Headline

Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.

KSK Migas Targetkan 8 Proyek Hulu Migas Onstream 2026

Insi Nantika Jelita
11/2/2026 14:49
KSK Migas Targetkan 8 Proyek Hulu Migas Onstream 2026
SKK Migas menargetkan 8 proyek strategis hulu migas onstream 2026.(Antara)

KEPALA Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto (Djoksis) mengatakan sektor hulu minyak dan gas (migas) menargetkan delapan proyek strategis onstream atau mulai beroperasi pada 2026. Total nilai investasi delapan proyek tersebut mencapai US$478 juta atau setara Rp8,02 triliun (kurs Rp16.775).

Dari sisi desain kapasitas, delapan proyek itu diproyeksikan menambah kapasitas produksi sebesar 8.457 barel minyak per hari (bopd) dan 389 juta standar kaki kubik gas per hari (mmscfd), atau setara 77.968 barel setara minyak per hari (boepd).

“Kalau kita lihat, total capex dari delapan proyek tersebut mencapai US$478 juta,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI secara daring, Rabu (11/2).

Djoksis memaparkan, sejumlah proyek yang ditargetkan beroperasi pada 2026 antara lain proyek PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), yakni fasilitas produksi Lapangan Sidingin, North 1 di Rokan Hilir, Riau, dengan kapasitas 325 bopd dan kapasitas puncak (peak) yang sama.

Onstream-nya nanti di kuartal IV 2026,” kata Djoksis.

Masih di wilayah kerja PHR, terdapat proyek di area Minas, Kabupaten Siak, Riau, berkapasitas 1.212 bopd yang ditargetkan onstream pada kuartal II 2026.

Selain itu, proyek minyak lainnya berada di bawah Pertamina EP, yakni Lapangan Puspa Asri di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, yang diperkirakan menghasilkan 1.034 bopd pada kuartal IV 2026.

Adapun proyek lainnya berupa gas dan kondensat. Salah satunya berada di Donggi Senoro, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, dengan potensi produksi 2.800 barel kondensat per hari.

“Nanti onstream-nya mudah-mudahan bulan depan, setelah Lebaran,” kata Djoksis.

Proyek kondensat lainnya dikelola Pertamina Hulu Energi (PHE), yakni pengembangan Lapangan OO-OX atau proyek optimalisasi lapangan minyak dan gas di lepas pantai utara Jawa, dengan potensi hampir 3.000 barel kondensat per hari.

Untuk proyek gas, EMP Bentu Limited yang beroperasi di wilayah Riau juga ditargetkan onstream setelah Lebaran, dengan tambahan produksi gas sebesar 20 mmscfd serta potensi kondensat 90 bopd.

Selanjutnya, Proyek Suban Compressor yang dikelola Medco diproyeksikan menambah kapasitas gas sebesar 118 mmscfd untuk mempertahankan tingkat penurunan produksi (decline). Proyek ini dijadwalkan onstream pada kuartal II 2026, sekitar Mei atau Juni.

“Kemudian ada Sisi Nubi, ini Pertamina Hulu Mahakam, itu akan onstream nanti di bulan Maret. Itu sebesar 180 mmscfd,” terang Djoksis.

PSN

Kepala SKK Migas juga memaparkan perkembangan sejumlah proyek strategis nasional (PSN) sektor hulu migas yang saat ini tengah berjalan, termasuk yang masih dalam tahap tender dan persiapan keputusan investasi.

Proyek-proyek tersebut melibatkan Mubadala di Aceh, Genting Oil, BP Tangguh, Inpex, serta Eni.

“Total investasinya US$45,8 miliar atau Rp756 triliun,” jelas Djoksis.

Dari sisi produksi, keseluruhan proyek itu diproyeksikan menambah produksi minyak 105 ribu bopd serta produksi gas 4.368 mmscfd.

Untuk proyek Mubadala, pengembangan awal akan difokuskan pada Lapangan Tangkulo dengan potensi 1 triliun cubic feet (TCF). Sementara itu, total temuan di wilayah Andaman mencapai 11 TCF.

Lapangan Tangkulo ditargetkan masuk dalam plan of development (POD) pada Juni ini. Djoksis menyebut proses tender dilaksanakan paralel dengan menggunakan skema kontrak bagi hasil (PSC) gross split.

Pada proyek Genting Oil, produksi gas ditargetkan mencapai 330 mmscfd dengan tambahan kondensat 10.000 barel per hari. Nilai investasinya mencapai US$1,3 miliar. Proyek ini akan menggunakan konsep floating LNG (FLNG).

“Nanti FLNG-nya floating, ini akan menjadi konsep pertama yang akan ada di Indonesia. InsyaAllah ini bisa onstream,” ucapnya.

Proyek lainnya ialah Tangguh Ubadari, carbon capture, utilization, and storage (CCUS), dan compression atau UCC yang memiliki nilai investasi US$4,5 miliar. Progres pengerjaannya disebut telah mencapai 35% dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.

“Onstream-nya nanti 2028. Saat ini sedang progres, sudah sampai dengan 35%,” kata Djoksis.

Untuk proyek Eni, Djoksis menyampaikan final investment decision (FID) diharapkan dapat ditetapkan dalam waktu dekat.

“Ini FID-nya mudah-mudahan bulan ini juga. Tinggal satu step lagi yaitu pemasaran LNG-nya,” ungkapnya.

“Mudah-mudahan bapak Menteri ESDM (Bahlil Lahadalia) sore ini akan tanda tangan sehingga sudah segera bisa diumumkan FID-nya. Paralel kita melaksanakan tender-tendernya,” sambungnya.

Selanjutnya, proyek pengembangan lapangan gas Abadi Masela yang dikelola Inpex dijadwalkan menerima dokumen Amdal dari Kementerian Lingkungan untuk diserahkan kepada SKK Migas. Target produksi diharapkan dapat dimulai pada 2030 atau lebih cepat. Nilai investasinya hampir mencapai US$21 miliar, dengan potensi produksi kondensat 35.000 barel kondensat per hari serta kapasitas produksi gas 1.600 mmscfd.

“Dari jumlah tersebut, 150 mmscfd akan dialokasikan untuk kebutuhan domestik dan sisanya untuk LNG. Itu mudah-mudahan ini bisa groundbreaking juga sebelum Lebaran,” terangnya.

Saat ini, proyek Inpex tengah memasuki tahap tender front end engineering design (FEED) dan POD telah disetujui. Adapun FID diperkirakan menyusul pada 2026 atau 2027. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya