Rabu 30 Maret 2022, 14:38 WIB

Percepat Digitalisasi Kampus, Edufecta Libatkan 160 PTS di Indonesia

Mediaindonesia.com | Humaniora
Percepat Digitalisasi Kampus, Edufecta Libatkan 160 PTS di Indonesia

DOK Pribadi.
Program percepatan digitalisasi kampus ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan roadshow yang sudah dilakukan ke berbagai provinsi.

 

DUKUNGAN teknologi digital dalam proses belajar-mengajar sudah menjadi kebutuhan utama pada masa pandemi seperti sekarang. Edufecta sebagai aplikasi penyedia sistem informasi manajemen perguruan tinggi sebagai inovasi karya anak usaha dari PT IndoSterling Technomedia Tbk (TECH) berusaha mengambil peran nyata dalam mempercepat proses digitalisasi dan optimalisasi pembelajaran di perguruan tinggi di Indonesia. 

Dalam program percepatan digitalisasi kampus ini, Edufecta siap memfasilitasi 160 perguruan tinggi swasta. Program ini menjadi bagian dari kolaborasi yang sudah dilakukan dengan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI).

"Kami sadar dalam masa seperti sekarang, kebutuhan teknologi sudah menjadi keniscayaan. Di sinilah Edufecta hadir untuk memberikan solusi nyata buat kemajuan dunia pendidikan tinggi Indonesia," kata Ucu Komarudin, CEO PT Technomedia Interkom Cemerlang (Edufecta).

Ucu menjelaskan program percepatan digitalisasi kampus ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan roadshow yang sudah dilakukan ke berbagai provinsi di Indonesia pada awal tahun ini. "Dari hasil roadshow tersebut kami melihat kebutuhan aplikasi penyedia sistem informasi perguruan tinggi menjadi hal paling utama, terutama buat mendukung proses belajar mengajar di perguruan tinggi swasta yang sudah pernah kami datangi," ujarnya. 

Billy Andrian, CEO PT IndoSterling Technomedia Tbk (TECH), turut menambahkan program yang menggandeng APTISI ini memiliki nilai manfaat besar untuk membantu pengembangan pengelolaan kampus. "Sejauh ini ada lebih dari 160 perguruan tinggi swasta dapat menikmati manfaat Edufecta selama 5 tahun. Program Percepatan Digitalisasi Kampus merupakan program hibah bernilai Rp 5miliar," katanya.

Dalam memberikan dukungan itu, Edufecta menggelar soft launching yang dilakukannya melalui kegiatan Webinar Nasional pada Rabu (30/3/2022). Hadir dalam acara ini Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim beserta pimpinan dari APTISI dan semua stakeholders dunia pendidikan tinggi. Kegiatan yang digelar secara hibrida ini berlangsung di Universitas Gunadarma, Karawaci, Tangerang, Banten. 

Ketua Umum APTISI, M Budi Djatmiko, mengapresiasi langkah konkret yang telah diwujudkan melalui platform Edufecta dalam mendukung kemajuan dunia pendidikan Indonesia. Kolaborasi dengan pihak swasta, kata dia, menjadi hal utama di era seperti sekarang. "Pihak swasta menjadi salah satu komponen stakeholders penting untuk bisa memajukan dunia pendidikan kita. Rasanya kehadiran dari Edufecta menjadi respons positif yang kami sambut dengan hati lapang," kata Budi. 

Budi mengatakan program percepatan digitalisasi kampus yang dikembangkan oleh Edufecta sangat sejalan dengan Kampus Merdeka yang telah dijalankan oleh pemerintah. "Kolaborasi perguruan tinggi swasta dengan memanfaatkan Edufecta menjadi penting untuk kemajuan dunia pendidikan kita," ujarnya.

Mendikbud-Ristek Nadiem Makarim mengatakan salah satu dampak disrupsi digital yang saat ini sedang terjadi dan akan terus berlanjut yaitu perubahan kebutuhan lapangan pekerjaan. "Sampai 2030, akan ada 23 juta lapangan pekerjaan yang diganti dengan teknologi automasi yang dibarengi dengan munculnya peluang 27-46 juta pekerjaan baru dengan 10 juta di antaranya belum pernah ada. Ini tandanya kita semua harus bertransformasi. Kita tidak bisa lagi menerapkan cara pembelajaran yang sama seperti puluhan tahun lalu untuk mahasiswa kita yang menghadapi tantangan disrupsi digital," tuturnya.

Menurutnya, ratusan ribu mahasiswa di seluruh Indonesia sejak dua tahun lalu sudah berlomba-lomba untuk ikut tujuh program nasional Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) termasuk dari kampus-kampus swasta. Para mahasiswa sangat semangat untuk belajar dan mencari pengalaman di luar kampus, tetapi belum semua mendapatkan kesempatan berharga ini karena terbentur oleh sistem di kampus. 

Karena itu, ia meminta para pimpinan dan perguruan tinggi harus menggerakkan perubahan sistem manajemen kampus sehingga mahasiswa peserta MBKM akan mendapatkan hak transfer SKS untuk program yang diikutinya. "Saya yakin Ibu dan Bapak pimpinan perguruan tinggi di sini ingin para mahasiswa kita siap menghadapi tantangan masa depan. Saya berharap melalui webinar ini, Ibu dan Bapak pimpinan perguruan tinggi swasta mau berkomitmen melakukan transformasi untuk mempersiapkan generasi muda kita dengan mewujudkan merdeka belajar." (RO/OL-14)

Baca Juga

Ilustrasi

Psikolog: Teknologi Bisa Dimanfaatkan untuk Kemampuan Sosialisasi Anak

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 28 Juni 2022, 23:55 WIB
Anna mencontohkan dengan bantuan orang tua sesama anak bisa memanfaatkan gawai untuk saling...
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

47.427 Peserta Siap Ikuti Ujian Mandiri SIMAK UI 2022

👤Faustinus Nua 🕔Selasa 28 Juni 2022, 23:45 WIB
Seperti penyelenggaraan ujian pada tahun sebelumnya, ujian SIMAK UI S1 Kelas Internasional dilaksanakan lebih cepat dari ujian S1 Reguler,...
Antara

Sepekan Jelang Closing Date, 76.421 Jemaah Haji Sudah Diberangkatkan

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Selasa 28 Juni 2022, 23:02 WIB
Pada Selasa (28/6) ini, sebanyak 2.923 jemaah haji Indonesia kembali diberangkatkan. Mereka terbagi dalam tujuh kelompok terbang dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya