Minggu 25 September 2022, 21:00 WIB

Komnas Disabilitas: Hilangkan Stigma Negatif Penyandang Disabilitas

Naufal Zuhdi | Humaniora
Komnas Disabilitas: Hilangkan Stigma Negatif Penyandang Disabilitas

ANTARA/FENY SELLY
Penyandang Tuna Rungu menampilkan pantomim pada peringatan Hari Bahasa Isyarat di Griya Agung Palembang. Sumatera Selatan,Minggu (25/9/2022)

 

BELAKANGAN beredar kabar terjadinya perundungan atau bullying yang dilakukan oleh sekelompok pelajar terhadap seorang remaja penyandang disabilitas. Hal seperti ini masih sering terjadi di Indonesia karena masyarakat masih memandang disabilitas sebagai sesuatu yang negatif. Padahal, disabilitas itu adalah keberagaman individu yang harus dihormati, dihargai, diakui dan beri layanan sesuai dengan kebutuhannya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi Nasional Disabilitas Republik Indonesia, Dante Rigmalia membahas mengenai kurikulum yang diterapkan saat ini di sekolah.

"Kurikulum Meredeka yang didesain dengan pembelajaran interakulikuler yang beragam dengan konten dapat dipelajari optimal oleh peserta didik, guru juga dapat memilih perangkat ajar yang disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik. Kurikulum merdeka memungkinkan guru mengarahkan peserta didik belajar sesuai dengan potensi, minat dan kemampuan yang dimiliki dan konten/muatan pembelajaran dan bahan ajar dapat guru pilih sendiri sesuai kebutuhannya," ucap Dante saat dihubungi pada Minggu (25/9).

Baca juga: Dukung Kegiatan Kampus Merdeka, PNM dan Unsoed Kerja Sama

Hal ini sesungguhnya sudah sangat inklusif namun tentu tataran konsep yang baik itu harus dibarengi dengan penguasaan dan pemahaman bagaimana menerjemahkan kurikulum dalam kegiatan/ proses belajar mengajar yang dilakukan di kelas oleh guru.

Selain itu, Dante mengatakan sikap sensitif juga harus dibangun oleh semua kalangan pendidikan, terutama terhadap penyandang disabilitas.

"Edukasi/penyadaran dan sikap sensitivitas terhadap penyandang disabilitas harus dibangun baik di kalangan pendidik-tenaga kependidikan, kalangan peserta didik, orang tua, masyarakat dan semua yang ada dalam ekosistem pendidikan," ujarnya.

Iklim inklusif harus dibangun bersama dengan mulai dari lembaga pendidikan memiliki visi dan misi yang menciptakan lingkungan inklusif. Yang kemudian diterjemahkan dalam program/ kegiatan baik dalam kegiatan interakulikuler maupun dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Selain sikap sensitif, program yang bisa mendekatkan anatara siswa non disabilitas dan siswa disabilitas juga harus dibuat.

"Bagaimana aktivitas/ kegiatan/program sekolah memberi sentuhan kepada semua peserta didik agar peserta didik paham bahwa di antara mereka memiliki perbedaan termasuk perbedaan karena kedisabilitasan. Program yang mendekatkan peserta didik nondisabilitas dengan peserta didik disabilitas perlu juga diadakan sehingga semua pihak paham/sadar bahwa di antara mereka ada warga masyarakat dengan disabilitas," tutur Dante.

"Harapannya stigma terhadap penyandang disabilitas mulai dihilangkan dengan cara-cara seperti ini. Membangun lingkungan inklusif dan kondusif di mulai dari pembelajaran di kelas (intrakulikuler) hingga pembelajaran di luar kelas (ekstrakurikuler) dan membangun orang tua dan masyarakat yang mau menghargai perbedaan termasuk karena disabilitas," tambahnya.

Selain itu dari sisi budaya masyarakat, saat ini masih memandang disabilitas secara negatif. Stigma negatif terhadap penyandang disabilitas masih kuat. Sehingga penyadang disabilitas diperlakukan tidak seperti apa yang semestinya.

"Semua pihak harus bersama-sama menghilangkan stigma ini, program pengembangan masyarakat yang mengarusutamakan isu disabilitas sangat diperlukan sehingga kacamata kebijakan dibuat dengan lensa inklusif, bahwa di antara masyarakat pada umumnya itu ada sebagian masyarakat dengan disabilitas. Program/kebijakan di masyarakat harus menyentuh juga kepada pengandang disabilitas, ini untuk menyadarkan semua bahwa ada penyandang disabilitas di masyarakat yang juga sama memiliki hak seperti pada umumnya," pungkas Dante.

Dengan cara seperti ini harapannya budaya di masyarakat dalam memandang penyandang disabilitas berubah menjadi lebih baik. (H-3)

Baca Juga

Antara

Kemendikbudristek: Pengusulan Kebaya ke UNESCO Dilakukan Komunitas

👤Faustinus Nua 🕔Minggu 27 November 2022, 21:46 WIB
Menurut Kemendikbud-Ristek, warisan budaya tak benda bukan soal klaim antara negara atau hak eksklusif. Justru, Indonesia bisa menggalang...
Dok FKDB

Ayep Zaki Salurkan Bantuan Korban Gempa Cianjur ke Posko NasDem Peduli

👤Media Indonesia 🕔Minggu 27 November 2022, 21:30 WIB
POSKO NasDem Peduli di Kantor DPD NasDem Kabupaten Cianjur terus menerima dan menyalurkan  bantuan kepada masyarakat terdampak...
Antara

Upate 27 November 2022: Kasus Harian Covid-19 di Indonesia Tercatat 4.151 Orang

👤MGN 🕔Minggu 27 November 2022, 21:04 WIB
Sedangkan untuk kasus aktif berkurang 1.539 orang sehingga menjadi 60.581...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya