Sabtu 29 Oktober 2022, 07:05 WIB

Pak Menkes, Kasus Ginjal Akut Layak Berstatus KLB Meski tidak Menular

M Iqbal Al Machmudi | Humaniora
Pak Menkes, Kasus Ginjal Akut Layak Berstatus KLB Meski tidak Menular

Antara
Ilustrasi

 

PENELITI Keamanan dan Ketahanan Kesehatan Global Griffith University Australia Dicky Budiman menilai penetapan Kejadian Luar Biasa (KLB) pada kasus Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA) juga bisa dilakukan, sehingga tidak hanya pada kasus tertular saja.

Kasus GGAPA merupakan kejadian luar biasa dan tidak lazim. Sehingga harus direspon secara luar biasa dalam bentuk deklarasi kejadian luar biasa.

"Apakah itu dalam status KLB, emergency, atau apapun itu harus ada, karena kalau bicara outbreak atau KLB yang sifatnya bukan penyakit menular pun Indonesia pernah 2017/2018 yakni gizi buruk dengan campak di Asmat Papua," kata Dicky saat dihubungi, Jumat (28/10).

Respon terhadap kasus GGAPA dengan status legal secara ilmiah dan sejarah membuat respon masyarakat lebih terkoordinir, responsif, menimbulkan science of crisis, menimbulkan public awareness. Sehingga relatif lebih bisa menyelesaikan masalah.

Dikaitkan dengan Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) pada sirop obat yang juga terjadi di Panama yang terjadi pada orang dewasa dan Gambia terjadi pada anak, memberikan respon yang jauh lebih efektif.

"Di sisi lain, kalau tidak dinyatakan KLB seperti di India sejak 1970-an terjadi tercemar EG dan DEG pada sirop sehingga kasusnya terjadi berulang dan akhirnya merugikan kita semua," ujarnya.

Sehingga kasus kejadian seperti ini perlu dinyatakan sebagai KLB karena memang itu secara scientific dan sejarah, lebih efektif dan memberikan respon yang baik.

"Jadi kalau berdalih tidak adanya KLB pada kasus tidak tertular maka itu tidak dilihat secara scientific dan kita harus siap-siap dengan kejadian pengulangan dan itu lah bukti kalau tata kelola pengendalian wabah dan pelayanan publik tidak maksimal," jelasnya.

Hal yang sama juga dikatakan Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) Dr Masdalina Pane yang mengatakan bahwa KLB bisa diterapkan pada kasus GGAPA karena tidak harus oada kasus menular.

"KLB itu tidak harus penyakit menular, Permenkes Nomo 949 Tahun 2004, tidak ada yang mengharuskan KLB itu penyakit menular," ujarnya.

"Wabah memang diarahkan pada penyakit menular, tapi KLB tidak," ucapnya.

Sebelumnya Menteri Kesehatan Budi Gunadi mengatakan tidak menetapkan KLB pada kasus GGAPA karena dinilai KLB hanya ditetapkan pada kasusyang menular.

"Ini didesain awalnya untuk penyakit menular, ini bukan penyakit menular," katanya.

Namun dirinya menekankan bahwa respons pemerintah tetap cepat. Pemerintah telah mendapatkan bantuan obat penawar Fomepizole untuk menghadapi kasus ini. Bantuan tersebut berupa 46 vial Fomepizole Singapura dan Australia. (H-2)

Baca Juga

Dok.MI/Agus Mulyawan

Kasus Covid-19 Meningkat, Wapres Pastikan Status PPKM Tetap Level 1

👤Kautsar Widya Prabowo 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 17:47 WIB
Ma'ruf mendapatkan laporan terjadi kelonjakan covid-19 pada November 2022. Namun, saat ini angka kasus harian covid-19 sudah mulai...
Antara/Darryl Ramadhan.

Butuh Komitmen Bersama untuk Menjamin Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas 

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 17:30 WIB
Saat ini dengan jumlah penduduk Indonesia mencapai 280 juta jiwa diperkirakan 9%-nya penyandang...
Ist

The Apurva Kempinski Bali Luncurkan Galeri Seni dan Musik

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 17:04 WIB
Gelaran perdana program ini menampilkan kolaborasi penuh kejutan dari seniman dan pelukis Raul Renanda serta musisi muda independen...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya