Jumat 11 November 2022, 19:53 WIB

Akademisi: Maknai Hari Pahlawan dengan Teladani Pemikiran Gus Dur

mediaindonesia.com | Humaniora
Akademisi: Maknai Hari Pahlawan dengan Teladani Pemikiran Gus Dur

Ist
Dosen Universitas Nahdlatul Ulama dan Direktur Eksekutif Wahid Foundation Mujtaba Hamdi.

 

DI era milenial seperti sekarang ini para pelajar dan pemuda diharapkan berperan untuk meneruskan cita-cita para pahlawan. Walau sudah merdeka dari penjajahan, permasalahan berbagai bidang seperti ekonomi, sosial, kesehatan, dan keamanan tetap selalu ada di sendi kehidupan bermasyarakat, termasuk masalah radikalisme atas nama agama yang mengancam pluralisme di Indonesia.

Direktur Eksekutif Wahid Foundation Mujtaba Hamdi mengutarakan pentingnya segenap generasi muda untuk meneladani dan meneruskan buah pemikiran Presiden ke-4 RI almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam konteks kebinekaan. Hal ini guna merawat dan meneruskan cita-cita persatuan Indonesia dari ancaman radikalisme yang menyurup kedalam wajah agama.

"Semangat Gus Dur sangat jelas, idenya tentang pribumisasi yaitu apa pun kepercayaan kita, apa pun keyakinan agama kita itu perlu dikontekstualisasikan dalam kebinekaan Indonesia," ujar Mujtaba di Jakarta, Jumat (11/11).

Dia melanjutkan, pribumisasi yang dikemukakan Gus Dur memiliki makna kontekstualisasi keyakinan agama dengan kebinekaan Indonesia,  beradaptasi dengan kebudayaan yang ada di Indonesia.

Mujtaba menilai, kontektualisasi inilah yang nantinya melahirkan semangat toleransi dan nasionalisme untuk menjaga serta merawat Indonesia dari segala ancaman ideologi transnasional.

"Artinya, ketika (ajaran agama) hadir di Indonesia maka jadi bagian dari Indonesia, beradaptasi, bertransformasi menjadi Islam Indonesia, Katolik Indonesia, Kristen Indonesia, dan seterusnya. Itu yang bisa kita teladani dari Gus Dur. Kepercayaan yang kita anut, kita kontektualisasikan dengan kebudayaan dan kebinekaan di Indonesia," jelasnya.

Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia ini juga mengutarakan peringatan Hari Pahlawan 10 November sejatinya memiliki dua makna penting. Pertama, menandai semangat perjuangan bangsa Indonesia bahwa bangsa ini tidak lahir, tidak terbentuk, dan tidak terbangun dari ruang kosong, tapi dari perjuangan seluruh anak bangsa.

"Semangat ini perlu kita bawa bersama untuk mengisi kemerdekaan Indonesia dengan kreatifitas, dan karya yang terdepan. Sehingga semangat kepahlawanan ini kita serap, energi anak muda kita serap untuk membawa Indonesia semakin bersinar di dunia global," ucapnya.


Baca juga: Nadiem Harap FeLSI 2022 Wujudkan Profil Pelajar Pancasila


Kedua, pahlawan di Indonesia ini terdiri atas banyak suku bangsa, banyak agama. Hal ini, menurutnya, menunjukkan semangat kebinekaan sehingga perlu disadari bahwa kepahlawanan di Indonesia ini tidak didominasi oleh agama maupun suku bangsa manapun, tapi diiisi oleh elemen bangsa dari ujung Aceh hingga ujung Papua.

"Artinya 10 November sebagai Hari Pahlawan juga merupakan hari kebinekaan dalam memperjuangkan bangsa ini," ujarnya.

Oleh sebab itu, lanjut Mujtaba, penting untuk memberikan pemahaman kepada segenap anak bangsa, bahwa tugas yang perlu diemban saat ini adalah merawat Indonesia. Di mana Indonesia dilahirkan dengan susah payah oleh para pendahulu, dari usaha-usaha sekelompok orang yang ingin mendeligitimasi kebinekaan Indonesia.

"Ketika ada usaha untuk mendeligitimasi kebinekaan Indonesia, nah itu perlu sama-sama untuk kita konter. Kita bukan counter orangnya, tapi mereduksi usahanya. Langkahnya yang berupaya mengikis filosofi kemerdekaan," ungkapnya.

Ia berharap pemerintah mampu menciptakan upaya yang lebih konkret ditingkat praktis terhadap penanaman nilai Pancasila di mulai dari tingkat pendidikan. Bukan hanya sekadar cerita dan teori. Namun menembus kepada pendalaman praktik nilai-nilainya dan mewujudkannya. Untuk itu perlu langkah kolaborasi dari seluruh pihak.

"Misalnya dari tingkat pendidikan, masih banyak menemui kasus diskriminasi atas nama agama. Di sekolah, Pancasila pasti diajarkan. Tetapi kita butuh lebih dari sekadar pengajaran yang bersifat deduktif, bersifat formal mata pelajaran, tapi perlu pendalaman praktik nilai-nilainya dan menciptakan kultur kebhinekaan di tingkat paling konkret," tutur Mujtaba.

Dia mengatakan, Wahid Foundation didirikan untuk memajukan visi kemanusiaan KH Abdurrahman Wahid dalam memajukan pengembangan toleransi, keberagaman dalam masyarakat Indonesia.

Selain itu, Wahid Foundation berperan aktif melalui upaya pendalaman dan perluasan program, bersama dengan berbagai stakeholder, baik pemerintah pusat maupun daerah tak terkecuali Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melalui program implementasi Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Ektremisme berbasis Kekerasan (RAN-PE). (RO/OL-16)

Baca Juga

MI/ Amir MR

AMAN: RUU KSDHAE Belum Mengakomodir Hak Masyarakat Adat

👤Atalya Puspa 🕔Sabtu 10 Desember 2022, 15:05 WIB
RUU KSDHAE berpotensi menghilangkan asal-usul masyarakat adat dalam mengelola, melindungi dan mengimplementasikan hukum adat di wilayah...
Antara

Imigrasi Pastikan KUHP Baru tidak Pengaruhi Kedatangan WNA

👤Tri Subarkah 🕔Sabtu 10 Desember 2022, 14:58 WIB
Pernyataan Ditjen Imigrasi Kemenkumham mengutip data kedatangan WNA melalui Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Laut, Udara dan Darat periode...
Dok. Bodimax

Dukung Gaya Hidup Sehat, Bodimax Hadirkan Fitur Inovatif di Peralatan Olahraga Terbarunya

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 10 Desember 2022, 14:27 WIB
Pada Desember 2022, Bodimax meluncurkan koleksi lini premium dengan nama Bodimax PLUS. Lini ini menghadirkan 2 rangkaian produk dari seri...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya