Kamis 05 Januari 2023, 13:00 WIB

Ini Penanganan Cedera Akibat Bermain Sepak Bola

Basuki Eka Purnama | Humaniora
Ini Penanganan Cedera Akibat Bermain Sepak Bola

AFP/PATRICIA DE MELO MOREIRA
Ilustrasi--seorang pesepak bola ditandu ke luar lapangan karena cedera.

 

DOKTER Spesialis Kedokteran Olahraga Grace Joselini Corlesa mengatakan penanganan cedera olahraga akibat bermain sepak bola dapat berupa tindakan nonoperatif maupun operatif.

Dokter yang berpraktik di Sport Medicine, Injury, and Recovery Center RS Pondok Indah - Bintaro Jaya itu, melalui keterangan tertulis, Rabu (4/1), mengatakan, tindakan nonoperatif dapat diterapkan pada cedera ringan.

Penanganan yang dapat dilakukan, sambung dia, yakni P.R.I.C.E yakni Protect (melindungi bagian yang cedera), Rest (mengistirahatkan area yang cedera), Ice (memberikan kompres dingin pada area yang cedera untuk mengurangi inflamasi), Compress (sedikit memberikan tekanan pada area yang cedera), Elevate (meninggikan anggota tubuh yang terkena cedera) pada 24 jam - 36 jam setelah terjadinya cedera.

Baca juga: Ballo-Toure Harus Absen Sebulan karena Operasi Bahu

"Apabila keluhan nyeri atau pembengkakan tidak mereda, ada baiknya segera berkonsultasi ke dokter spesialis kedokteran olahraga," saran Grace.

Grace mengatakan, dokter spesialis kedokteran olahraga akan melakukan pemeriksaan fisik, wawancara riwayat kesehatan dan kronologi terjadinya cedera, serta merujuk pasien untuk melakukan pemeriksaan penunjang, seperti MRI, CT-Scan, atau X-ray dalam rangka menentukan diagnosa.

Setelah diagnosa ditentukan, dokter kemudian akan merancang program pemulihan yang sesuai dengan kondisi pasien.

"Biasanya diperlukan sesi menggunakan teknologi medis dalam periode cedera akut dan sesi exercise untuk membantu memulihkan otot dan sendi yang cedera dan agar pasien dapat kembali berolahraga dan beraktivitas kembali pascacedera," kata dia.

Beberapa teknologi medis untuk penanganan cedera salah satunya cyrotheraphy atau terapi dingin. Menurut Grace, prosedur terapi dingin dapat digunakan untuk menangani cedera olahraga akut.

Metode ini biasa dilakukan setelah operasi atau rekonstruksi sendi, karena dapat membantu mengurangi cedera secara efektif, misalnya pada penanganan pergeseran tulang, patah tulang, memar, keseleo, dan lainnya.

Sesi perawatan rata-rata per pasien berlangsung satu hingga dua menit, tergantung klinis dan target terapi serta instruksi dokter yang merawat.

Teknologi lainnya yakni transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS). Metode penanganan noninvasif ini melibatkan arus listrik bertegangan rendah. 

Anggota tubuh yang terasa nyeri akan dialiri impuls listrik yang menjalar pada serabut saraf, sehingga membantu mengurangi kepekaan terhadap rasa nyeri/sakit. Durasi pengobatan TENS yang optimal adalah 40 menit.

Ada juga ultrasound therapy. Metode pengobatan ini menggunakan gelombang suara untuk merangsang jaringan di sekitar area cedera. 

Getaran gelombang suara dapat merangsang produksi kolagen dan menciptakan panas dalam jaringan, sehingga mampu mendorong penyembuhan pada jaringan lunak dengan meningkatkan metabolisme pada tingkat sel. 

Metode ini berguna untuk membantu proses penyembuhan tulang, penanganan cedera ligamen, dan lainnya.

Jenis terapi ultrasound tergantung pada kondisi cedera. Untuk nyeri myofascial, strain, atau keseleo dapat digunakan ultrasound termal.

Untuk jaringan parut, pembengkakan, dan carpal tunnel syndrome, ultrasound mekanis dapat bekerja lebih baik. 

Waktu perawatan tergantung pada ukuran area yang dirawat, frekuensi dan intensitas yang digunakan (5-15 menit).

Terakhir, ada olahraga dan terapi latihan pascacedera. Grace menuturkan, tujuan dari program terapi latihan adalah untuk mengembalikan semua aspek kesehatan seperti sebelum cedera dengan cara yang terkontrol dan terpantau.

Menurut dia, terapi latihan harus dimulai sesegera mungkin (setelah fase peradangan awal - 72 jam). 

Dalam tahapan ini, dilakukan latihan fleksibilitas untuk meminimalisasi penurunan kisaran gerak sendi, latihan memperkuat otot, hingga latihan keseimbangan.

Penanganan cedera juga dapat dilakukan melalui tindakan operatif. Grace mengatakan, pada penanganan cedera olahraga yang membutuhkan tindakan operasi, dokter spesialis bedah ortopedi konsultan sports injury dan arthroskopi akan menggunakan arthroskopi dengan sayatan minimal, sehingga pasien dapat pulih lebih cepat dibandingkan dengan operasi konvensional. (Ant/OL-1)

Baca Juga

Dok Privy

Privy Dukung Sentra Vaksin Booster Kedua Kemenparekraf

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 01 Februari 2023, 15:14 WIB
Kemenkes RI bersama dengan Kemenparekraf didukung oleh Privy saat ini melakukan gerak cepat untuk melaksanakan vaksinasi booster...
MI/Retno Hemawati

BRIN Akuisisi Pengetahuan Lokal Jadi Sumber Literasi Sains Publik

👤Faustinus Nua 🕔Rabu 01 Februari 2023, 15:13 WIB
Program akuisisi pengetahuan lokal diharapkan memicu kreativitas periset di lingkungan BRI untuk meneliti, mengembangan, mengkaji suatu...
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Menkes Ingin Kasih Hadiah ke Presiden dengan Turunkan Stunting

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Rabu 01 Februari 2023, 14:57 WIB
Kemenkes dan jajaran Pemprov DKI bakal mematangkan rencana aksi penurunan stunting. Sehingga pekan depan, rencana aksi itu bisa...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya