Seperti pusing, mual, muntah, keluar air mata, air liur berlebih, pupil mengecil. Gejala dapat berkurang apabila pajanan daun tembakau sudah tidak ada. (Z-3)
WHO menyebut lebih dari 100 juta orang kini menggunakan rokok elektrik termasuk sedikitnya 15 juta anak usia 13–15 tahun.
Meski banyak perokok sudah memiliki niat dan komitmen untuk lepas dari adiksi nikotin, gejala putus zat atau withdrawal effect seringkali menjadi penghalang terbesar.
Jepang dan Swedia menjadi contoh nyata bagaimana inovasi produk bebas asap berkontribusi positif dalam menurunkan prevalensi merokok.
Salah satu tantangan terbesar dalam kesehatan masyarakat saat ini adalah daya tarik produk tembakau, nikotin, dan turunannya seperti rokok dan vape, terutama bagi anak muda.
Produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik/vape, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin, tidak menjadi pintu masuk ke kebiasaan merokok.
Penelitian terbaru menunjukkan vaping memiliki dampak langsung pada fungsi pembuluh darah, meskipun rokok elektrik tidak mengandung nikotin.
Stroke yang dipicu oleh fibrilasi atrium cenderung lebih berat dibandingkan stroke pada umumnya.
Keempat penyakit tersebut adalah Avian Influenza (flu burung), Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV), Super Flu, dan infeksi virus Nipah.
Malaria masih menjadi masalah kesehatan global yang kompleks akibat imunitas parsial, pembawa asimtomatik, dan resistensi insektisida.
Berbeda dengan sekadar tren kesehatan umum, lifestyle medicine merupakan pendekatan medis formal yang menggunakan intervensi gaya hidup berbasis bukti.
Jika langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat sejak dini, jumlah kasus kanker diprediksi akan meningkat hingga 70% pada 2050.
Penerapan higiene dan sanitasi yang ketat dinilai menjadi garda terdepan dalam mencegah penularan penyakit yang kerap muncul akibat meningkatnya populasi kuman di musim hujan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved