Jumat 28 Oktober 2022, 17:30 WIB

Unas Gelar Konferensi Internasional Ilmu Sosial-Politik

mediaindonesia.com | Humaniora
Unas Gelar Konferensi Internasional Ilmu Sosial-Politik

DOK.UNAS
Para pembicara yang hadir dalam Konferensi Internasional ICOSOP II yang digelar Universitas Nasional di Jakarta, Rabu (26/10).

 

UNIVERSITAS Nasional (Unas) menyelenggarakan Konferensi Internasional Ilmu Sosial dan Politik atau International Conference on Social and Political Science (ICOSOP).

"Penyelenggaraan ICOSOP II fokus pada masalah mobilitas, perjumpaan budaya, dan saling koneksi sosial. Ini menjadi bagian penting dalam pola hubungan sosial, pembentukan institusi, dan nilai-nilai baru masyarakat," kata Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unas Erna Ermawati Chotim di Jakarta, Rabu (26/10).

ICOSOP yang digelar secara luring (offline) itu menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri, di antaranya Guru Besar Unas Prof Dr Aris Munandar, Andi Achdian dari Pusat Kejian Sosial dan Politik (PKSP) Unas, Prof Dr L Ayu Sarasvati dari Departemen of Women, Gender, and Sexuality, Studies, University of Hawaii, Dr Timo Duille, Peneliti dari Bonn University.

Kemudian Prof Dr Datuk Shamaul Amri Baharuddin dari Institut of Ethnic Studies, The National University of Malaysia, Prod Dr TB Massa Djafar dari Sekolah Pascasarjana Unas, dan Christofer Kelly dari Kings College London.

Andi Achdian menyoroti karakter sifat utama yang membentuk perkembangan budaya manusia dalam perjalanan sejarah panjang.

"Mobilitas lintas benua, lintas negara, dan lintas budaya, bagaimana pun belum mendapatkan perhatiannyang layak dari pada peneliti ilmu sosial di Indonesia," kata Achdian.


Baca juga: APPSANTI: Evaluasi Biaya Akreditasi Jangan jadi Komoditas Pendidikan


Sementara Ayu Sarasvati dalam presentasinya menunjukkan kenyataan penting tentang neoliberal logic yang melahirkan kondisi semakin banyak seseorang menghabiskan waktu dakam media sosial, semakin berjarak seseorang.

"Kenyataan ini memberikan gambaran kontras tentang sifat media sosial yang menjanjikan saling hubung (konektivitas) yang sikuasai legika neoliberal," ujar Ayu.

Sedangkan Timo Duille menyampaikan gagasannya tentang kegamangan yang muncul dalam proses perjumpaan budaya. Ia mengulas tuduhan anti-semitisme dari media Jerman terhadap tema yang digelar seniman Indonesia dalam pameran seni Dekimenta.

"Persoalan pengalaman sejarah berbeda menjadi dasar terjadinya benturan diskursus antara media Jerman dan para seniman Indonesia," papar Timo.

Sebelumnya, Aris Munandar menyampaikan relasi manusia dan alam menjadi faktor penting dalam perkembangan industri turisme, manajemen sampah, dan keberdayaan berkelanjutan.

Keseluruhan tema tersebut membentuk rangkaian tentang bagaimana mobilitas, perjumpaan budaya, dan konektivitas menjadi bagian tak terhindarkan dalam dunia sosial.

Ia mengatakan, ilmuwan sosial sekarang pada kenyataannya untuk mengembangkan kembali perspektif dan metode kreatif ilmu sosial menanggapi perkembangan dunia kontemporer sekarang. (RO/OL-16)

 

Baca Juga

MI/Ramdani

Ahli: Masyarakat tidak Boleh Lengah, Subvarian XBB Bahaya bagi Komorbid

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Jumat 02 Desember 2022, 23:38 WIB
Menurut Guru Besar Mikrobiologi FKUI, subvarian XBB dan varian omikron lainnya bisa melarikan diri dari antibodi, baik pascainfeksi,...
MI/ Moh Irfan

BPJS Kesehatan Ingin Masyarakat Teredukasi Soal Layanan Kesehatan

👤Dinda Shabrina 🕔Jumat 02 Desember 2022, 22:59 WIB
MASYARAKAT sangat membutuhkan edukasi terkait layanan kesehatan yang diselanggarakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)...
Dok. i3L

Terus Lakukan Inovasi, Dundee dan i3l Kembangkan Kerjasama Double Degree

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 02 Desember 2022, 21:59 WIB
"Mahasiswa nantinya akan diberikan gelar sarjana dari Biomedicine i3L, serta dari University of...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya