Jumat 01 April 2022, 16:05 WIB

Pembangunan Huntap dan Huntara Penyintas Erupsi Semeru Capai 48%

Atalya Puspa | Humaniora
Pembangunan Huntap dan Huntara Penyintas Erupsi Semeru Capai 48%

ANTARA/SENO
Pekerja menyelesaikan pembangunan hunian sementara (huntara) di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jatim, Jumat (11/2/2022)

 

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memantau perkembangan pembangunan hunian tetap (huntap) dan hunian sementara (huntara) bagi para penyintas erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. BNPB bersama pemerintah daerah menargetkan mereka yang masih berada di pos-pos pengungsian dapat menempati huntap dan huntara pada tahap pertama sebelum lebaran.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal Suharyanto mengharapkan  sejumlah unit tersebut dapat selesai dengan dilengkapi infrastruktur dan fasilitas, seperti air dan listrik. Hal tersebut disampaikan saat rapat koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lumajang di lokasi relokasi, Desa Sumbermujur, pada Kamis (31/3). Pemerintah daerah memproyeksikan 300 hingga 478 unit yang dapat dirampungkan pada tahap awal ini.

"Harapannya sebagian masyarakat dapat dipindahkan di sini (relokasi) target kita paling tidak satu atau dua minggu ini 300-478 keluarga atau mereka yang masih berada di pengungsian," ujar Suharyanto dalam keterangan resmi, Jumat (1/4).

Baca juga: Tindak Kekerasan Seksual di Lingkungan Pendidikan Ancam Masa Depan Bangsa

Hingga kini, kata dia, fasilitas listrik telah tersedia dan tinggal menunggu data pelanggan. Pihak PLN akan membutuhkan waktu satu minggu untuk instalasi akhir pada sejumlah unit yang menjadi target tadi.

Sedangkan ketersediaan air, sejumlah titik telah dapat diakses. Pemenuhan target unit huntap dan huntara akan difokuskan pada blok Kamar Kajang.

Percepatan huntap dan huntara tahap pertama ini menindaklanjuti kunjungan Wakil Presiden beberapa waktu lalu. Saat itu, pesan yang diharapkan yaitu masyarakat yang masih berada di pengungsian sudah menempati huntap dan huntara sebelum lebaran.

Merespons hal tersebut, pemerintah daerah yang didukung BNPB dan kementerian terkait memiliki waktu tiga hingga empat minggu. Selain itu,  Suharyanto juga menyampaikan bahwa Presiden selalu memantau perkembangan pembangunannya.

"Bapak Presiden juga selalu memonitor pelaksanaan pembangunan huntara dan huntap ini," tambahnya.

Pada kesempatan itu Suharyanto mengatakan bahwa relokasi ini dapar menjadi contoh atau role model, seperti dari sisi kecepatan, penyiapan lahan dan segi apapun. Ini dibuktikan dengan rentang waktu penanganan darurat bencana hingga penyiapan sampai proses pembangunan saat ini.

Baca juga: Ketum PP Muhammadiyah: Ramadan Momentum Memperkuat Kesalehan Sosial

Sementara itu, BNPB mengharapkan sinergi bersama untuk mempercepat penyelesaian huntap dan huntara, termasuk dukungan lembaga-lembaga nonpemerintah atau lembaha swadaya masyarakat (LSM). Suharyanto mengatakan bahwa para lembaga itu membantu secara sukarela dan bekerja keras untuk membangun huntara.

Di sisi lain, Suharyanto menyampaikan apabila ada kendala di lapangan yang dihadapi dapat dikoordinasikan dengan BNPB maupun pemerintah daerah. Kepala BNPB mencontohkan  prediksi awal membangun huntara itu mungkin harganya akan berbeda karena faktor cuaca hujan, jaraknya jauh, tenaga kerja, atau harga material. Tercatat 55 lembaga nonpemerintah telah menyelesaikan pembangunan unit huntara.

Progres sampai dengan 30 Maret 2022 sebanyak 1.656 unit huntap dan huntara  dalam proses dibangun di 8 cluster dusun dan 115 blok hunian dengan progress fisik sebesar 48,45 persen. Dari total hunian, sebanyak 1.427 unit Risha di antaranya telah 100 persen terpasang.

Huntap dan huntara pada lahan seluas 81 hektar ini berlokasi di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Huntara yang akan dibangun berukuran 4,8 m x 6 m, sedangkan untuk huntap berukuran 6 x 6 m. Hunian tersebut dibangun pada tanah seluas 10 x 14 meter untuk setiap kepala keluarga. Pemerintah Kabupaten Lumajang memperpanjang masa transisi darurat ke pemulihan bencana selama 90 hari, terhitung 25 Maret hingga 22 Juni 2022. (H-3)

Baca Juga

MI/Dok Kedubes Australia

Kedubes Australia di Indonesia Kembali Gelar Perayaan Pekan NAIDOC

👤Basuki Eka Purnama 🕔Senin 04 Juli 2022, 13:00 WIB
“Kedutaan Besar Australia di Indonesia merayakan Pekan NAIDOC tahun ini dengan mengundang penduduk asli Australia terkemuka, David...
MI/Jamaah

Ini Perbedaan Gejala DBD, Tipus, dan Malaria

👤Basuki Eka Purnama 🕔Senin 04 Juli 2022, 12:15 WIB
Teryata ada perbedaan pada demam yang dialami penderita DBD, tifus, dan...
ANTARA/Yudhi Mahatma

Ganja Medis Hanya Alternatif Obat bukan Pilihan Utama

👤Basuki Eka Purnama 🕔Senin 04 Juli 2022, 12:00 WIB
"Urgensi ganja medis pada dunia medis sebenarnya tidak besar, lebih kepada memberikan alternatif obat, terutama jika obat-obat yang...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya