Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
BERDASARKAN informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Indonesia telah memasuki musim kemarau dan akan berlangsung hingga Oktober 2022. Sehingga berbagai pihak termasuk masyarakat diminta untuk meningkatkan siaga dalam rangka penanggulangan karhutla.
Sementara itu, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK, Basar Manullang mengungkapkan penurunan potensi hujan yang dimulai bulan ini akan menyebabkan peningkatan kerawanan karhutla hingga akhir tahun.
“Waspadai puncaknya mulai bulan Agustus dan September 2022 hingga akhir tahun 2022,” kata Basar kepada Media Indonesia, Minggu (24/7).
Baca juga: CEO Media Group Yakin Santri Bisa Hadapi Generasi Indonesia Emas
Baca juga: KPAI: Sebenarnya Pelaku Perundungan Anak di Tasikmalaya Juga Korban
Dua hari lalu, Jum’at (22/7), berdasarkan update twitter @sipongi_klhk, dilaporkan telah terjadi kebakaran lahan di Desa Seluas, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Dan data yang dipublikasi KLHK, sampai saat ini luas lahan yang terbakar di Kalbar seluas 12,461 hektare.
“Sore itu juga sudah padam. Pemerintah telah melaksanakan upaya-upaya pengendalian karhutla di wilayah rawan karhutla meliputi Sumut, Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng, Kalsel, Kaltim, serta wilayah rawan lain di Indonesia, yakni mendorong pemda terutama di wilayah rawan karhutla untuk terus meningkatkan kewaspadaannya, serta mengedepankan upaya pencegahan dalam melakukan pengendalian karhutla,” tutur Basar.
Dia juga mengimbau agar memperkuat koordinasi antar stakeholder terkait pengendalian karhutla dari tingkat pusat, daerah hingga ke tingkat tapak.
“Kita juga menggiatkan patroli pencegahan karhutla, baik patroli mandiri yang dilakukan Manggala Agni maupun patroli terpadu yang beranggotakan tim yang terdiri dari Manggala Agni bersama anggota POLRI, TNI, tokoh masyarakat dan Masyarakat Peduli Api (MPA) sepanjang tahun,” ujarnya.
Penyadartahuan pencegahan karhutla melalui sosialisasi dan kampanye secara langsung ataupun melalui media, kata Basar amat diperlukan.
“Termasuk juga menggandeng organisasi keagamaan dalam kampanye pencegahan. Peningkatan peran serta masyarakat melalui MPA dan MPA-Paralegal yang berkesadaran hukum,” tambahnya.
Saat ini, Basar menyebut pihaknya masih terus melakukan verifikasi lapangan/ groundcheck hotspot yang terpantau. “Jika ditemukan kejadian kebakaran langsung dilakukan secara dini oleh para petugas. Pemadaman darat secara dini maupun pemadaman udara juga dilakukan jika diperlukan, terutama di lokasi remote area,” tandasnya. (H-3)
Menurut Menteri Lingkungan Hidup, Dr. Hanif Faisol Nuroqif, di tengah ancaman kepunahan berbagai satwa endemik, penyelamatan keanekaragaman hayati adalah prioritas
Volume besar itu tentunya memperparah tekanan terhadap lahan seluas 142 hektar yang sudah menampung sampah Ibu Kota selama lebih dari tiga dekade.
Dunia saat ini tengah menghadapi tiga ancaman serius yang disebut “Triple Planetary Crisis” oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pemerintah tekankan komitmen industri jalankan EPR demi kelola sampah plastik. Target 100% pengelolaan tercapai pada 2029 lewat kolaborasi multi-pihak.
KLHK melalui Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) menyegel empat perusahaan yang diduga terlibat dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
‘’Kolaborasi, termasuk dengan kerja sama dengan pihak swasta menjadi kunci untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif, bernilai ekonomis dan ramah lingkungan,”
Pemerintah kini mengedepankan perubahan paradigma pengendalian karhutla dengan fokus utama pada pencegahan sebagai langkah antisipatif.
Studi terbaru Cedars-Sinai mengungkap lonjakan drastis serangan jantung dan gangguan paru pasca-kebakaran hutan LA Januari 2025.
PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Riau akan mengakhiri masa status siaga darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) pada 30 November 2025.
Efikasi masyarakat dan norma kelompok terbukti lebih berpengaruh terhadap partisipasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dibandingkan pendekatan berbasis rasa takut.
BMKG melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) 2025 untuk mengantisipasi cuaca ekstrem dan mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah.
CUACA sangat terik di Lembata, Nusa Tenggara Timur, akhir-akhir ini memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin masif.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved