Headline
Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.
Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER Spesialis Penyakit Dalam dr Zubairi Djurban menilai perlunya penelitian mendalam dan kerja sama seluruh pihak jika ganja atau cannabis bermanfaat mengobati penyakit tertentu sehingga bisa dimanfaatkan untuk masyarakat.
"Untuk di Indonesia tentu harus dikaji lebih dalam apakah ada manfaatnya untuk kejang, apakah ada manfaatnya untuk cerebral palsy atau sebagainya," kata Prof Zubairi saat dihubungi, Jumat (1/7).
Ada banyak dokter yang bisa mengaitkan ini terutama spesialis bedah saraf, farmakologi, dokter anak hingga dokter penyakit dalam. Perlu juga dari sisi izin kalau nilai manfaat dan bukti ilmiahnya kuat dari Badan POM.
"Dari sisi undang-undang juga harus diperbaiki, dari sisi legislatif dan saling kait mengait sehingga tidak hanya ada satu badan saja yang memutuskan," ungkapnya.
Cannabis atau ganja berbahaya jika dikonsumsi berlebihan, seperti membuat pengguna mengalami halusinasi, malas, gangguan berpikir, kesehatan mental karena kambuhnya gejala psikosis, risiko kanker paru-paru, sistem imun melemah dan sebagainya. Karena sudah diketahui sejak lama sehingga hampir semua negara di dunia melarang ganja atau cannabis.
"Di Indonesia sudah dinyatakan bahwa ganja termasuk narkotika dan tidak boleh digunakan untuk pengobatan," imbuhnya.
Saat ini, di beberapa negara diperbolehkan, seperti di Amerika Serikat yang hanya untuk mengatasi kejang-kejang berat dari penyakit tertentu saja.
Baca juga: Guru Besar UGM: Ganja Bisa Jadi Alternatif Obat, Tapi Bukan yang Utama
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (Food and Drug Administration/FDA) belum menyetujui Cannabidiol/CBD untuk penyakit kecuali satu penyakit yaitu kejang langka dan parah pada anak. Pun hingga saat ini belum jelas ada manfaat lain selain pengobatan kejang.
CBD adalah senyawa kimia yang ada dalam tanaman ganja. Zubair juga mengatakan ada dari sintetisnya yang kemudian dibuat untuk obat antimuntah. Di Amerika Serikat hanya itu saja yang menggunakan 1 tanaman ganja dan 2 dari sintetik THC untuk obat antimuntah. Sehingga di luar itu tidak ada yang diizinkan bahkan FDA telah mendapatkan laporan ada efek samping yang berat.
Selain itu, THC CBD dan ganja dalam bentuk apapun tidak boleh digunakan sama sekali untuk wanita hamil atau menyusui.
Sementara itu, untuk Australia mengizinkan penggunaan ganja lebih banyak selain untuk kejang epilepsi, bisa juga untuk masalah penyakit yang gawat, mual muntah akibat kemoterapi dan lainnya sehingga relatif lebih banyak indikasinya.
"Namun di Negeri Kangguru itu jelas sekali regulasinya jadi di luar resep dokter tidak boleh dipakai atau dimanfaatkan. Resep dari dokter itu pun harusnya dipakai di rumah dan tidak boleh dipakai di jalanan karena melanggar hukum," pungkasnya.(OL-5)
SEBUAH penemuan luar biasa datang dari tim peneliti Rusia yang berhasil menghidupkan kembali tanaman berbunga asal Siberia, Silene stenophylla, dari biji yang telah terkubur 32 ribu tahun.
Ruang lingkup kerja sama antara lain mencakup pelaksanaan penelitian bersama dalam bidang lingkungan hidup dan transisi energi serta program pemagangan bagi mahasiswa Teknik Lingkungan ITY.
Reaksi emosional selama ini kerap dianggap persoalan selera pribadi, dipengaruhi oleh DNA masing-masing individu merespons karya seni.
Para ilmuwan dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat, berhasil mendemonstrasikan bahwa kera besar memiliki kapasitas kognitif untuk "bermain pura-pura" (play pretend).
STUDI dari Spanyol melakukan sebuah penelitian untuk mencoba membantu diagnosis penyakit Alzheimer pada usia 50 tahun. Percobaan itu dilakukan dengan melakukan tes darah.
AHLI biologi dari Hebei University, Tiongkok, Ming Li bersama rekan-rekannya melakukan penelitian dan menemukan bahwa rambut bisa mendeteksi Parkinson
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved