Selasa 13 September 2022, 15:06 WIB

Asmaul Husna: Allah Ar-Razzaq Maha Memberi Rezeki kepada Makhluk

Meilani Teniwut | Humaniora
Asmaul Husna: Allah Ar-Razzaq Maha Memberi Rezeki kepada Makhluk

DOK Instagram.
Tulisan arab Ar-Razzaq.

 

APA yang terlintas di benakmu soal rezeki? Uang? Perhiasan? Makanan? Rezeki punyai cakupan makna yang sangat luas. Sayangnya, ia sering dimaknai secara sempit, seperti anggapan bahwa rezeki hanya terbatas berupa tiga hal di atas. 

Makna rezeki

Dilansir dari @limofficial_lirboyo di Instagram, rezeki ialah segala hal yang bermanfaat. Uang, perhiasan, dan makanan termasuk rezeki. Ini karena kita bisa memperoleh manfaat darinya. Ketiga contoh itu biasanya dapat dengan mudah kita sadari bahwa ini bagian dari rezeki. 

Misalnya, ada kawan yang mentraktir kita makan, kita lantas berkata, "Alhamdulillah, dapat rezeki." Ilmu, kesehatan, dan waktu pun merupakan rezeki. Sayangnya, jarang kita menyadarinya. Padahal, menyadari keberadaan rezeki itu penting. Dengan kesadaran itu kita jadi mudah untuk bersyukur. 

Dua macam rezeki

Imam al-Ghazali membagi rezeki menjadi dua macam. Pertama, rezeki lahir. Ini rezeki yang manfaatnya berdampak pada sisi lahiriahnya semata, seperti makanan.

Baca juga: Asmaul Husna, Allah Al-Wahhab Maha Memberi tanpa Berharap Imbalan 

Kedua, rezeki batin. Ini rezeki yang bermanfaat untuk sisi batiniah kita, seperti ilmu. Di antara dua macam rezeki itu, rezeki batinlah yang manfaatnya lebih mulia karena berlaku sepanjang hidup. Sedangkan, rezeki lahir hanyalah bersifat sementara saja. 

Makna Ar-Razzaq

Rezeki merupakan pemberian Allah SWT untuk setiap makhluk-Nya. Tak ada satu pun makhluk yang hidup tanpa disertakan jatah rezeki untuknya. Karena itulah, Allah SWT disebut sebagai Ar-Razzaq Zat yang Maha Memberi Rezeki sebagai salah satu asmaul husna.

Imam Al-Ghazali memakai Ar-Razzaq sebagai Zat yang Menciptakan Rezeki sekaligus orang-orang yang memperolehnya, mengirimkannya kepada mereka, dan menciptakan jalan untuk memperoleh manfaat darinya. Kita sering mengira bahwa rezeki dihasilkan lewat amal atau pekerjaan yang kita lakukan. Namun, jika memahami sumber rezeki yang sebenarnya, sepatutnya kita dapat menyadari bahwa amal atau pekerjaan hanyalah perantara belaka. 

Buktinya, banyak yang bekerja, tetapi tidak memperoleh rezeki. Begitu pula sebaliknya, ada orang yang tidak bekerja, tetapi rezeki mengalir deras untuknya. 

Untuk itu kita perlu tawakal atau pasrah terhadap Zat yang Maha Memberi Rezeki. Akan tetapi dalam praktiknya, sebaiknya kita tidak tawakal dengan cara diam saja seraya menanti rezeki turun dari langit, melainkan kita pun perlu menuju perantara munculnya rezeki, seperti bekerja, baru setelah itu memasrahkan hasilnya kepada Allah SWT. (OL-14)

Baca Juga

Dok. LDII

MUI Bekali Juru Dakwah LDII Sebelum Terjun di Tengah Masyarakat

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 25 September 2022, 21:17 WIB
Dalam tausiahnya, Ahmad Ali mengingatkan kewajiban dakwah terdapat dalam Al-quran Surat Ali Imran...
Antara

82,7% Remaja Sudah Divaksinasi Lengkap

👤MGN 🕔Minggu 25 September 2022, 21:02 WIB
Sebanyak 25.626.349 remaja telah menerima vaksin dosis pertama. Jumlah itu sama dengan 95,96 persen dari...
ANTARA/FENY SELLY

Komnas Disabilitas: Hilangkan Stigma Negatif Penyandang Disabilitas

👤Naufal Zuhdi 🕔Minggu 25 September 2022, 21:00 WIB
Sikap sensitif juga harus dibangun oleh semua kalangan pendidikan, terutama terhadap penyandang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya