Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
MENONTON konser musik merupakan salah satu hiburan yang digemari banyak orang. Namun, sering kali muncul perasaan kehilangan yang kuat seusai menontonnya, yang disebut post concert depression.
Psikolog klinis dari Anastasia & Associate, Beta Kurnia Arriza, menjelaskan post concert depression sering kali terjadi setelah seseorang menghadiri konser.
Pemicunya pun bervariasi, misalnya kehilangan dorongan emosional positif karena menonton konser erat dengan perasaan kegembiraan, kekaguman, dan antusiasme.
Baca juga: Jangan Sepelekan Stres saat Hamil! Ini Gejala dan Cara Mengatasinya
Setelah menghabiskan waktu serta energi untuk mempersiapkan dan merencanakan konser, beberapa orang mungkin merasa kehilangan setelah konser selesai.
Alhasil rasa kehilangan itu dapat menyebabkan beberapa orang merasa sulit menyesuaikan diri kembali ke realita sehari-hari.
"Ada satu konsep, namanya hedonic treadmill. Ini menggambarkan kecenderungan manusia untuk kembali ke titik seimbang emosionalnya setelah mengalami perubahan yang signifikan," ujar Beta.
Baca juga: Ragam Jenis Sakit Kepala Ini Bisa Muncul Akibat Stres
Ketika seseorang mengalami perubahan yang positif, seperti menonton konser musik, dia cenderung mengalami kenaikan perasaan bahagia sesaat. Namun, setelah perubahan tersebut berakhir, kondisi kebahagiaan seseorang cenderung akan turun kembali.
Penurunan rasa bahagia itulah yang menyebabkan seseorang mengalami post concert depression dan merasa sedih. Selain sedih, gejala post concert depression lainnya adalah kecewa, frustrasi, kehilangan minat untuk hal-hal yang biasanya dilakukan, gangguan tidur atau makan, kehilangan motivasi untuk melakukan tugas sehari-hari, kecemasan, hingga ketidaknyamanan sosial.
Meski demikian, psikolog klinis dari @wefanpsyou, Annisa Mega Radyani mengatakan post concert depression normal terjadi dan bersifat sementara.
"Biasanya, ini akan hilang dengan sendirinya selama beberapa waktu," kata Annisa, yang dihubungi terpisah.
Walaupun post concert depression bersifat sementara, ada baiknya untuk segera mengatasinya agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.
Annisa menyarankan agar seseorang dapat lebih terbuka dan mengakui jika dirinya mengalami gejala-gejala post concert depression tersebut.
"Itu normal, tapi, kalau kita masih merasakannya, boleh untuk mengobrol dengan sesama penggemar (idola pada konser yang telah ditonton) lain," ujar Annisa.
Ajak bicara teman sesama penggemar dari idola yang diikuti untuk saling berbagi perasaan, atau berbagi foto dan video yang diambil saat menonton konser.
Selain itu, foto atau video yang diambil dapat dikumpulkan dalam satu album atau jurnal khusus, seperti mengunggahnya di akun penggemar hingga menulis pengalaman selama konser di media sosial, juga bisa dilakukan untuk mengatasi post concert depression.
Dengan berbagi, seseorang dapat mengingat memori saat menonton konser sehingga dia tidak lagi merasa kehilangan yang menjadi pemicu post concert depression.
Cara lainnya yang dapat dilakukan untuk mengatasi post concert depression adalah mendistraksi diri dengan kegiatan lain yang lebih produktif.
Annisa juga menyarankan untuk membuat to do list atau daftar rencana kegiatan dari hal yang sederhana terlebih dahulu.
"Kita juga bisa melakukan kegiatan lain, seperti meditasi atau tarik napas saja dulu (secara perlahan) bahwa kita balik lagi mindful ke saat ini, bisa mengerjakan apa yang dikerjakan sekarang," kata Annisa.
Daftar rencana kegiatan dapat dijadikan tujuan untuk melakukan kegiatan positif lainnya, misalnya rencana menabung untuk menonton konser selanjutnya. Perencanaan seperti itu berguna untuk membuat semangat dalam melakukan aktivitas sehari-hari. (Ant/Z-1)
Studi terbaru mengungkap teknik "meta-cognitive doubt". Meragukan pikiran negatif ternyata lebih efektif untuk kembali berkomitmen pada tujuan jangka panjang.
Korps Relawan Bencana di bawah Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), melaksanakan rangkaian Psychosocial Support Program bagi anak-anak yang terdampak gempa bumi di Kabupaten Poso.
Dialah Saparinah Sadli, perempuan berusia 99 tahun yang menjadi saksi hidup perjalanan panjang ilmu psikologi dan gerakan perempuan di Indonesia.
Talentlytica bersama Unit Usaha Akademik Unpad akan menggelar Workshop Pauli Reimagined pada 4 Oktober mendatang di Bandung, Jawa Barat
Penggunaan pacar AI di platform seperti Character.AI makin populer, tetapi pakar memperingatkan risikonya.
Cinta bukan hanya soal perasaan, tapi juga ilmiah. Pelajari efek hormon ini saat jatuh cinta dan patah hati.
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di jagat maya menjadi pemicu utama kecemasan masyarakat saat ini.
Sifatnya yang non-invasif, tanpa obat, tanpa efek ketergantungan, dan tanpa downtime menjadi keunggulan terbesar Exomind.
Kepemilikan ponsel pintar pada remaja awal dikaitkan dengan faktor risiko penyakit jantung, diabetes, dan kanker.
Kesehatan mental pelajar semakin memprihatinkan. Data CDC dan WHO menunjukkan tingginya depresi, pikiran bunuh diri, dan kasus bullying pada remaja di sekolah.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga melakukan edukasi dan workshop kesehatan mental di sekolah-sekolah dan komunitas, serta penguatan tenaga psikolog klinis di puskesmas kecamatan.
Pengemudi mobil Audi yang menerobos Gerbang Tol Simatupang, pintu masuk utama menuju Tol JORR di Jakarta Selatan, pada Rabu (19/11) diklaim mengalami depresi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved