Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
DIGITALISASI sistem pengamanan dianggap menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan operasi hulu minyak dan gas bumi (migas) nasional. Di tengah kompleksitas risiko sosial dan keamanan di wilayah kerja migas, pemanfaatan teknologi pemantauan berbasis data dinilai mampu menekan potensi gangguan produksi sekaligus meningkatkan efisiensi biaya operasional.
Salah satu implementasi teknologi tersebut dilakukan PT Halo Indah Permai (Halo Robotics), yang mengelola sistem pemantauan udara berbasis drone dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk pengamanan. Perangkat ini diterapkan di beberapa aset operator hulu migas. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi potensi gangguan sejak dini, terutama di area operasi yang luas dan sulit dijangkau.
Co-Founder & Managing Director Halo Robotics Johannes Soekidi mengatakan, gangguan keamanan pada kegiatan hulu migas memiliki implikasi langsung terhadap kinerja bisnis, mulai dari tertundanya produksi hingga meningkatnya biaya pengamanan.
“Setiap gangguan operasional berdampak pada biaya dan potensi kehilangan produksi. Sistem pengamanan yang efektif harus mampu memberikan peringatan dini sebelum gangguan itu berkembang,” ujar Johannes dalam keterangan resmi.
Melalui drone visual dan termal yang beroperasi selama 24 jam, Halo Robotics melakukan pemantauan real time terhadap fasilitas produksi dan jalur pipa.
Teknologi AI digunakan untuk mengidentifikasi pergerakan manusia, kendaraan, kapal, hingga indikasi kebakaran atau aktivitas mencurigakan lainnya. Ketika terdeteksi anomali, sistem secara otomatis mengirimkan notifikasi ke pusat kendali untuk tindak lanjut cepat.
“Kami sudah menerapkannya di beberapa perusahaan operator di hulu migas, seperti Pertamina EP,” terang Johannes.
Dari sisi efisiensi, dia menilai penggunaan drone memberikan keunggulan dibandingkan patroli konvensional. Dengan jumlah personel yang lebih terbatas, pengawasan dapat menjangkau area yang lebih luas dan menghasilkan data yang lebih akurat untuk pengambilan keputusan operasional.
“Dengan biaya operasional yang lebih terkendali, perusahaan justru memperoleh visibilitas yang lebih baik terhadap risiko di lapangan,” kata Johannes.
Tantangan keamanan ini sebelumnya juga disampaikan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Djoko Siswanto beberapa waktu lalu. Ia menyebut dinamika sosial masyarakat dan aspek keamanan masih menjadi tantangan dalam kegiatan eksplorasi dan produksi hulu migas, di samping persoalan perizinan, rantai pasok pengadaan, kesiapan vendor nasional, serta pencapaian tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
“Beberapa waktu lalu masih terjadi hambatan gangguan operasi itu, terutama di Selat Madura,” ujarnya. (E-4)
SKK Migas menargetkan 8 proyek strategis hulu migas onstream 2026 dengan investasi US$478 juta, menambah 8.457 bopd dan 389 mmscfd.
Panitia Kerja (Panja) Lingkungan Hidup Komisi XII DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Onshore Processing Facility (OPF) Saka Indonesia Pangkah Limited (PGN SAKA) di Gresik.
SKK Migas menegaskan komitmennya memperkuat penggunaan barang dan jasa dalam negeri di sektor hulu minyak dan gas bumi.
Kegiatan first cut of steel dilakukan untuk memulai pekerjaan fabrikasi unit dehidrasi gas (Dehydration Unit/DHU) dan scrubber.
PGN SAKA berkomitmen untuk terus fokus pada penguatan operasi yang aman dan andal serta optimalisasi biaya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved