Selasa 05 Juli 2022, 07:30 WIB

Menuju Museum Geologi yang Ramah Disabilitas

Andy Yahya Al Hakim | Humaniora
Menuju Museum Geologi yang Ramah Disabilitas

Dok. ITB
Kunjungan para penyandang difabel ke Museum Geologi.

 

SUDAH sejatinya akses infomrasi dan pengetahuan di ruang publik menjadi hak semua orang. Hal itu berlaku pula di Museum Geologi sebagai salah satu ruang publik yang menyimpan informasi penting terkait ilmu geologi dan kebumian. Apalagi, museum tersebut merupakan salah satu tempat wisata edukasi favorit di Kota Bandung, Jawa Barat.

Inisiasi dari museum ramah disabilitas sebenarnya telah dimulai pada 2019 oleh Museum Geologi dengan membuat pelatihan kepada guide sehingga dapat berkomunikasi kepada penyandang disabilitas. Slogan Museum Geologi yang ramah terhadap penyandang disabilitas telah sejalan dengan peta jalan jangka panjang dari museum.

Demi mendukung Museum Geologi menjadi ramah disabilitas, Tim Institut Teknologi Bandung (ITB) yang diketuai Dr Andy Yahya Al Hakim (Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB) menggelar kunjungan ke museum itu bagi para penyandang disabilitas pada 19 Mei 2022. Para penyandang disabilitas dan pekerja sosial yang diundang berasal dari Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra Wyata Guna (BRSPDSN) Bandung.

Kegiatan kunjungan itu juga merupakan bagian dari pengabdian masyarakat skema bottom up yang mendapat pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITB untuk 2022. Kegiatan yang telah diinisiasi sejak Desember 2021 itu beranggotakan Kukuh Rizki Satriaji dan Michael Binuko. Kegiatan tersebut berjudul Pembuatan Pojok Braille ITB serta Pengembangan Teknologi Video dan Audio Visual di Museum Geologi.

Sebelum kegiatan kunjungan, pada Maret 2022, tim ITB yang beranggotakan dosen dan mahasiswa telah mengumpulkan informasi dengan melakukan diskusi dengan penyandang disabilitas tunanetra. Kepada mereka, ditanyakan mengenai pengalaman berkunjung ke museum, kendala yang dialami selama mengakses informasi di ruang publik, dan harapan untuk aksesibilitas. Hasil survei menunjukkan penyandang disabilitas tunanetra BRSPDSN umumnya pernah mengunjungi museum, baik di dalam negeri maupun ada yang pernah mengunjungi museum khusus disabilitas yang berada di Jepang. Para penyandang tunanetra berharap dapat mengakses informasi dari huruf Braille, dapat meraba koleksi sentuh, serta mendengarkan informasi dari pemandu saat berkunjung ke museum di Indonesia.

Ketika kunjungan ke Museum Geologi akhirnya dilaksanakan, banyak kesan positif dan masukan yang diberikan penyandang disabilitas. Dalam kunjungan itu, penyandang disabilitas tunanetra dapat memegang beberapa koleksi di ruang pamer sehingga mendapat pengalaman lebih tentang berbagai objek yang dipajang.

“Batu akik yang mana, ya, Bu? Meteorit ini berwarna apa, Pak? Mengapa batu gamping ini berlubang-lubang?,” demikian sejumlah pertanyaan yang muncul ketika rekan disabilitas belajar dengan suasana santai didampingi pemandu museum. Mereka kemudian memberi masukan untuk pemberian tulisan Braille di sebelah objek dan penyampaian informasi dalam bentuk audio.

Arief Kurniawan selaku Subkoordinator Peragaan Museum Geologi dan pemandu Museum Geologi menjelaskan dengan sabar dan detail tiap koleksi dan memandu penyandang disabilitas untuk mengenal kerak bumi, meteorit, mineral, batuan, fosil, dan koleksi lainnya. Sementara itu, peneliti Museum Geologi, Unggul Prasetyo Wibowo, menerangkan tentang rekonstruksi dan konservasi di ruang koleksi Museum Geologi. Kegiatan itu didukung mahasiswa program studi teknik pertambangan sebagai bentuk kegiatan Kampus Merdeka Merdeka Belajar (MBKM).

 

Saling belajar

Kegiatan tersebut terbukti juga menjadi pengalaman berharga bagi para pemandu. Meski telah lebih 10 tahun bekerja di museum, mereka mengaku baru kali ini mendapat kesempatan untuk memandu penyandang disabilitas.

Para pemandu pun belajar dari peserta mengenai langkah-langkah untuk menunjukkan jalan kepada para penyandang disabilitas, yakni dengan cara mendekatkan tangan sehingga dapat dipegang oleh penyandang tunanetra. Peserta juga menunjukkan cara untuk menginformasikan mengenai adanya perbedaan elevasi lantai. Untuk mempelajari lebih lanjut soal teknik-teknik penginformasian kondisi lingkungan ke penyandang disabilitas, pihak BRSPDSN mempersilakan para pemandu museum untuk datang belajar ke lembaga mereka.

Setelah kegiatan itu, perekaman audio book telah direncanakan untuk membantu aksesibilitas informasi untuk khalayak luas. Beberapa model fosil akan dipilih untuk dapat dibuatkan tiruannya sehingga masyarakat umum dan penyandang disabilitas dapat mengetahui koleksi yang sebelumnya tersimpan di ruang penyimpanan.

Di luar itu, kegiatan kunjungan tersebut diharapkan dapat lebih mengukuhkan ITB sebagai kampus yang berbasis sains, seni, dan teknologi melalui bentuk kegiatan yang dapat diakses masyarakat umum dan penyandang disabilitas secara lebih masif. Publisitas dari kegiatan tersebut tidak hanya dapat dimanfaatkan penyandang disabilitas, tetapi juga pengunjung museum yang datang dari berbagai kalangan umur. (M-1)

 

 

Baca Juga

Dok. LX International

LX International Gandeng Sejumlah Perguruan Tinggi Kembangkan Talenta Digital

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 13 Agustus 2022, 22:48 WIB
Seluruh perguruan tinggi yang menandatangani MoU dan MoA akan menjadi ‘LearningX Academic Alliance’ untuk masing-masing area...
Dok Pribadi.

Dokter Fiza Berbagi Tips Melepas Penat dengan Rutinitas

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 13 Agustus 2022, 22:12 WIB
Dokter spesialis kulit dan kelamin, dr. Hafiza Fikri Fadel, Sp.KK berbagi resep menghilangkan kepenatan rutinitas...
ilustrasi

Terapkan Batas Saat WFH Bisa Tenangkan Jiwa

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 13 Agustus 2022, 21:23 WIB
"Ada yang namanya segregated yakni sangat dipisahkan. Dia membuat ruang-ruang sendiri sebagai boundary dia bekerja, ada tempat khusus...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya