Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
AHLI Gizi RSUD Inche Abdoel Moesis Samarinda, Anis Novianingrum mengatakan meningkatkan gizi pada anak sekaligus mencegah stunting pada usia anak hingga remaja bisa dilakukan dengan memberikan protein hewani.
"Protein hewani ini sangat penting bisa dilakukan dengan memberi daging sapi dan kambing, telur, daging ayam dan lainnya," kata Anis dalam Bincang Sehat Bersama Moeis secara daring, Sabtu (28/1).
Baca juga: Ulang Tahun ke-29, Gigi Bakal Gelar Konser di Grand Sahid Jaya Selama 2 Jam
Protein hewani sangat penting untuk mencegah stunting karena protein hewani mengandung komposisi asam amino esensial yang lebih lengkap dibandingkan dengan protein nabati. Selain itu, protein hewani juga kaya akan mikronutrien seperti vitamin B12, vitamin D, zat besi dan zink. Protein hewani bisa didapatkan dari daging sapi, daging kambing, telur, daging ayam dan lain-lain.
"Ada pun manfaatnya seperti mencegah penurunan masa otot, meningkatkan performa tubuh, mengurangi risiko penyakit jantung, mengontrol berat badan, dan membantu pembentukan hormon," ujarnya.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan/PMK Nomor 28 tahun 2019, kebutuhan asupan protein harian anak dapat disesuaikan berdasarkan usianya, usia 11 bulan sebanyak 15 gram/hari, usia 1-3 tahun sebanyak 20 gram/hari, usia 4-6 tahun sebanyak 25 gram/hari, usia 7-9 tahun sebanyak 40 gram/hari.
Di sisi lain, hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022 menunjukkan bahwa terjadi penurunan angka stunting sebesar 2,8 % dibandingkan dengan 2021.
"Angka stunting tahun 2022 turun dari 24,4 % di 2021 menjadi 21,6 %. Jadi turun sebesar 2,8 %.” Ungkap Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK), Syarifah Liza Munira.
Untuk dapat mencapai target 14 % di tahun 2024 diperlukan penurunan secara rata rata 3,8 % per tahun. Selain stunting, dalam SSGI juga mengukur tiga status gizi lainnya, yakni balita wasting (penurunan berat badan), underweight (berat badan kurang), dan overweight (berat badan berlebih).
Meski angka stunting menurun, angka balita wasting dan underweight mengalami peningkatan. Yakni angka wasting naik 0.6 % dari 7,1 % pada 2021 menjadi 7,7 % pada 2022
Sementara underweight naik 0,1 % dari 17,0 pada 2021 dan 17,1 % pada 2022. Underweight adalah kondisi saat berat badan anak berada di bawah rentang rata-rata atau normal.
Dengan protein hewani kebutuhan berat badan anak bisa bertambah.Kemudian pada kasus balita overweight terjadi penurunan 0,3 % dari 3,8 % tahun 2021 menjadi 3,5 % pada 2022.
Terkait angka stunting, jika dilihat lagi berdasarkan kelompok umur, ada dua kelompok umur yang sangat signifikan dan penting untuk dilakukan intervensi. Pertama saat kondisi sebelum kelahiran sebesar 18,5 % di tahun 2022. Kelompok kedua pada usia 6-11 bulan meningkat tajam 1,6 kali menjadi 22,4% di kelompok usia 12-23 bulan.
"Di titik pertama (sebelum kelahiran) penting untuk intervensi di masa kehamilan. Dan intervensi kedua saat bayi mendapatkan MP-ASI setelah masa ASI eksklusif," ujarnya. (OL-6)
Telur merupakan sumber protein hewani yang sudah menjadi pangan pokok dan banyak dikonsumsi masyarakat.
Protein hewani tidak melulu harus menggunakan bahan dengan harga yang cukup mahal seperti daging merah.
Dokter spesialis anak, I Gusti Ayu Nyoman Partiwi,menegaskan bahwa protein hewani memiliki peran vital dalam pertumbuhan anak karena lebih mudah diserap tubuh
Penelitian menemukan konsumsi protein hewani tidak meningkatkan risiko kematian, bahkan dapat memberikan perlindungan terhadap kematian akibat kanker.
Tidak sedikit ditemukan PMT di daerah-daerah yang salah kaprah dan kurang memperhatikan nutrisi adekuat karena suguhan yang diberikan kadang tidak mengandung protein hewani.
Pemerintah Indonesia telah mengakui signifikansi hal ini dengan memperkenalkan pedoman gizi yang dikenal sebagai Gizi Seimbang sejak tahun 2000-an.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved